Zayra bahagia bukan main. Bibirnya tidak henti-henti menyunggingkan senyum kecil, meski ia berusaha keras menahannya agar Arya tidak menyadari. Nanti, bisa-bisa ia dikira aneh atau bahkan stres oleh laki-laki itu.
Makan malam mereka berjalan sangat lancar. Arya benar-benar membawanya ke restoran elit, tempat yang kalau ia harus membayar dengan uangnya sendiri, mungkin ia akan langsung merenung panjang usai menyantap makanannya. Harga dan kualitasnya memang fantastis.
Tapi, ada yang membuatnya bertanya-tanya. Arya sedang kenapa, ya? Kok bisa-bisanya ia diajak ke tempat semewah itu, tanpa rencana, hanya untuk makan malam? Meski begitu, ada bumbu-bumbu kecil yang membuat hatinya meleleh. Seperti saat Arya menggenggam tangannya ketika menuruni mobil menuju restoran. Atau ketika Arya tanpa banyak bicara memisahkan daun bawang yang menumpuk di makanannya. Bahkan, ia dengan ringan memesan air mineral baru untuknya ketika minumannya habis.
Entahlah… menurut Zayra, Arya terasa aneh sekali malam ini. Aneh, tapi menyenangkan. Meski kata-kata Arya masih sering terdengar ketus, hatinya tak bisa bohong, ia suka. Suka sekali!
Kini keduanya sudah berbaring di kasur. Arya masih sibuk menatap layar ponselnya, entah apa yang begitu menarik perhatiannya. Sementara itu, Zayra meraih selimut lalu membentangkannya hingga menutupi mereka berdua. Arya sempat menoleh ketika merasakan lingkaran tangan hangat di perutnya.
Beberapa detik kemudian, ia menutup ponselnya, meletakkannya di meja samping, lalu mematikan lampu kamar. Dalam gelap yang menenangkan, Arya merengkuh Zayra, mengecup lembut pelipisnya, lalu mendekap kepalanya ke dada.
"Aku senang banget, Mas" bisik Zayra, suaranya terpendam dalam dekap hangat Arya.
*____*
Mau dibuatkan bekal nggak, Mas?" tanya Zayra sambil merapikan meja setelah sarapan mereka.
"Nggak usah, Ra. Nanti siang aku ada janji makan bareng klien," jawab Arya santai.
Zayra hanya mengangguk, lalu melanjutkan kegiatannya. Seperti biasa, ia akan berangkat ke kafe setelah membereskan diri. Sesudah selesai berdandan, ia menuju nakas untuk mengambil tasnya.
Namun matanya justru tertumbuk pada ponsel Arya yang tergeletak di sebelah tas itu. Hampir tanpa sadar, tangannya ikut meraih benda tersebut. Jempolnya sempat menyentuh tombol daya, layar menyala, dan sebaris notifikasi muncul begitu saja.
Nama pengirim yang tertera di sana membuat jantungnya berdetak lebih kencang: Raline. Ada juga beberapa pesan dari teman Arya yang lain, berderet seakan menunggu untuk dibuka.
From: Raline
Acara kolaborasinya kapan, Ar?
From: Alfi
Ekhem 🤧, mantan upload foto tuh di ig, jan lupa di like bang biar seneng
Ia buru-buru mematikan ponsel milik Arya dan meletakkannya di meja. Begitu menoleh ke luar, mobil Arya sudah melaju kencang, hampir meninggalkan rumah.
"Mas!"
"Handphonenya ketinggalan!!!" teriaknya dari dalam rumah, berusaha mengejar laju mobil.
Namun, Arya sama sekali tidak mendengar, apalagi menoleh ke arahnya. Zayra panik, segera meraih kunci mobil, mengunci pintu rumah, lalu menyusul dengan mobilnya yang jelas jauh lebih lamban dibanding mobil Arya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
