Zayra baru saja bebersih diri sepulangnya dari kafe. Kini ia di dapur untuk memasak mie instan karena perutnya sudah memanggil minta makan.Dirinya baru pulang usai lembur dengan pegawainya. Mencari penyelesaian untuk masalah yang menimpa ia dan timnya membuat dirinya melakukan diskusi setelah closing-an.
Huh.
Sebetulnya masalah ini hanya terkait rating dan ulasan yang tiba-tiba turun di website resmi kafe dan beberapa jasa layanan online. Hal tersebut belum diketahui secara pasti dan spesifik mengapa orang-orang dengan serentak memberikan penilaian negatif serta meninggalkan jejak komentar di akun sosial media kafe.
Satu dua pengunjung tetap datang di bawah badai yang menerjang Garden Cafe. Ia sebagai owner terus menekankan kinerja tim yang baik pada pegawainya. Layanan pada pelanggan tetap harus prima dan kualitas hidangan kafe harus tetap nikmat seperti biasa.
Air di kompor mendidih, ia berhenti memikirkan urusan kafe. Karena mie instan ini harus segera matang.
Sembari menunggu mie matang, ia mengambil jus jambu biji dari dalam kulkas, menuangnya ke gelas. Matanya sempat melihat, di dalam kulkas ada cemilan kacang kulit kupas yang bungkusnya di lipat sangat rapi. Makanan itu di taruh di belakang tempat bawang merah. Hampir tidak terlihat jika tidak begitu di perhatikan.
Makanan itu termasuk cemilan favorit suaminya. Sepertinya sengaja di sembunyikan. Biasanya di taruh di dalam toples lalu di masukkan ke dalan kitche set menyatu dengan perbumbuan yang jarang ia pakai.
Menaruhnya di balik tempat bawang mungkin dirasanya tidak akan terlihat oleh penghuni rumah selain laki-laki itu.
Zayra terkikik membayangkan bagaimana Arya yang berusaha mencari tempat persembunyian untuk kacang kesayangannya.
Arya bilang kacang itu bukan hanya sekedar cemilan favoritnya. Namun, kacang sudah dianggapnya sebagai teman. Karena di beberapa momen kacang itu ia upayakan untuk ada.
Awal menikah, Zayra seringkali di titipkan kacang itu jika sedang bepergian ke supermarket atau swalayan. Sampai ia penasaran lalu mencobanya sedikit dan ternyata rasanya memang enak. Renyah dan gurih.
Di beberapa kesempatan Zayra suka mengambil kacang itu. Sampai ia tidak sadar pernah menghabiskan kacang itu yang berujung di marahi Arya.
Ah, laki-laki itu memang menyebalkan. Semenjak kejadian ia menghabisi kacang itu, Zayra jarang sekali bisa mengambil cemilan favorit Arya. Bahkan tak segan-segan Arya memakannya sendirian tanpa repot mau berbagi dengannya ketika mereka menonton serial movie di Netflix.
Diambilnya kacang itu dari tempat persembunyiannya. Membuka bungkusnya lalu memakannya perlahan. Kurang enak. Karena dingin.
Ia kemudian menaruhnya di tengah meja makan untuk menetralkan suhu ruang agar enak di makan kembali.
Astaga!
Ia lekas menuju kompor yang tengah mematangkan mie nya. Ini bukan lagi mematangkan mie. Tapi juga mematangkan pancinya.
Terlalu banyak melamun tentang kacang dan suaminya. Mie instan ini jadi malang nasibnya. Kalau saja Arya ada disini saat ini, habislah ia dengan berbagai perkataan yang keluar dari mulut cerewetnya itu. Arya tentulah menyuruh Zayra untuk ikut memakan serta panci yang telah berganti warna menjadi hitam.
Tak apalah. Meski benyek dan hampir hancur ia tetap memakannya.
Sekedar mie yang super kematangan ini bukanlah menjadi suatu masalah yang berat baginya. Untung saja tuhan masih menyelamatkannya sebelum kompor itu meledak.
