"Kemeja linen hijauku jangan lupa dimasukkan, Ra!" seru Arya dari dalam kamar mandi.
Zayra, yang sudah hafal betul letak semua koleksi kemeja suaminya, mengernyit mendengar permintaan itu. Lagi-lagi kemeja hijau yang membosankan itu. "Kemeja itu lagi yang mau kamu bawa, Mas?"
Bagaimana tidak bosan? Setiap ada acara atau perjalanan dinas ke luar negeri, Arya selalu meminta kemeja linen hijau yang sama. Padahal, isi lemari Arya cukup lengkap untuk membuka toko pakaian sendiri.
"Kemeja kamu kan banyak, Mas! Masa pakai yang hijau rumput itu lagi?" protes Zayra sambil melipat baju lain.
Tak lama, suara pintu kamar mandi terdengar terbuka. Arya keluar dengan rambut masih basah, menyibaknya ke belakang sambil menghela napas panjang.
"Kemeja itu lagi–itu lagi, kamu bilang? Asal kamu tahu, Ra, kemeja yang kamu sebut warnanya kayak rumput itu adalah produk paling laris sepanjang sejarah Carlo Group berdiri. Sebagai bos, aku harus bangga mengenakan simbol kesuksesan perusahaan dalam pertemuan-pertemuan penting."
"Udahlah! Kamu tinggal lipat dan masukin aja. Banyak protes banget," katanya ketus sambil mengusap rambut dengan handuk.
Zayra hanya mendengus pelan. Semakin bosan mendengar pembelaan Arya yang selalu terdengar penuh percaya diri, bahkan cenderung angkuh. Salahnya juga sih, memprotes seorang bos yang doyan bicara. Arya sudah berkali-kali menyebut kalau kemeja itu adalah produk paling laris—simbol kesuksesan, katanya. Tapi lucunya, Zayra jarang sekali melihat orang lain mengenakan kemeja hijau rumput itu.
Bukan hanya soal kemeja. Hampir semua produk Carlo Group selalu diklaim Arya laris manis. Entah Arya sedang membual atau tidak, Zayra tak lagi ambil pusing. Yang penting, uang bulanannya tetap lancar, tidak pernah telat, tidak pernah kurang.
"Udah siap, nih!" ujar Zayra sambil mendorong koper ke arah Arya, yang masih sibuk bercermin.
"Oke. Sebentar," balas Arya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam laci meja rias, lalu menyerahkannya kepada istrinya yang berdiri di belakangnya.
"Apa, nih?" tanya Zayra heran.
"Bacalah," jawab Arya santai sambil mengambil koper dari tangan Zayra dan mendorongnya ke arah pintu.
Zayra menatap surat itu dengan alis mengernyit. Suaminya yang biasanya cuek, tiba-tiba meninggalkan sebuah surat yang isinya... aturan? Ia mulai membaca,
Untuk Istriku.
Selama aku nggak ada di rumah, istriku tidak boleh melakukan:
1. Makan mie instan
2. Bepergian jauh-jauh
3. Meninggalkan agenda video call sebelum tidur
Istriku juga dilarang lupa melakukan:
1. Mengunci pintu dan jendela saat bepergian dan sebelum tidur
2. Mematikan keran air
3. Mengirim pesan singkat di awal pagi
Zayra membaca surat itu dengan mulut setengah terbuka. "Nggak jelas kamu, Mas!" gumamnya kesal, tapi juga bingung.
Apa sih maksudnya? Arya, suaminya yang biasanya tidak peduli, tiba-tiba berubah menjadi perhatian dengan cara yang aneh. Ia pergi mendadak ke Paris dan meninggalkan surat yang isinya tak masuk akal. Ini bukan Arya yang biasa ia kenal.
Kini, Zayra berdiri sendiri di kamar, memandangi surat itu dengan tatapan bingung. Suara langkah kaki Arya terdengar menjauh, diikuti suara kursi yang ditarik di meja makan di lantai bawah. Arya sudah pergi meninggalkannya bersama surat ini dan segunung pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
