"Ra, harusnya tadi pagi kamu masuk aja ke ruanganku, meskipun kamu tahu aku lagi sama Raline," ucap Arya akhirnya, setelah beberapa menit hanya terdengar suara isakan Zayra.
Zayra mengangkat wajahnya dari dekapan Arya. Matanya yang masih basah bertemu dengan manik mata laki-laki itu. Tatapan Arya terasa teduh, membuat dada Zayra kian berdesir.
"Kalau aku masuk, nanti aku takut mengganggu kalian," jawabnya lirih.
Arya menghela napas, lalu sudut bibirnya terangkat samar. "Enggak masuk pun ternyata kamu tetap mengganggu aku."
Kening Zayra berkerut mendengar jawaban itu.
"Jam kerjaku terganggu asal kamu tahu," lanjut Arya dengan nada serius. "Sekretarisku bilang kamu keluar dari kantorku dengan mata berair. Akhirnya aku harus cari kamu ke kafe, terus ke rumah Mama. Dan ternyata, kamu nggak ada di dua tempat itu. Waktuku habis begitu aja."
Hati Zayra terasa mencelos. Kalimat itu membuatnya tidak nyaman. Ia berusaha turun dari pangkuan Arya, tapi lengan kuat lelaki itu melingkar erat di tubuhnya, menahannya seperti sabuk pengaman yang tak bisa dilepaskan.
Arya kembali bersuara, kali ini lebih lembut namun menekan. "Kenapa? Kenapa mata kamu berair tadi pagi? Kamu dengar pembicaraan aku dengan Raline?"
Enggan menjawab, Zayra justru melingkarkan kedua tangannya ke leher Arya. Ia menyandarkan dagunya di pundak sang suami, berusaha menghindar dari tatapan yang kini terasa begitu menekan. Ada takut yang perlahan menyelinap.
Namun Arya tak membiarkan dirinya bersembunyi. Tangannya menahan, lalu menarik wajah Zayra agar kembali menatap. "Zayra, jawab pertanyaanku."
"Iya…" suaranya lirih.
"Iya apa?" Arya meninggikan suara, tegas.
"Aku dengar kamu…" balas Zayra, namun semakin pelan, seolah takut pada reaksi yang akan keluar.
"Lalu?" desak Arya.
"Ih, Mas Arya! Aku nggak tahu…" suara Zayra bergetar. Kata-kata seolah tercekat di tenggorokan. Betapa sulit baginya menjelaskan alasan sederhana yang membuat matanya berkaca-kaca sejak pagi. Ia yakin, bila Arya tahu hanya sepenggal kalimat ambigu yang memicu tangisnya, lelaki itu akan menganggapnya berlebihan—bahkan mungkin mencemoohnya.
Arya menatapnya lekat, lalu menduga, "Pasti kamu nggak dengar pembicaraanku dengan Raline sampai selesai, ya?"
Zayra terdiam. Diam yang seakan jadi pengakuan. Tidak sampai selesai saja sudah membuat dadanya sesak, apalagi jika ia mendengar semuanya.
Arya menunduk sedikit, nadanya melembut namun masih menuntut. "Pembicaraan bagian mana yang bisa bikin mata kamu berair, Ra?"
Zayra kembali bungkam. Air matanya menggantung di pelupuk. Sesungguhnya bukan hanya ucapan Arya dengan Raline yang menusuk hatinya pagi tadi. Ada hal lain yang jauh lebih berat, yakni kenyataan bahwa Arya masih sering berkirim pesan diam-diam di belakangnya. Fakta itulah yang benar-benar meruntuhkan hatinya hari ini.
"Zayra, aku tanya, tolong dijawab..."
Lelah mendengar pertanyaan Arya yang tak kunjung berhenti, Zayra akhirnya memilih untuk jujur. "Kamu masih sering kirim pesan sama Raline, kan? Terus aku juga dengar kamu pernah sering curhat berdua di apartemen dia sebelum kita menikah."
Arya menghela napas, lalu menatapnya. "Begitu? Kayaknya otak kamu memang hobi banget mikirin yang aneh-aneh, ya." ucapnya seraya menyentil lembut dahi Zayra.
Tangan Arya langsung ditepis Zayra dengan kasar. Bibirnya mengerucut, menahan rasa kesal yang mengganjal di dadanya. "Namanya perempuan dan laki-laki, kalau berduaan itu suka ada aja kemungkinan khilafnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
