Aseano Samudra, entah apa yang orang tuanya pikiran kala memberi nama seorang anak dengan kata itu. Agar hati dan pikirkanya seluas samudera? atau agar orang orang mencintainya seperti orang orang mencintai keindahan lautan lepas?
Biasanya nama adal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
# # # # #
"Bangun pagi, gosok gigi cuci muka micek lagi"
"Harus banget nih belanja mingguan hari ini? mwager sekali" guman Sea membuka pintu kulkas yang isinya hanya tinggal beberapa sayuran dan lauk.
"Makanan semalem sisa banyak banget, sayang. Satu doang kan nih yang sarapan? masak dikit aja kali ya. Sayang bahannya juga"
"Nasi goreng mau ga ya, jujur nanggung banget harus masak sayur yang makan juga cuma satu" pikir Sea menimang nimang dua telur yang diambilnya.
"Gapapa deh, si Zyan juga ga pilih pilih makanan" lanjut Sea mulai mengambil beberapa sayuran pelengkap lain.
Sea mulai meracik bumbu dan menyiapkan perlengkapan sambil menyusun agendanya hari ini, minggu? bersantai? tidak bro ngebabu dulu.
"Jir jadi pengen" guman Sea saat aroma nasi goreng yang dia buat masuk ke lubang hidungnya sendiri. "Tenang Sea, makanan semalem masi banyak tinggal ngangetin sayang kalau dibuang" lanjutnya menyadarkan diri dan mulai memindah nasi ke piring.
Sea segera meletakan makannya di meja makanan dan menutup tudung sajinya. "Tu anak belum bangun kah?" guman Sea berjalan menaiki tangga. Bukan karena apa, takut nasinya keburu dingin dan nanti dia juga yang repot harus masakin lagi.
Tok tok tok
Tak ada balasan, ingin rasanya Sea berteriak kencang, namun bukan Sea kalau menyerah terlalu cepat. Dia kembali mengetuk pintu sampai sang pemilik kamar terusik. Hehe dan benar saja sekitar lebih dari lima menit Sea mengetuk pintu sampa tangannya pegal, pintu itu terbuka menampilkan seorang remaja yang berdiri dengan muka bantalnya.
"Sarapannya sudah siap, permisi" ucap Sea yang langsung pergi begitu saja ke kamarnya, mandi tentu saja. Hari ini banyak kegiatan. Kaget juga dia melihat wajah Zyan yang terlihat cengo, tumben ga marah. Padahal tadi dia sudah siap kena semprot.
Bahkan Zyan belum sempat menjawab, nyawanya belum terkumpul Sea sudah melangkah pergi dari sana. "Sial" gumannya lalu menutup pintu dengan kencang dan memilih mencuci muka.
"Zyan lo kenapa sih" gumannya saat melihat pantulan dirinya melalui cermin kamar mandi.
"Eh tapi kan abangnya si Zyan ga dirumah. Nanti gue belanja pake duit apa dong, pake tabungan gue gitu? iyuh ogah" ucap Sea saat ia selesai memakai baju setelah acara mandinya beberapa menit lalu.
"Masa nunggu pulang? ya kalau pulang? kalau ga?" ujarnya sambil membawa kranjang pakaian kotornya ke bawah, rencana pagi ini yang pertama adalah cuci baju, dua orang lainnya? loundry bro tenang.