Dua belas

41.8K 2.2K 16
                                        

Arya memutuskan untuk meliburkan diri selama dua hari. Ia merasa butuh istirahat setelah menyelesaikan tumpukan pekerjaan dari kantor pusat di Paris.

Di hari pertama liburnya, Arya tidak menghabiskan waktu bersama Zayra. Ia justru pergi ke rumah ibunya untuk menyampaikan sesuatu yang penting.

"Ada yang mau dititip buat Mama?" tanya Arya sambil berdiri di ambang pintu, memperhatikan Zayra yang tengah menjemur pakaian.

Zayra menggeleng pelan. Ia membereskan keranjangnya, lalu menghampiri Arya dan menyalami tangan sang suami dengan lembut.

"Aku udah nyapu dan ngepel semua ruangan. Kamu nggak perlu masak, ya. Nanti aku pesanin makan lewat aplikasi. Aku pulangnya sore."

"Makasih. Hati-hati, ya. Salam buat Mama dan Febi."

Arya melangkah keluar, meninggalkan Zayra yang kemudian masuk ke dapur. Ia menarik kursi makan, membuka tudung saji, lalu mengambil cemilan yang tadi ia buat sebelum mencuci pakaian.

*___*

Arya melipir sebentar ke minimarket. Ia membeli beberapa makanan dan minuman untuk adiknya. Kunjungannya ke rumah sang ibu memang sudah menjadi rencananya. Ia sengaja tidak mengajak Zayra.

Malam sebelumnya, Arya menyempatkan diri mengirim pesan kepada Raline. Ia ingin memastikan informasi yang didapatnya benar atau tidak. Saat bertemu Madame Livy, wanita tua itu sempat menyebutkan bahwa Romy—ayah Raline—meninggal karena bunuh diri.

Arya sempat terdiam lama. Ia sangat dekat dengan keluarga Raline, terutama ayahnya. Romy adalah sosok yang sering ia ajak berdiskusi soal bisnis. Seorang ayah yang bijak, tenang, dan penuh rasa syukur. Mendengar kabar seperti itu sangat mengejutkan.

Kejutannya bertambah saat Raline langsung membalas pesannya tak lama kemudian.

From: Raline

Benar, Ayah sudah meninggal. Satu bulan yang lalu. Beliau ditemukan di kamar dalam kondisi mengenaskan, Arya. Beberapa bukti menunjukkan bahwa Ayah mengidap depresi dan bunuh diri.

Satu berita lagi yang harus kamu tahu, Ibuku sekarang sedang menjalani pemulihan di rumah sakit jiwa. Beliau stres, Ar.

Bagaimana?

Mendengar semua ini, kamu jadi lebih bahagia, kan?

Aku kehilangan kamu, kehilangan Ayahku, kehilangan Ibuku... bahkan aku kehilangan diriku sendiri, Ar.

*____*

"Itu bukan salah Mama, Arya."

"Tapi sekarang dia jadi begini, Ma."

"Dia sudah bukan urusan kamu lagi, Arya."

"Arya tahu, Ma. Tapi Arya takut. Arya takut Zayra atau Feby kena imbas... atau kena hukuman atas kesalahan yang Arya perbuat."

"Mama sudah bilang, kamu nggak salah! Kita nggak pernah salah, Arya!"

Arya menangis di pundak sang ibu, mencurahkan segala resah dan kekhawatirannya pada wanita yang telah membesarkannya dengan penuh cinta.

"Tenangkan diri kamu. Jangan pikirkan dia terus. Hidup kamu bukan cuma soal Raline dan keluarganya," ucap Hesti lembut, mengusap punggung putra sulungnya yang masih terisak.

Perlahan, Arya menegakkan tubuhnya. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba kembali tenang setelah bersandar pada bahu ibunya.

Tiba-tiba, suara pintu kamar di sebelah ruang tamu terdengar. Seorang perempuan muda keluar, wajahnya datar, tatapannya tajam.

"Penyesalan memang selalu datang belakangan, ya, Ka?"

"Feby! Diam kamu!" bentak Hesti dengan pandangan tajam ke arah putri bungsunya.

"Aku memang selalu diam, Ma," balas Feby tenang. Ia duduk di hadapan ibunya dan Arya, membuka kantong belanja yang dibawa kakaknya. Sebungkus camilan diambil, dibuka, lalu dimakan begitu saja.

