"Aku udah di kantormu, Ar. Bisa kita ketemu sebentar?"
"Enggak lama kok, Ar."
"Aku mohon Ar, sebentar aja."
Dia telah tiba di kantor Arya, seorang diri. Meminta pertemuan singkat yang sayangnya tak mendapatkan persetujuan dari pimpinan perusahaan tempatnya kini berdiri.
"Bagaimana, Bu Raline? Bapak tetap tidak bisa, bukan?" Resepsionis yang dulu begitu ramah kini tampak angkuh. Padahal, perempuan itu dulunya tak pernah lupa menyambut Raline dengan senyum dan sapa hangat setiap kali ia datang ke kantor ini.
Segalanya telah berubah!
Ia berbalik, matanya mencari pintu keluar. Napasnya memburu, seperti harimau yang kehilangan mangsa. Amarah menyesak di dada, ditahannya agar tak meledak.
Ia telah menempuh jarak ratusan kilometer dari Jakarta ke Malang hanya untuk bertemu dengan laki-laki itu. Tapi mengapa begitu sulit baginya meluangkan sedikit saja waktu? Hanya sebentar, lima belas menit pun rasanya cukup untuk membayar lelah dan penantian panjang yang ia bawa dalam perjalanan ini.
Namun, Raline bukan perempuan yang mudah menyerah. Ia masih punya rencana cadangan.
Alamat rumah Arya sudah ada di tangannya, hasil dari sedikit bantuan satpam perusahaan yang mudah diluluhkan oleh beberapa lembar uang dan sekotak makanan gratis.
Tak mengapa, pikirnya. Sedikit sogokan pada rakyat kecil bukanlah dosa besar. Selama tujuannya tercapai, ia tak keberatan mengotori tangan.
Ia telah menyewa mobil sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Dan kini, ia duduk di dalamnya, melaju menuju rumah Arya Pangestu—mantan calon suaminya.
Sejujurnya, ia sendiri tak paham dengan kelakuannya yang terkesan gila, meninggalkan pekerjaannya di toko hanya demi mengejar laki-laki yang telah memutuskan hubungan mereka. Padahal, ia tahu persis alasan Arya membatalkan rencana pernikahan itu.
Namun tetap saja, ada satu hal yang terus mengganjal. Sebuah pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab, dan makin lama makin menghantuinya. Raline bisa gila jika tak segera menemukan jawabannya.
Bagaimana mungkin Arya Pangestu dengan begitu mudahnya menikahi perempuan lain—seseorang yang bahkan baru dikenalnya dua minggu setelah membatalkan pernikahan mereka? How could he?
Yang membuat Raline terus bertanya-tanya bukan hanya soal pernikahan kilat itu, tapi juga alasan di baliknya. Apakah Arya benar-benar mencintai istrinya sekarang? Ataukah ia hanya sekadar menikahi perempuan itu karena alasan yang tak pernah Raline pahami?
Yang Raline inginkan sekarang hanyalah jawaban. Entah itu keluar dari mulut Arya langsung, atau dari siapa pun dan apa pun yang bisa memberinya kepastian, ia akan menerimanya.
Kembali pada dirinya sendiri, Raline sebenarnya paham alasan di balik kepergian Arya, sahabat yang diam-diam begitu ia cintai. Semua itu berakar dari satu sosok, yakni ayahnya. Pria sinting yang telah merusak banyak hal, termasuk rencana masa depan Raline.
Sudah entah berapa kali ia bertanya dalam hati, mengapa takdir menjadikannya anak dari laki-laki sebusuk itu?
Andai saja ia tahu sejak awal tentang kebejatan ayahnya, mungkin ia akan memilih mundur secara sukarela. Atau setidaknya, berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya demi menjaga hubungan pertemanan mereka tetap utuh.
Mobil yang ia tumpangi mulai melambat. Sepertinya ia telah sampai di tempat tujuan. Komplek perumahan ini tampak tenang dan asri, sangat berbeda dari hiruk pikuk yang selama ini mengisi kepalanya.
Rumah yang kini berdiri di hadapannya pun tampak nyaman, nyaris sempurna. Rumah impian, pikir Raline. Laki-laki itu benar-benar sudah memiliki segalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomansMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
