Suara lonceng kecil berdenting saat Arya mendorong pintu restoran, menandai kehadirannya untuk memenuhi janji makan siang bersama temannya.
Ia melirik sekeliling, mengikuti arahan lokasi yang dikirim lewat pesan singkat. Matanya langsung menangkap sosok laki-laki bermata sipit yang tengah duduk santai sambil menikmati makanan.
"Akhirnya datang juga, lo," sapa Alfi, menyambut dengan senyum hangat yang justru terasa menyebalkan di mata Arya.
"Ya datanglah, males gua diteror terus sama jomblo," balas Arya sambil menarik kursi dan duduk.
"Eits, jangan sombong, ya, Pak Bos. Jangan asal ceplos kalau ngomong. Awas aja tahun depan nggak gue kirimin undangan," sahut Alfi, mengangkat alis dengan gaya menggoda.
"Paling juga undangan ulang tahun."
Alfi terkekeh pelan, lalu menyodorkan sesuatu dari bawah meja, sebuah undangan hard cover yang tampaknya sudah ia pangku sejak tadi.
"Nih, mantan lo buka toko berlian. Beli gih, terus bilang, ‘Yang bagus buat istri saya yang kayak apa, ya?’" ucapnya, lengkap dengan nada mengejek.
"Sialan lo," balas Arya, melemparkan undangan itu ke arah Alfi, yang dengan cepat menangkapnya tanpa ekspresi kaget sedikit pun.
"Kayaknya sih emang dia yang belum move on dari lo, ya," celetuk Alfi tiba-tiba.
Arya hanya mendengus, memilih tidak menanggapi lebih lanjut. Tapi matanya sempat tertumbuk pada nama di undangan itu. Nama yang dulu begitu akrab di hatinya. Namun sekarang? Sudah menjadi bagian dari cerita lama yang tak perlu dibuka lagi.
"Nggak peduli. Itu urusan dia. Pokoknya, semua yang berhubungan sama dia udah selesai sejak gua ngucap ijab kabul buat Zayra."
Alfi mengangkat alis, menyeringai kecil. "Iya, iya… si paling bucin sama bos kafe."
Belum sempat Arya membalas, pramusaji datang menyajikan kudapan, memutus sejenak obrolan mereka. Aroma makanan yang menggoda langsung mengisi udara.
"Berapa hari lo di sini?" tanya Alfi sambil mulai membagi piring.
Arya yang sudah mencicipi satu suapan, hanya mengangkat tangan dengan ibu jari terlipat.
"Empat hari doang? Kenapa nggak seminggu sekalian?"
"Nanti deh, seminggu, kalau bawa Zayra."
Arya menjawab sambil tersenyum kecil.
Alfi mendengus pelan. "Yah, bosen, deh." Ia membanting sendoknya ke meja, meski belum sempat digunakan.
"Anyway," lanjutnya, nada suara agak mengusik. "Lo beneran udah secepat itu berpaling ke Zayra?" Sendok yang tadi ia lempar kini diambil lagi, diputar-putar di tangan seperti tak penting.
Arya menarik napas, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Kenapa nggak? She's almost perfect. Cantik, jelas. Masakannya enak, orangnya mandiri, lucu, dan... ya, dia tahu gimana cara bikin gua puas."
Alfi spontan memutar bola mata dan menarik sebelah bibir, ekspresi jengahnya terlalu kentara.
"Nggak usah lebay, Fi." Arya tertawa pelan. "Tahun depan kita lihat. Kalau lo beneran jadi suami dan bucin, gua bakal ledekin lo tiap hari."
Alfi balas mendengus.
Keduanya tertawa kecil, obrolan mulai mereda seiring habisnya makanan dan waktu yang sudah mendekati pukul satu siang.
*_________*
Kini mereka melangkah menuju ruko yang dituju. Letaknya tidak terlalu jauh dari restoran tempat mereka makan malam tadi. Dari jarak sekitar tujuh ratus meter, keramaian di sekitar ruko sudah terlihat jelas. Awalnya Arya sempat hendak membawa mobilnya, tetapi niat itu segera diurungkan oleh Alfi yang lebih dulu menyarankan untuk berjalan kaki. Ia sudah memperkirakan bahwa area tersebut akan padat dan sulit mendapatkan tempat parkir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
