AS 44

10K 519 15
                                        

# # # # #

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

# # # # #

Hal yang bahkan tidak pernah Sean harapkan sebelumnya terjadi hari ini, dia bahkan sampai bingung harus memasang ekspresi apa.

Semalam setelah terjadi beberapa perbincangan, hari ini Bagas mengambil raport semester Sean. Sd, smp, sma, jujur baru kali ini seorang Bagas mengambil raport anak bungsunya.

Sebelumnya, Bagas memang tidak tinggal bersama anak anaknya. Namun setiap semester dia selalu menyempatkan untuk mengambil raport anak anaknya, tidak dengan Sean tentu saja.

Entah apa yang terjadi saat ini, Sean bahkan sampai terdiam karena saat ini Sean tengah duduk dengan Bagas di depan wali kelasnya. Dia bahkan tidak tau harus berbuat apa sekarang.

Setelah saling mengucapkan terimakasih kepada wali kelas, Bagas dan Sean berjalan keluar dengan Bagas yang terus terusan memuji Sean atas nilai nilai yang diperolehnya.

Jujur saja, jika ini diteruskan wajah Sean akan memerah karena malu. Karena ini juga pertama kalinya dia dipuji atas prestasi yang ia dapat selain dari guru guru dan teman temannya.

"Udah om, lagian ga bagus bagus amat" Sean memang merasa biasa saja, karena dia sudah lebih dari sering, bahkan selalu mendapatkan nilai yang memuaskan.

Bagas tersenyum mengusak rambut anaknya, "Yakin? telingamu merah tuh"

"Om!!!"

Bagas semakin terkekeh, "iya iya. Anak ayah keren banget" ucapnya jujur. Apa saja yang dia lewatkan tentang anak bungsunya. Seharusnya dia tidak melewatkan satu haripun perkembangan anak anaknya.

Dia bangga pada Sean yang bisa mengukir prestasi tanpa dukungan darinya, namun disisi lain dia juga menyesal tidak berada di sisi anaknya sejak awal. Waktu tidak bisa diputar kembali, dia tau itu.

Tiba-tiba mereka harus disadarkan dengan pasangan ibu dan anak yang menyapa mereka.

"Sean?" Bintang menatap temannya dengan pandangan penuh tanya, bukan bukan lebih tepatnya menatap Bagas keheranan. Siapa pria yang berdiri di samping temannya itu??

"Bin? tante Ara" Sean langsung menyalami tangan sosok yang menjadi Ibu dari Bintang itu.

"Pak Bagas?" sapa Ara keheranan, dia sedikit tau mengenai tetangganya itu, karena jujur saja di komplek itu hanya ada sedikit interaksi.

"Bu Ara?" balas Bagas balik bertanya karena dia sendiri juga sebenarnya tidak yakin. Ara mengangguk, dia penasaran kenapa tetangganya itu bersama teman anaknya?

Aseano Samudra [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang