Tiga Puluh Enam

33.5K 1.7K 6
                                    

Tepat jam lima sore, Zayra keluar dari kerumunan pengunjung, menarik serta Kalila untuk ia ajak ke suatu tempat. Dipesannya taksi menuju alamat yang sudah ia hafal luar kepala. Tanpa menghubungi terlebih dahulu orang yang akan dikunjunginya, ia nekat datang.

Namun, ia mampir terlebih dahulu ke sebuah bakery shop milik teman karibnya.

Lov's Bakery
Menyediakan Roti dan Hidangan Kue yang Diciptakan Dengan Cinta.

"Lucu banget ya Mbak, toko rotinya." Celetuk Kalila begitu menginjakkan kaki di dalam toko.

"Iya! Yang punya tokonya malah lebih lucu."

Zayra menuju meja resepsionis, bertanya kepada seorang pegawai. Ia ingin bertemu dengan si pemilik toko.

"Mbak Ara!" Lovita si pemilik toko terlihat turun dari tangga. Mengenakan baju terusan merah muda dan ikat pinggang bunga, masih dengan gaya rambut khasnya, bob berponi. How cute she is!

Zayra langsung memeluk erat salah satu teman kesayangannya saat masih menjadi anak rantau di kota ini.

"Mbak sama siapa kesini?"

"Kalila, temanku di kafe." Zayra memberi unjuk Kalila untuk bersapa ria.

"Roti isi tiramisunya habis. Tapi aku ada buat varian tiramisu lain yang dicampur sama chococips, Mbak mau coba nggak?" Lovita melaporkan salah satu roti favoritnya di toko ini.

"Boleh, aku pesan semua yang jadi varian favorit disini, ya, Lov."

Lovita mengangkat dua jempolnya seraya melaporkan pada karyawannya untuk segera membungkus pesanannya.

Beberapa menit keduanya berbincang. Sampai pegawai datang membawa pesanannya. Ia lekas berpamitan pada Lovita bahwa ia juga akan mengunjungi rumah ibu Wina selalu pemilik kos tempat dulu ia tinggal.

"Rumahnya Ibu Wina megah banget ya, Mbak." Ucap Kalila begitu sampai di depan gerbang rumah yang dituju.

Begitu pintu dibuka setelah ia menekan bel, tampak seorang lelaki tua tengah menggunting rumput di pekarangan. Ia diam saja, tidak menegur pun menyapa, menunggu lelaki tua itu sadar dengan sendirinya.

Mungkin tiga menit ia berdiri, tanpa masuk ke dalam gerbang yang sudah dibuka. Seorang perempuan berdaster biru tua datang dari dalam.

"Ya Allah Mas! Ada tamu itu lho, kok nggak disuruh masuk?"

Aryo-lelaki tua-itu bangun dari membungkuknya, memasang raut terkejut ketika melihat dirinya.

"Lho? Zayra?" Aryo langsung memeluknya di depan Kalila dan perempuan tua. Kemudian bergantian dengan sang istri untuk memeluknya.

Dipersilakannya ia dan Kalila masuk. Kedua orang itu sudah tampak terlihat tua dari yang ia lihat biasanya bertahun-tahun yang lalu.

"Suamimu nggak diajak kesini?" Tanya Ibu Wina.

"Lagi kerja, Bu."

"Kok kamu nggak buatin minum?" Ibu Wina bertanya pada suaminya.

"Kamu aja yang buat minumnya." Jawab Pak Aryo.

Call It What You Want (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang