"Coba cari film lain, Ra. Itu nggak asyik." Arya bersuara sambil menyandarkan punggung ke sofa bed. Zayra, yang dari tadi sudah bersungut-sungut, menoleh dengan kesal.
"Jangan yang itu, ganti lagi." Arya masih belum puas.
"Skip aja, Ra. Kelihatan banget bosenin."
Zayra akhirnya menatap tajam ke arah suaminya yang tampak santai dan terlalu banyak tuntutan. "Nih, kamu pilih sendiri aja!" Ia memundurkan tubuhnya dari layar TV dan menyodorkan remote ke Arya.
"Ck! Cari film aja nggak becus, Ra... Ra..."
"Bukan nggak becus! Masalahnya, selera kamu itu nggak jelas, Mas!" Zayra membalas sengit. Ia tak terima disebut tidak becus hanya karena belum bisa menebak film seperti apa yang diinginkan Arya.
Arya akhirnya berhenti mengoceh. "Ini baru bagus. Alfi pernah bilang film ini recommended buat ditonton bareng pasangan."
Zayra mendekat lagi, berusaha nyaman di sisi Arya. Tangannya mengambil beberapa butir kacang dari mangkuk camilan yang tengah didekap erat oleh sang suami.
"Ck! Ganggu aja," ujar Arya sinis, sedikit menjauh dari istrinya.
"Aku cuma minta sedikit." Nada Zayra terdengar manja.
Keduanya mulai larut dalam alur cerita film yang menegangkan, meski masih saling tarik-menarik soal camilan favorit.
Arya masih setia menatap ke layar saat Zayra sudah bersiap-siap melempar bantal sofa ke arah suaminya yang ternyata menonton film mesum.
"Ini nggak recommended! Ini film mesum! Dasar Mas Arya mesum! Aku nggak mau nonton film ini!" serunya penuh amarah.
"Ra! Apaan, sih! Ganggu banget!" protes Arya, kesal karena terganggu.
"Ganti nggak filmnya?!"
"TV punya siapa? Netflix siapa yang dipakai? Ya suka-suka akulah mau nonton film yang kayak gimana!" balas Arya, keras kepala.
Zayra menghembuskan napas dengan kesal. Ia bangkit berdiri dan berusaha mematikan layar kaca yang membuatnya jijik setengah mati.
"Ra!" tegur Arya lagi.
Arya lalu merebahkan tubuhnya setelah hampir satu jam duduk bersandar di sofa.
"Ya udah, aku bisa lanjut nonton itu nanti malam kalau kamu udah tidur," ujarnya santai.
Zayra langsung menjatuhkan diri di atas tubuh Arya yang kini telentang. Ia menutup wajah suaminya dengan telapak tangannya, menjadikan tubuh Arya sebagai tumpuan tubuhnya.
"Kamu mau bunuh aku?!" Arya memberontak di bawah kungkungan tangan istrinya.
"Habisnya kamu nyebelin!" seru Zayra.
Arya berhenti memberontak. "Satu menit lagi kamu bakal kehilangan suami tercinta kamu," ucapnya datar.
Zayra perlahan melonggarkan telapak tangannya. Tampak Arya mengintip dari celah jari-jarinya. Keduanya saling bertatapan sengit. Hembusan napas Arya yang sengaja disemburkan di antara celah tangan Zayra membuat perempuan itu semakin gemas. Ia akhirnya benar-benar melepaskan tangannya dari wajah suaminya.
"Aku mau tidur begini sampai pagi," gumam Zayra sambil menyandarkan diri di dada Arya.
Arya menghela napas pelan. "Besok badan kita bisa pegal semua, loh."
Zayra menenggelamkan wajahnya ke lekuk leher Arya. "Kalau nggak kayak gini, kamu pasti bangun terus nonton film itu lagi," bisiknya pelan.
Arya tertawa kecil. Yang benar saja. Ucapan soal menonton ulang film itu cuma candaan. Mana mungkin ia sungguh-sungguh melakukan hal unfaedah seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
