Begitu tiba di kantor, Arya mendapati Raline sudah menunggunya di depan pintu ruangannya. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Pagi yang semestinya cerah, kini ia tahu akan berubah menjadi sedikit rungsing.
Tanpa banyak kata, Arya mempersilakan Raline masuk.
"Beberapa hari lagi aku balik ke Paris," buka Raline seraya menarik kursi di depannya. "Sebelum berangkat, dan pastinya akan sulit buat aku dapat kabar kamu kalau sudah di sana, aku cuma mau tanya soal acara yang kamu bilang di pesan semalam. Acara launching kolaborasi. Kamu adakan kapan, Ar? Supaya aku bisa luangkan waktu buat datang."
Arya mengerutkan dahi, nada suaranya cenderung terdengar dingin. "Itu acara biasa aja, Line. Nggak sepenting itu buat kamu sampai harus datang ke sini cuma untuk menanyakannya. Kenapa, nggak ada hal lain yang lebih berharga untuk kamu tanyakan?"
"Aku cuma tanya, Ar." Suara Raline terdengar pelan, tapi tetap menyimpan desakan.
Arya mengalihkan pandangan, melangkah menuju sisi jendela, tempat favorit Zayra ketika sesekali menemaninya di kantor. Dari balik kaca lebar itu, kota Malang terlihat sibuk. Namun benaknya justru semakin riuh.
"Kamu bisa kirim pesan atau telepon aku, Line," katanya akhirnya, tetap membelakangi perempuan itu. "Nggak perlu repot-repot datang ke kantorku seperti ini."
Raline melangkah mendekat, mengikuti arah gerak Arya yang berdiri di sisi jendela. "Aku udah kirim pesan dari semalam, Ar," ucapnya dengan nada menuntut. "Nggak lama setelah kita bertukar pesan. Tapi kamu nggak balas sampai sekarang."
Arya menarik napas, menahan diri. "Terus apa gunanya kamu datang hanya untuk nanya soal itu? Acara kolaborasi ini cuma launching baju seperti biasanya, Line. Betul-betul biasa saja."
"Biasa saja?" Raline mengulang kata-kata itu dengan tatapan menusuk. "Aku masih ingat jelas, dua tahun lalu kamu begitu ngotot supaya desain baju ini diproduksi. Kamu pengin baju tersebut hingga ditahap didistribusikan dan dipakai oleh dipakai anak-anak muda. Kamu bilang sendiri, desain ini gaya kamu banget. Tapi beberapa petinggi perusahaan menolak ide itu. Katanya aneh, terlalu old, dan nggak kekinian."
Raline melipat tangannya di dada, menatap Arya dengan sorot penuh kecewa. "Dan sekarang? Kamu berhasil melahirkan produk yang katanya gaya kamu banget. Kamu pikir aku nggak turut andil dan nggak berhak jadi bagian dari pencapaianmu? Kamu pikir wajar kalau aku nggak boleh tahu kapan launching produkmu, apalagi itu kolaborasi dengan kafe istri kamu?"
"Andil? Kamu nggak ada peran apa-apa terhadap produk ini, Line."
"Lupa?! Justru kamu yang selalu datang ke aku setiap kali dapat teguran dari atasan, setiap kali idemu ditolak karena dianggap aneh. Aku yang jadi tempat kamu buang semua keluh kesah itu, Ar! Bahkan sampai kamu rela ambil cuti dua hari cuma untuk nongkrong di apartemenku, hanya buat cerita ini-itu sama aku. Dan jangan lupa, waktu itu kita nggak cuma sekadar bercerita, kan? Kamu benar-benar lupa, hah?!"
Arya terdiam, menutup mulutnya rapat. Ia tidak menyangka Raline akan membeberkan hal itu. "Jadi, begini ujungnya kalau berteman dengan lawan jenis, Line? Aku anggap kamu sebatas sahabat, sama seperti aku menganggap Alfi. Saat itu... kamu pikir kita apa, kalau bukan teman?"
Raline terdiam sesaat, lalu menarik napas panjang sebelum bersuara lagi. "Memangnya ada teman lawan jenis yang setiap saat sering berpelukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomantikMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
