Aseano Samudra, entah apa yang orang tuanya pikiran kala memberi nama seorang anak dengan kata itu. Agar hati dan pikirkanya seluas samudera? atau agar orang orang mencintainya seperti orang orang mencintai keindahan lautan lepas?
Biasanya nama adal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
# # # # #
Setelah kepergian Lynda yang membawa Alyka yang sudah terlelap, Sean kembali menatap sekeliling kamar yang sudah tidak ia tempati dua tahun belakangan. Ponselnya yang sempat ia tinggalkan masih ada disana walaupun posisinya sudah berubah.
Sean mencoba menyalakan ponselnya, namun nihil. Tidak bisa, sepertinya baterai ponsel itu habis. Dia melihat sekeliling untuk mencari charger, namun juga tak kunjung dapat.
Tangannya tergerak untuk membuka lemari, Sean sedikit tersenyum tipis saat melihat baju baju yang ia tinggalkan masih tertata rapi. Ruangan ini memang tidak ada yang istimewa selain menjadi tempat Sean tidur selama ini.
Bentuknya masih sama, namun entah kenapa kamar ini terasa sangat bersih. Suara ketukan pintu membuat Sean yang awalnya sedang meninjau ruangan menatap kearah pintu.
"Sea, boleh gue masuk?" tanya orang di sebrang pintu. Tanpa harus menebak, Sean pasti tau siapa yang ada disana, Sea tau hanya dari suaranya.
Kakinya ia langkahkan untuk mendekat ke pintu dan membukanya. Ia bisa melihat Zyan dan Raka yang tersenyum menatapnya begitu pintu terbuka.
"Masuk aja" ujar Sean mempersilahkan. Tetapi begitu ruangan itu berisi 3 orang, suasana canggung begitu ketara. Bahkan mereka bingung bagaimana mengatasi rasa canggung ini.
"Ini jadi mirip malem itu" Raka membuka suara, karena keheningan 3 saudara ini begitu mengingatkannya dengan kejadian malam sebelum Sean pergi dari sana.
Mereka sempat melakukan hal yang seharusnya kakak adik lakukan, setidaknya itulah yang bisa mereka banggakan.
"Tau ga Se? waktu itu siangnya kita langsung kesana lagi sama ayah. Tapi lo udah pergi duluan, padahal ayah udah seneng banget mau lihat lo lagi"
Raka menepuk punggung adiknya pelan, kata-kata Zyan benar benar tidak bisa di filter. "Kalau kalian datengnya pagi gue masih disana" namun tidak seperti yang mereka berdua bayangkan, Sean malah menimpali ucapan Zyan.
Menurut mereka perkataan Zyan tadi sebenarnya tidak seharusnya mendapat jawaban demikian, namun selagi Sean mau menjawab ucapan mereka itu sudah menjadi suatu kebahagiaan sendiri.
Mereka mulai duduk di sembarang tempat yang bisa diduduki, "Jadi kamu memang udah rencanain dari awal?" tanya Raka penasaran.
Sean hanya mengangguk karena memang sebenarnya dia berniat pergi tanpa diketahui mereka, jadi ketika Zyan dan Raka mengantar dirinya, ia takut mereka akan datang lagi seperti yang mereka berdua katakan malam itu.