Tiga Puluh Satu

38.8K 1.7K 3
                                        

Zayra langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Arya yang tampak asyik membuka jendela, mengizinkan angin malam untuk masuk ke kamar mereka. Karena tidak ada baju ganti untuknya dipakai, maka ia tetap melanjutkan tidurnya nanti dengan memakai midi dress navy yang sudah dipakai dari sore.

Begitu keluar dari kamar mandi, ia tak melihat Arya dimanapun. Jendela masih dibiarkan terbuka. Segera ia beranjak ke ranjang, bersiap merebahkan diri. Namun suara dari jendela mengusiknya. Seakan memanggilnya untuk dihampiri.

"Mas?"

"Aku tutup, nih, jendelanya!"

Sadar sepertinya ia berbicara sendiri, ia membalikkan tubuhnya. Seketika terasa sentuhan dipundaknya, sedikit membuatnya agak berjengit.

"Buat kamu." Arya yang entah darimana, tiba-tiba datang kembali ke kamar membawa bunga-bunga liar yang dikumpulkan dalam satu ikat. Lebih terkejutnya lagi, tali yang digunakan untuk mengikat bunga-bunga itu adalah ikat rambut miliknya. Pasti, Arya mengambil ikat rambut dari dashboard mobil yang sengaja ia simpan.

Ia melihat dengan seksama bagaimana ekspresi laki-laki itu yang entah mengapa malam ini ada-ada saja tingkahnya.

Seseorang memberi bunga di tengah malam dan berjongkok di jendela, apakah ada yang lebih aneh dari laki-laki dihadapannya kini?

"Diterima dong, Ra. Kamu nggak menghargai aku banget." Sinisnya dengan memindahkan paksa bunga tersebut pada tangannya.

"Kamu kenapa sih, Mas?"

"Terima kasih dulu."

"Terima kasih, ya."

"Ya, sama-sama."

Kemudian Arya menjatuhkan diri dari atas jendela. Menutup rapat-rapat jendela beserta gorden. Didorongnya tubuhnya oleh laki-laki itu menuju kasur. Lalu, ia pergi ke kamar mandi.

*___*

Jika dipersenkan maka Zayra sudah hampir sepuluh persen lagi untuk menuju ke alam mimpi. Tapi Arya mengacaukan tidurnya. Laki-laki itu seenaknya menyentuh punggungnya. Memberi usapan lembut yang membuatnya seketika meremang.

Terdengar oleh telinganya bahwa resleting pakaiannya seperti sedang diturunkan.

"Rambut kamu harumnya beda." Arya berucap seraya menjatuhkan wajah di belakang leher sang istri.

"Di supermarket waktu itu, shampo yang biasa aku pakai lagi nggak ada, jadi pakai varian lain."

Arya menarik tubuhnya semakin mendekat. Sementara itu lidah Arya dengan lihai mencecap lehernya. Membangkitkan gairahnya sedikit demi sedikit. Kantuk yang tadi menyerangnya menguap tak kembali.

Tangan Arya bergerak perlahan dari punggung ke area depan tubuh perempuan yang kini mulai mengalunkan desahnya. Menurunkan midi dress hingga terlepas dari tubuhnya. Mengusap perut dan paha secara bergantian.

Ya ampun! Ia selalu menyukai Arya yang penuh kelembutan seperti ini.

Ditariknya wajah Arya yang masih asyik area tengkuknya untuk ia lesakkan lidahnya yang mendamba ciuman laki-laki itu.

Tangannya juga tidak mau kalah untuk bisa seperti Arya. Maka ia mengangkat kemeja agar bisa terlepas dari tubuh laki-laki itu. Dengan bibir keduanya yang masih menempel erat.

"Ada kancingnya, Sayang." Ucap Arya melepaskan ciumannya ketika sadar bahwa Zayra kesulitan membuka pakaiannya.

Dengan napas yang masih memburu, Zayra tertawa kecil. Ia memang agaknya terlalu terburu-buru untuk melihat tubuh tampan milik Arya.

Langsung ia letakkan telapak tangannya pada dada bidang Arya. Sedang laki-laki itu terdiam memperhatikan Zayra yang menurut pandangannya, perempuan itu selalu bertambah cantik jika sedang seperti ini.

"Aku nggak minta bunga." Ujar Zayra.