"Coba aja waktu itu tanggal pernikahan Kakak dimajukan. Mungkin Mama nggak akan buru-buru menjodohkan Kakak sama perempuan yatim piatu itu."

Arya memejamkan matanya, menahan diri.

"Selain alasan berbakti, Kakak punya alasan apa sih sampai rela ninggalin Kak Raline dan milih dia?"

Pelan-pelan Arya membuka matanya dan menatap Feby dengan dalam. "Karena sampai detik ini kamu masih menganggap Kakak jahat... maka Kakak nggak akan pernah kasih tahu alasan kenapa Kakak lebih memilih Zayra daripada Raline, seseorang yang selalu kamu puja-puja itu."

Feby mendengus, menaikkan sebelah alisnya.

Tanpa banyak kata, Arya berdiri. Ia meninggalkan ruang tamu, melangkah menuju kamar miliknya.

"Nanti... tolong bangunkan aku, ya, Ma!" serunya dari tangga sebelum akhirnya menghilang di lantai atas.

Arya sudah bersahabat dengan Raline sejak kecil, benar-benar sejak mereka masih anak-anak. Dahulu mereka bertetangga, dengan ayah mereka yang lebih dulu bersahabat. Itu yang selalu Arya ingat.

Kedekatan mereka begitu intens hingga sering disalahartikan. Banyak orang mengira hubungan mereka lebih dari sekadar teman. Mereka sekolah di tempat yang sama, kemana-mana selalu bersama, bahkan saat melanjutkan studi ke Paris pun mereka pergi berdua, meski mengambil jurusan berbeda.

Namun, ketika usia Arya menginjak tiga puluh, ia mulai berpikir tentang kehidupan yang lebih serius. Ia merasa waktunya untuk memiliki pendamping hidup. Dan dengan pemikiran yang singkat, ia memutuskan meminang Raline.

Keluarga Raline menyambut kabar itu dengan tangan terbuka dan penuh sukacita. Tapi satu hambatan besar menghadang, yakni restu dari Hesti, tidak kunjung Arya dapatkan.

Ternyata, Hesti menyimpan luka lama—kenangan pahit yang melibatkan Romy, ayah Raline. Dahulu, saat masih muda, Hesti dan Romy pernah bertunangan. Mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan. Tapi Romy mengkhianatinya—ia menghamili perempuan lain, yang kemudian menjadi istri Romy dan ibu kandung Raline.

Hesti tidak tahu bahwa Romy diam-diam mengikuti langkah hidupnya hingga membeli rumah di seberang jalan, menjadi tetangganya selama bertahun-tahun. Luka itu ia pendam sendiri. Tak pernah ia ceritakan pada siapa pun, kecuali orangtuanya.

Meski akhirnya ia menikah dengan Hardi Pangestu dan dikaruniai dua anak, kenangan itu tak pernah benar-benar hilang.

Hesti tidak keberatan jika anaknya bersahabat dengan anak Romy. Tapi untuk menjadikan Raline sebagai menantu, itu lain cerita. Ia tidak sanggup melihat putranya menjadi bagian dari keluarga laki-laki yang pernah menghancurkan hidupnya.

Cerita itu akhirnya ia bagikan kepada Arya. Ia meminta putranya berpikir jernih sebelum melangkah lebih jauh.

Sebenarnya Arya tidak merasa begitu jatuh cinta pada Raline. Ia hanya merasa... nyaman? Merasa Raline adalah pilihan paling logis. Perempuan itu sudah mengenal dirinya luar dan dalam. Ia tak perlu repot-repot memulai hubungan baru dari nol, yang baginya hanya membuang waktu.

Tapi setelah mendengar kisah ibunya, Arya sadar. Ia perlu mempertimbangkan ulang semuanya. Ia tidak ingin rumah tangganya kelak dilandasi luka lama dan penolakan. Ia tidak ingin melawan restu seorang ibu. Sosok yang selalu ada, yang doanya menyelimutinya di setiap langkah.

Akhirnya, Arya memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Raline. Meski berat, ia tahu, ibunya tak pernah memberinya pilihan yang buruk. Hesti selalu bisa diandalkan dalam urusan menimbang mana yang terbaik.

Di sela-sela ibadahnya, Arya tetap menyelipkan doa untuk perempuan yang pernah mengisi hari-harinya. Untuk Raline, sahabat yang berhati baik dan berparas cantik. Yang mungkin bukan jodohnya, tapi akan selalu ia kenang dengan hangat.


Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang