Arya sedang mengutak-atik mobil kesayangannya di garasi saat Zayra datang menghampiri, menyodorkan ponselnya ke hadapan Arya.
"Dari mantan tersayang kamu, nih." ucap Zayra santai, lalu cepat-cepat melangkah pergi, enggan melihat reaksi suaminya terhadap dering telepon yang menyala di layar.
Arya tak langsung merespons. Ia hanya menatap layar itu beberapa saat, membiarkannya berdering sampai berhenti sendiri.
To: Raline
Ada perlu apa? Kirim pesan saja.
Sementara itu, nun jauh di belahan dunia yang berbeda, Raline duduk di kursi megahnya. Singgasana yang ia bangun bertahun-tahun bersama seseorang yang dulu ia sebut cinta.
Laki-laki yang kini mengabaikan panggilannya adalah orang yang dulu selalu memintanya menelepon, bahkan hanya karena lima menit tak saling bertatap muka.
Dunia memang cepat berubah, kalimat klise yang kini menggema dalam batin Raline dengan makna yang tak lagi sederhana. Tak sampai satu dekade, ia kehilangan segalanya. Yang paling berarti, orang yang ia sayangi.
Toko perhiasan megah kini berdiri gagah di pusat kota ikonik benua Eropa. Namanya harum di mana-mana, menyaingi, bahkan mungkin melampaui, nama sahabat masa mudanya—atau lebih tepatnya, mantan calon suaminya—Arya Pangestu. Ia memimpin puluhan karyawan, menggenggam kekayaan dan pengaruh. Namun sayangnya, keberlimpahan kasih sayang justru menjauh darinya.
"Ada harga untuk segalanya," katanya dalam hati. Seharusnya ia lebih berhitung sebelum menapaki jalan karier yang kini justru membuatnya merasa kosong. Hidupnya seperti ikan predator di lautan lepas, kelimpungan, tak tahu apa yang harus disantap, tak tahu ke mana harus berlindung.
Semua jerih payah itu terasa sia-sia. Kursus membuat perhiasan yang dulu ia jalani, perjalanan pulang-pergi ditemani Arya, usaha memilih ruko yang dibantu Arya, bahkan pendapat-pendapat pria itu soal desain yang ia buat, semuanya kini hanya kenangan tanpa arti. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak bisa diisi dengan emas atau berlian.
Ia benar-benar berharap bahwa Arya akan sepenuhnya bersamanya. Menemaninya dalam mengelola toko, terus menyemangatinya saat menghadapi pelanggan yang sulit, dan tetap menjadi pundak yang bisa ia sandari. Namun semua harapan itu pupus. Arya memilih pergi. Meninggalkannya dengan alasan yang terdengar begitu menyakitkan, katanya.. karena tak lagi mencintainya.
Tak mencintainya? Raline merasa, setelah semua yang mereka lewati bersama selama hidup mereka, rasanya mustahil jika Arya tidak punya cinta untuknya, bukan?
Tak masuk akal juga jika Arya mengalami cinta pada pandangan pertama... dengan perempuan lain. Ia tahu siapa Arya. Laki-laki itu bukan tipe yang mudah dekat dengan perempuan. Bahkan cenderung malas menanggapi yang lebih dulu mendekatinya. Jadi, bukankah masuk akal jika Raline menduga bahwa kepergian Arya bukan karena cinta yang hilang?
Arya jelas pernah mencintainya. Terlalu jelas bahkan. Bukti cinta itu berdiri nyata, dan itu adalah bangunan megah yang kini dipenuhi perhiasan mewah di dalamnya.
Arya tak hanya sekadar membantu saat ia memulai langkah awal karirnya. Tidak. Semua itu dilakukan karena laki-laki itu mencintainya. Bukankah begitu?
Balasan dari Arya berupa pesan singkat telah dibacanya.
To: Arya Calon Suamiku
Aku kangen. Padahal baru beberapa hari lalu kita bertemu, ya?
Pekan ini, teman lamaku di Jakarta mau melahirkan. Mungkin lusa aku akan terbang ke sana untuk menjenguk. Kalau aku mampir ke Malang, bertandang ke rumahmu, kamu keberatan nggak?
Pesan terkirim. Tanda baca dua centang biru muncul tak lama kemudian. Laki-laki itu sedang duduk di kursi pengemudi, menatap layar ponselnya. Hanya membaca. Tidak membalas.
Ada dorongan untuk memblokir nomor Raline. Tapi hatinya tak tega. Ia menghela napas. Lalu teringat satu hal, Zayra.
Arya pun turun dari mobil, membiarkannya begitu saja. Mesinnya tampak baik-baik saja,setidaknya menurut dugaannya. Mungkin perlu dicek di bengkel nanti. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dan melewati dapur.
Zayra sedang sibuk di sana, mengutak-atik oven dengan ekspresi serius.
"Harum banget. Kamu lagi buat apa?" tanya Arya ringan.
"Jangan ngejek deh. Kue bolenku gosong gara-gara tadi nganterin handphone-mu."
"Aku nggak ngejek, serius. Harum kok. Mana coba liat," ujar Arya sambil mendekat, mengikuti gerak-gerik sang istri yang bolak-balik mengambil pisau dan piring.
Zayra dengan cekatan memindahkan bolen dari loyang ke piring kecil. Ia mengangkatnya, lalu menyodorkannya ke Arya yang masih menatap loyang dengan warna kecokelatan yang nyaris hangus.
"Selamat menikmati bolen gosong yang harum ini," ucapnya sambil tersenyum, dan Arya menerimanya dengan senyum kecil yang sama tulusnya.
Arya langsung menyuapkan kue itu ke mulutnya. Tak ada raut aneh yang terlihat di wajahnya.
"Enak, Ra. Bagian yang agak gosong bisa disisihin sih, soalnya sedikit pahit. Tapi begitu dimakan bareng isiannya, rasa pahitnya ketutup sama manisnya cokelat. Untung kamu kasih cokelatnya banyak banget, sampai meleleh luber gini."
Zayra menatap penasaran. "Seriusan enak?"
Arya mengangguk sambil memotong kue dari piringnya, menyendokkan, lalu menyuapkan ke arah Zayra yang masih sedikit kesal karena merasa kuenya gagal.
"Cobain sendiri."
Zayra menerima suapan itu dengan ragu-ragu. Tapi setelah mencicipi, dia langsung sadar: ternyata kuenya memang masih enak.
"Enak, kan?" Arya bertanya sambil tersenyum.
Zayra langsung mengangguk cepat-cepat, karena mulutnya masih penuh.
Arya mengambil dua potong bolen dari loyang dan menatanya di atas piring. Tanpa berkata apa-apa, ia lalu berjalan pergi. Zayra hanya bisa memperhatikannya, menebak-nebak arah langkah suaminya, mungkin ke ruang tamu, mungkin juga hanya ingin menghindari ledakan pujian dari istrinya sendiri.
*___*
"Aku temani kamu belanja tapi kita pergi ke bengkel dulu, oke?"
Zayra menghela napas berulang-ulang. Ia hanya meminta ditemani belanja keperluan dapur tapi Arya memintanya ditemani ke bengkel terlebih dahulu. Ia kesal sekali. Pasalnya Arya selalu betah berlama-lama di bengkel.
"Enggak usah cemberut, kamu juga kalau belanja lama."
Zayra masih berdiri di pinggir mobil saat Arya sudah siap di kursi kemudi.
"Cepat naik. Kalau nggak aku tinggal, nih."
Zayra sudah menyamankan posisi di kursi penumpang depan. Tapi jelas hatinya masih dongkol abis.
Kedongkolannya itu bermula sejak bangun tidur pagi tadi. Ia sudah bersiap, memasak untuk sarapan, menyiapkan baju dan keperluan Arya ke kantor. Tapi sampai jam delapan Arya tidak juga bangun tidur meski sudah dibangunkan dengan berbagai cara. Ternyata apa? Laki-laki itu masih meliburkan diri untuk hari ini. Jelas-jelas tadi malam, ia mengatakan akan pergi ke kantor karena ada keperluan. Ck, benar-benar menyebalkan memang.
Setelahnya, Arya neminta maaf karena sudah berbohong dan berjanji akan mengabulkan apapun kemauannya. Ia langsung meminta untuk diantarkan ke supermarket karena bahan dapur sudah banyak yang habis. Arya menyetujui tapi kini lagi-lagi ia membuat kesal. Harusnya laki-laki itu tidak perlu ke bengkel.
Apakah Arya saat bersama Raline, sama menyebalkannya dengan saat bersamanya kini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