"Tapi aku lagi mau kasih bunga." Balasnya dengan tangan yang ia arahkan pada kaitan bra sang istri untuk ia buka.

"Nanti kamu kena sanksi nggak, sembarangan ambil bunga di area hotel."

"Kalau kena pun akan aku hadapi sanksinya."

Berhasil melepas kaitan, ia melempar bra cokelat muda kesayangan Zayra. Mengusap perlahan payudara padat dihadapannya. Zayra langsung memejamkan mata ketika jari-jari Arya memutari area putingnya.

"Bunganya bagus, Mas." Ucapnya seraya mengalihkan tatapan dari Arya.

Laki-laki itu masih tidak berubah pandangan matanya pada ekspresi sang istri. Zayra sedikit malu dibuatnya. Pasalnya ia tidak bisa mengontrol ekspresi saat sedang diperlakukan seperti ini.

"Iya, bunganya cantik-cantik, kayak yang nerima."

Zayra tidak bisa mengucapkan apapun lagi, ketika Arya dengan santainya membalas pernyataannya dengan kalimat yang terdengar gombal. Ia ingin mendesah sekencang mungkin saat Arya mulai menggunakan mulutnya untuk mencecap puting yang sudah tegak berdiri karena menerima rangsangan.

Ini luar biasa! Tubuhnya berdenyut hebat, terutama bagian bawah yang terapit paha. Arya tak henti menyesap payudaranya bergantian.

Sebelah tangan laki-laki itu diarahkan pada kedua pahanya. Untuk laki-laki itu renggangkan pahanya yang menempel karena menahan kedutan vagina yang hebat.

Kembali tangannya mengusap area pangkal paha kemudian perlahan masuk lebih dalam ke area inti.

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

Arya seketika bangun dari tubuhnya, terduduk untuk kemudian melepas resleting celana bahannya. Tak lama ia berada dalam kungkungan Arya, merasai sesuatu yang akan masuk di bawah sana.

Meski sudah sering ia merasakan hal ini, namun tangannya seakan selalu berada di mode pertahanan. Mencengkram erat pundak Arya, seolah mengirim rasa sakit yang ia rasakan pada pundak Arya.

Keintiman ini terasa sangat menggairahkan. Air conditioner central pada ruangan ini menjadi campur aduk rasanya karena ia berkeringat.

"Zayra..." Arya bersuara tatkala telah menenggelamkan organ intimnya pada kewanitaan milik Zayra.

Laki-laki itu mengerang hebat saat Zayra menggerakkan tubuhnya. Seolah menyetrum organ intimnya untuk segera bergerak bebas didalam sana.

Peluh keringat membanjiri keduanya saat gerakan yang tercipta diantaranya semakin keras menimbulkan suara.

Zayra selalu memejamkan mata ketika Arya berhasil memporak-porandakan tubuhnya. Organ intimnya didesak hebat untuk menampung milik Arya yang cukup besar. Begitu pun tangan Arya yang menjamah seluruh tubuhnya.

Tidak tertinggal ciuman panas yang selalu ia nantikan akhirnya ikut jadi bagian kenikmatan yang laki-laki itu berikan.

Arya dengan kenikmatan yang diberikannya tidak ada yang menandingi.

"Bunga tadi kalah indah sama kamu, Ra."

Rambutnya yang kusut masai dirapikan oleh Arya begitu keduanya berhenti bergerak, membuat wajahnya yang tadi tertutup rambut kini terlihat jelas di pandangan Arya. Zayra tidak tahan untuk mencium tangan Arya yang hinggap di pipinya.

Melihat sang istri yang rasanya masih berada dalam mode bernafsu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Ia tertarik melakukan sesuatu.

"Mau coba woman on top?"

"Kira-kira aku bisa nggak?" Jawaban Zayra justru mengejutkan Arya. Ia kira Zayra akan marah padanya karena menawarkan sesuatu yang menyenangkan versi lain.

"Pasti bisa. Istriku selalu bisa apapun." Arya segera merebahkan dirinya seraya mengangkat tubuh Zayra untuk duduk diatasnya.

Memulai kembali kegiatan panas dengan posisi yang Arya rasa akan dua kali lipat lebih panas dari semula.

"Sebelas bulan yang membawa banyak perubahan ya, Ra." Ujar Arya dengan tangannya yang menarik tubuh Zayra untuk dikecupnya bibir manis nan lembut.






Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang