Hari ini, Arya dan Zayra meninggalkan rumah di waktu yang sama. Keduanya berangkat menjalankan tanggung jawab di kantor masing-masing. Namun, ada satu hal yang belum Arya utarakan, soal kolaborasi dengan kafe milik Zayra. Ia masih menimbang-nimbang konsep, menyusun rencana agar saat waktunya tiba, Zayra tak perlu memikirkan terlalu banyak hal.
Sebelum menuju kantornya, Arya menyempatkan diri mengantar Zayra lebih dulu. Bahkan ikut turun, berjalan masuk ke kafe sambil menebar senyum dan sapaan hangat kepada para karyawan yang beberapa sudah cukup akrab dengannya.
"Ra, bikinin satu, ya," bisiknya pelan begitu mereka sampai di ruang pribadi Zayra. Permintaan kecil untuk secangkir kopi, rutinitas yang tampaknya sudah jadi kebiasaan mereka.
Zayra menggeleng, "Enggak boleh, Mas. Ini masih pagi."
Arya yang sempat bersiap duduk akhirnya hanya berdiri sejenak, lalu membalikkan badan, berbalik arah menuju pintu. Seakan niatnya untuk bersantai sejenak harus dibatalkan.
"Jam sepuluh nanti aku antar ke kantormu, deh," ujar Zayra cepat, menebak arah kepergian Arya. Kalimat itu sekaligus menandai akhir dari perdebatan kecil mereka soal kopi.
Arya hanya melirik sekilas, tanpa banyak komentar, lalu menutup pintu perlahan.
Begitu laki-laki itu benar-benar pergi, Zayra kembali ke mejanya. Ia membereskan beberapa berkas kerja yang memang sudah menunggu sejak pagi. Sambil menghitung waktu menunggu jam sepuluh, saat ia akan membuatkan kopi untuk Arya. Seperti biasa.
*___*
"Jalan M. Toha, seberang swalayan ya, Pak," ucap Zayra pada sopir taksi online yang ia pesan.
Jalanan tampak lengang. Rasanya baru beberapa kali ia menyambangi kantor suaminya itu. Pertama kali, beberapa hari setelah mereka menikah, atas permintaan Mama yang menyuruhnya datang untuk sekalian berkenalan dengan para petinggi kantor.
Pernah juga saat Arya baru sembuh dari sakit dan Mama memintanya mengantar bekal ke kantor.
Selebihnya, tak ada yang begitu menarik dari kantor Arya. Tak jauh berbeda dengan kantor-kantor tempat Zayra pernah bekerja. Bahkan ruang pribadi Arya pun terkesan biasa saja untuk ukuran seorang bos besar. Zayra pernah menanyakan soal itu pada Arya, kenapa tidak merenovasi ruangannya agar lebih nyaman?
Jawaban Arya saat itu cukup masuk akal.
"Ini ruang kerjaku, tempat aku menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan. Buatku, nggak masalah kalau ruang ini terlihat biasa atau membosankan. Justru aku butuh ruang yang netral supaya bisa lebih fokus dan teliti. Dua hal itu sulit aku lakukan kalau ruangannya terlalu menarik atau penuh dekorasi," jelas Arya, tak lama setelah mereka menikah.
Zayra sendiri punya pandangan berbeda. Baginya, ruangan yang cantik dan berdesain menarik punya daya tarik tersendiri bagi penghuninya. Ruang seperti itu bisa menciptakan rasa nyaman, bahkan kebahagiaan.
Namun Arya sempat menambahkan sesuatu setelah itu, yang membuat Zayra berpikir.
"Tapi anehnya, dua hal itu malah lebih gampang aku dapat kalau kerja di rumah, di ruang pribadiku. Padahal kamu yang desain ruang itu. Ramai, hangat, bahkan menurutku terlalu cozy buat kerja. Mungkin karena di rumah ada kamu yang suka bolak-balik ke ruanganku, ya?"
Zayra hanya tertawa waktu itu. Gombalan manis khas Arya yang baru saja menyandang status sebagai suaminya. Tapi memang iya ya... dirinya sesering itu bolak-balik ke ruangan Arya jika laki-laki itu sedang lembur?
*___*
To: Arya, Suamiku
Masih lama nggak, Mas? Aku nunggu di depan ruang kerja dari tadi, lho.
Benar saja, Zayra telah menunggu hampir 45 menit di kursi tamu. Sekretaris Arya sempat memberitahu bahwa suaminya sedang mengadakan rapat dengan beberapa kepala divisi perusahaan.
Tak lama, pintu ruangan terbuka. Beberapa karyawan keluar satu per satu, disusul Arya yang menyusul dari belakang. Tatapan matanya langsung mencari keberadaan Zayra.
"Cepat masuk."
Zayra segera berdiri dan melangkah ke dalam ruangan yang atmosfernya masih terasa tegang. Ia meletakkan barang bawaannya di meja kerja Arya. Sementara itu, Arya melepas jasnya dan mengambil roti dari dalam lemari kecil di sudut ruangan.
"Naik apa ke sini?"
Pertanyaan Arya tak langsung dijawab. Zayra sedang terpaku menatap akuarium besar di pojok ruangan, seolah sedang berada di dunia lain.
"Ra?" Arya mengulang. "Naik apa ke sini?"
"Naik mobil orang," jawab Zayra santai, tanpa menoleh.
Arya tak menanggapi lebih jauh. Ia tahu betul, istrinya itu pasti tengah terpukau dengan akuarium yang baru ia beli kemarin. Sama sepertinya, yang juga terpesona saat pertama kali melihat unggahan Alfi, teman dekat mereka, di Instagram. Dalam unggahan itu, Alfi memperlihatkan ruang kerja ayahnya di Paris yang dilengkapi akuarium super mewah.
Karena itu pula, kemarin saat mengambil cuti, Arya meminta Pak Kardi untuk mencarikan akuarium beserta ikan-ikan yang cantik untuk diletakkan di ruangannya.
"Kita pelihara ikan di rumah juga yuk, Mas," ujar Zayra tiba-tiba setelah lama terdiam.
"Siapa yang mau rawat?" Arya balik bertanya. Bukan karena tak percaya. Ia hanya tahu, kesibukan mereka berdua tidak main-main. Merawat ikan mungkin menyenangkan di awal, tapi bisa jadi merepotkan setelahnya. Bahkan dirinya saja sudah enggan merawat sendiri, untung ada Pak Kardi yang bersedia membantu.
"Kita, dong," jawab Zayra mantap.
"Yakin? Merawat ikan itu nggak mudah lho, Ra."
Zayra lalu duduk di depan Arya, menyodorkan segelas kopi yang tadi ia bawa.
"Iya juga, ya, Mas. Kata teman-teman di kafe, ngurus ikan itu lumayan effort."
"Nah, makanya. Kalau mau lihat ikan, ke sini aja."
Obrolan mereka mendadak terputus ketika suara pintu terbuka mendadak. Sial! Arya lupa menguncinya.
"Lho? Lagi berduaan kalian?"
Itu suara Mama—ibunya Arya—yang tiba-tiba muncul di balik pintu.
"Mama?!" Arya dan Zayra berseru bersamaan.
"Biasa aja kenapa, sih?" Mama datang sambil menenteng beberapa bawaan. Khas sekali. Zayra nyaris tak pernah melihat tangan wanita itu kosong saat berkunjung ke mana pun. Pasti selalu ada saja yang dijinjing, seperti kali ini.
"Mama habis masak, nih. Kemarin Mama baru ikut kelas promil."
Arya spontan mengernyit. Hesti yang menyadari ekspresi putranya hanya geleng-geleng, lalu melemparkan sebuah pulpen ke wajah Arya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Mama ikut kelas promil itu buat menantu Mama. Kemarin Mama belajar soal makanan yang bisa bantu melancarkan program hamil."
Hesti lalu membuka rantang yang dibawanya. Aroma nasi hangat dan sayur menyeruak, mengisi ruangan dengan kehangatan khas rumah.
"Kalian lagi enggak ada rencana nunda punya anak, kan?"
Tak ada jawaban. Arya dan Zayra masih diam, tak berniat memotong kalimat sang ibu. Tapi Hesti melanjutkan, "Udahlah, kalian udah sembilan bulan menikah. Pacarannya cukup, ya. Saling kenal juga pasti udah dalam. Sekarang fokus promil aja. Besok kalau sempat, Mama temenin kalian ke dokter buat konsultasi."
Arya dan Zayra bersamaan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi masing-masing.
Hamil, ya?
Itu berarti mereka akan punya anak. Tapi kenyataannya, belum pernah sekali pun mereka benar-benar membicarakan hal itu dengan serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomantikMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
