Zayra tengah duduk bersama tim spesialis media sosial dan pemasaran, sibuk mengedit video yang akan dipublikasikan di akun resmi kafe. Tiga hari setelah unggahan video "bagi-bagi kopi" yang digagas Risti, jumlah pesanan meningkat lebih banyak dari biasanya.
Beberapa pelanggan bahkan memesan dengan maksud serupa seperti Risti, mendistribusikan kopi secara gratis. Ada pula yang meminta penjadwalan khusus untuk membagikan kopi di sejumlah masjid sekitar kafe.
Kini, Zayra berada di ruang rapat setelah sebelumnya menyalurkan ratusan gelas kopi kepada jamaah masjid seusai salat Jumat. Dalam hati, ia merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada Risti, yang tanpa disadari telah membawa begitu banyak pelanggan baru bagi kafenya. Suara notifikasi pesan di ponselnya membuatnya segera membuka dan membacanya.
From: Arya Suamiku
Pulang jam berapa?
Pagi itu, Arya mengajaknya ke sebuah toko baju yang menggunakan Carlo Group sebagai pemasok utama. Katanya, ada seorang fashion designer yang sedang melamar di sana. Sayangnya, toko itu tidak memproduksi sendiri pakaian yang dijual, hanya mengandalkan pasokan dari Carlo Group.
Kebetulan, Arya memang sedang mencari fashion designer untuk merancang gaun pengantin pesanan salah satu kliennya. Ia sempat menjelaskan bahwa sebenarnya Carlo Group tidak memproduksi gaun pengantin secara resmi. Gaun hanya dibuat bila ada permintaan khusus dari klien atau pelanggan istimewa mereka.
Yang lebih mengejutkan, fashion designer yang melamar itu ternyata cukup populer di kalangan penyanyi tanah air, dikenal dengan rancangan bajunya yang unik dan memikat. Karena itu, Arya memutuskan untuk merekrutnya. Namun, satu hal masih terasa janggal, mengapa laki-laki itu justru mengajaknya ikut serta?
To: Arya Suamiku
Aku kayanya lembur, deh. Aku nggak ikut, ya.
Arya tidak membalas pesan itu, bahkan membacanya pun tidak. Ia memilih untuk mengabaikannya.
Sebagai gantinya, ia kembali fokus membantu rekannya, yang sejak dua jam lalu belum juga melepaskan pandangan dari layar laptop di hadapannya.
*___*
Di tengah rapat padat yang membahas peluncuran produk baru, Arya justru sempat-sempatnya meminta Pak Kardi membersihkan lemari di ruang kerjanya. Alasannya sederhana, ia ingin merombak ruang itu dengan desain baru yang lebih segar. Lemari tersebut sebenarnya tidak pernah benar-benar ia gunakan sejak pertama kali menempati ruangan ini. Isinya yang menumpuk membuatnya enggan, bahkan sekadar untuk membukanya.
Namun, ada sesuatu yang menarik dari kegiatan membersihkan lemari itu. Bersama Pak Kardi, Arya menemukan sebuah album foto milik almarhum ayahnya. Di dalamnya, tersimpan berbagai kenangan. Ada foto sang ayah bersama para klien, potret ayah ketika menerima penghargaan, hingga lembar-lembar foto yang memperlihatkan ibunya di masa muda. Arya baru pertama kali melihat album ini. Hesti—sang ibu—tampak begitu anggun, mungkin saat itu usianya masih belia, jauh sebelum mereka memiliki anak.
Yang paling menyentuh hati, di bagian belakang album, terselip dua lembar foto pernikahan orang tuanya. Sang ibu berdiri anggun dengan gaun pengantin, sementara sang ayah mengenakan tuksedo hitam di depan gedung perusahaan. Tepat di bawah foto itu tertulis kalimat sederhana namun penuh makna, My Precious Woman.
Arya tahu betul, kisah pernikahan kedua orang tuanya tidak diawali dengan cinta. Hesti menikah hanya demi melanjutkan hidup, setelah hatinya hancur dicampakkan oleh lelaki lain. Namun, siapa yang menyangka, keterpurukan itu justru disembuhkan oleh sosok ayahnya, lelaki yang dengan tulus memberikan cinta besar pada sang ibu. Keyakinan itulah yang selalu membuat Arya percaya, rasa kasih sayang mendiang ayahnya kepada Hesti begitu dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomantikMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