Ia pernah kok, makan nasi yang sudah benyek dan berbau sewaktu pertama kali merantau ke Jakarta dan tak punya uang untuk membeli makan, yang berujung ia mencari sisa nasi di tong sampah kos-kosannya. Tidak apa. Dengan nasi itu justru mengantarkan dirinya sampai menjadi owner kafe.
Ia juga pernah di jejali nasi bekas pelanggan sewaktu ia bekerja di sebuah restoran fastfood sebagai pramusaji, karena melakukan setitik kesalahan yang justru kesalahan itu bukan ia lakukan. Tidak apa. Nasi bekas pelanggan itu mengantarkannya pada hidup yang sekarang. Dimana ia bisa dengan sesuka hati membuka tangan, memberikan sepiring nasi bahkan lebih pada karyawan-karyawannya setiap kali melakukan perayaan hari jadi kafe.
Ia baru mengerti saat di usia ini. Hidup tak lepas dari susah senang semata. Hidup sejatinya bukan hanya hari ini, tapi hari esok dan nanti.
Perlahan ia memakan mie instan di hadapannya. Di taburinya dengan kacang favorit suaminya yang sudah tidak terlalu dingin.
Enak sekali.
*____*
Zayra tidak bisa tidur. Suara hujan dan petir berdatangan. Sungguh ia benci sekali perasaan takut seperti ini. Sendiri di saat hujan dan petir.
Di ambilnya handphone untuk memanggil suaminya yang sudah tengah malam belum meneleponnya kembali.
Tak lama di angkat tapi langsung di matikan kembali oleh si penerima lalu di ganti pada panggilan video.
Wajah yang basah bercucuran air terlihat di layar handphone.
"Ra?"
"Ya?"
"Aku lanjut bersih-bersih dulu sebentar. Nanti aku telepon lagi."
"Eh, jangan dimatiin. Aku temenin kamu bersih-bersih, deh."
Suaminya tampak sibuk bebersih dengan Zayra yang fokus mengamati.
"Hari ini kemana aja?" Tanya Arya dengan handuk yang melingkar di lehernya.
"Ke kafe doang."
"Seharian di kafe?"
"Iya. Kafe lagi ada problem, jam delapan tadi aku baru pulang."
"Problem? What's the problem? Sudah ditangani?"
Zayra menjelaskan dengan rinci terkait permasalahan juga penyelesaian yang menjadi hasil diskusi dari lemburan tadi.
"Kalau kamu, habis dari mana?"
"Kantorlah, kemana lagi?"
"Di kantormu ada buka toko perhiasan?"
Arya tampak berpikir sebentar atas ucapan singkat dari sang istri.
"Oh, kamu lihat dimana? Aku kan belum kirim fotonya."
"Aku nggak mau fotonya."
Arya terkekeh.
"Toko perhiasannya milik Raline. Baru buka tadi. Aku di paksa Alfi untuk datang, begitu pula karyawan-karyawanku."
"Oke."
"Cuma oke? Nggak mau nitip dibelikan sesuatu di tokonya Raline?"
"Enggak! Aku mau dibawain menara aja."
"Oke. Besok aku melancong cari miniatur menara yang bisa aku kantongi di jas."
"Mas Arya ih!"
Panggilan dihentikan karena suara petir yang makin banyak dan membesar. Arya meninggalkan pesan-pesan singkat terkait masalah kafe yang ditanganinya.
Arya hanya datang memenuhi undangannya. Bersama rekan-rekannya. Tidak ada yang lebih. Pun jika ada mereka kan sudah dewasa. Tidak perlulah sebetulnya Zayra takut jika Arya berbuat ulah. Ia tidak dirugikan kok.
Jika Arya melenceng dari janji suci mereka, maka Zayra siap berdiri dengan kaki sendiri. Atau mungkin, ia siap menendangnya.
Raline. Ia membuka toko di negara yang sama dengan kantor pusat perusahaan Arya. Bukankah memang Zayra sepatutnya curiga?

KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...