Delapan

45.7K 2.6K 6
                                        

Zayra baru saja membersihkan diri sepulang dari kafe. Kini ia berdiri di dapur, tengah memasak mie instan karena perutnya sudah keroncongan minta diisi.

Ia baru saja lembur bersama pegawainya. Diskusi panjang usai waktu operasional kafe terpaksa dilakukan demi mencari solusi atas masalah yang sedang menimpa timnya.

Masalahnya sebenarnya sederhana, namun cukup mengusik, yakni rating dan ulasan kafe di beberapa platform online tiba-tiba menurun drastis. Belum diketahui penyebab pastinya, tapi dalam waktu yang bersamaan, akun media sosial resmi kafe pun dibanjiri komentar negatif.

Meski begitu, beberapa pelanggan masih setia datang, meski di tengah badai yang sedang menerpa Garden Cafe. Sebagai pemilik, Zayra tetap menanamkan semangat positif pada timnya. Pelayanan harus tetap maksimal, dan kualitas hidangan tidak boleh menurun sedikit pun.

Air di panci mulai bergolak. Pikiran Zayra tentang kafe perlahan ia tepikan. Mie instan ini butuh perhatian lebih agar tak terlalu kematangan.

Sembari menunggu, ia membuka kulkas dan menuangkan jus jambu biji ke dalam gelas. Matanya lalu menangkap sesuatu yang membuatnya tersenyum geli, sebungkus kacang kupas terselip rapi di balik wadah bawang merah. Bungkusnya dilipat begitu rapi, jelas ada upaya seseorang untuk menyembunyikannya.

Kacang itu—ia tahu persis—adalah camilan favorit Arya, suaminya. Biasanya, Arya menyimpannya di dalam toples dan meletakkannya di kitchen set, tersembunyi di antara bumbu-bumbu yang jarang dipakai. Tapi kini, Arya tampaknya mencoba tempat persembunyian baru. Di balik tumpukan bawang merah, mungkin berharap tak ada yang akan menemukannya di sana... kecuali dirinya sendiri.

Zayra terkikik kecil membayangkan suaminya mengendap-endap menyembunyikan kacang kesayangannya.

Arya pernah bilang, kacang itu bukan sekadar camilan. Ia menganggapnya teman. Teman yang selalu ia cari di momen-momen tertentu, mungkin saat lelah, atau sekadar ingin bersantai.

Awal-awal menikah, Zayra sering kali dititipi kacang itu setiap kali pergi ke supermarket atau swalayan. Awalnya ia tak begitu peduli, hingga suatu hari ia penasaran dan mencicipinya sedikit. Ternyata rasanya memang enak, renyah dan gurih.

Sejak saat itu, Zayra mulai suka mencuri-curi mengambil kacang tersebut. Hingga tanpa sadar, ia pernah menghabiskannya. Arya marah besar saat tahu.

Ah, laki-laki itu memang menyebalkan. Sejak kejadian itu, Zayra nyaris tak pernah diberi kesempatan lagi untuk menyentuh camilan favorit suaminya. Bahkan saat mereka menonton serial di Netflix pun, Arya tak segan-segan menghabiskannya sendiri tanpa niat sedikit pun untuk berbagi.

Dengan hati-hati, Zayra mengambil sebungkus kacang dari tempat persembunyian Arya. Ia membuka bungkusnya, lalu memakannya perlahan. Tapi rasanya tidak seenak biasanya, karena dingin.

Ia pun meletakkannya di tengah meja makan, berharap suhu ruang akan membuatnya kembali renyah seperti semula.

Astaga!

Zayra tersentak. Ia berlari ke dapur dan mendapati panci di atas kompor nyaris hangus. Bukan hanya mie yang terlalu matang, tapi pancinya juga ikut "matang."

Terlalu lama melamun soal kacang dan suaminya, mie instan yang ia masak jadi korban. Andai Arya ada di rumah saat ini, mungkin ia sudah habis diomeli panjang lebar. Laki-laki itu pasti akan menyuruh Zayra makan mie-nya sekalian dengan panci yang kini gosong kehitaman.

Tapi tak apa. Meski benyek dan nyaris hancur, mie itu tetap ia makan, kok.

Bagi Zayra, mie super matang ini bukan masalah besar. Toh, Tuhan masih baik menyelamatkannya sebelum kompor itu benar-benar meledak.

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang