Sebelas

43.1K 2.3K 25
                                        

Keduanya makan dalam diam. Tak ada percakapan yang muncul sejak obrolan singkat soal oleh-oleh setengah jam yang lalu. Arya belum juga berusaha memberikan penjelasan, bahkan sekadar menanggapi tuduhan yang tadi dilontarkan.

Kalau memang Arya tidak menyangkal, berarti apa yang ia pikirkan benar, kan? Bahwa laki-laki itu memang tidak berniat membelikan oleh-oleh.

Huh! Pergi ke acara mantan di tengah jadwal padatnya bisa ia sempatkan. Tapi untuk sekadar membelikan sesuatu untuk dirinya tidak bisa. Kenapa hal sesederhana itu tidak bisa ia luangkan waktu?

"Tumis pakcoy kamu enak. Kapan-kapan aku mau makan ini lagi," ujar Arya memecah keheningan.

"Ya, tapi tergantung mood-ku nanti," jawab Zayra singkat.

"Fine. Aku minta maaf soal oleh-oleh yang aku janjikan."

Zayra membuang wajah, malas melihat raut bersalah Arya yang seolah meminta dimaklumi. Ia bangkit, membawa piring makannya ke wastafel.

"Nitip," kata Arya, ikut berdiri dan meletakkan piring bekas makannya di tempat yang sama.

Zayra menghela napas panjang, seolah ingin memberi tahu betapa menyebalkannya laki-laki itu.

*_______*

Arya sudah terlelap sejak beberapa jam lalu. Zayra pun sempat ikut tidur, tapi kini ia terbangun saat merasa tidurnya sudah cukup. Ia bingung harus melakukan apa. Semua pekerjaan rumah telah ia selesaikan sebelum tidur.

Denting notifikasi dari ponsel Arya mengejutkannya. Ia melirik ke layar dan melihat pop-up pesan.

From: Alfi

Send a contact

Itu nomor Raline. Terlihat dari nama kontaknya yang dikirim.

Zayra mengernyit. Apa maksud Alfi mengirim nomor mantan istri Arya? Dengan hati yang mulai gelisah, ia menepuk pelan pipi Arya, membangunkannya.

"Mas Arya, bangun. Alfi kirim pesan," ucapnya pelan.

Arya membuka mata dengan ekspresi terganggu. "Ya. Tolong ambilkan handphone-ku," gumamnya.

Zayra menyerahkan ponsel milik suaminya.

"Nomor Raline... untuk apa?" tanyanya pelan, mencoba tetap tenang.

"Aku lagi perlu sesuatu dari dia," jawab Arya singkat.

Zayra menghela napas pelan. Ia berusaha menahan berbagai kemungkinan yang berkecamuk di kepalanya. Arya kembali merebahkan diri dan tertidur, lalu mengembalikan ponsel itu pada Zayra.

Zayra menatap ponsel itu. Ia tidak tahu kata sandinya. Delapan bulan menikah, ia tidak pernah sekalipun membuka isi ponsel suaminya. Ia percaya. Ia tidak ingin mencampuri.

Tapi kalau soal Raline... itu lain cerita.

Ia masih ingat betul kejadian dua minggu pertama setelah pernikahan mereka. Saat itu, ia menemukan beberapa pack kartu undangan pernikahan bertuliskan nama Arya dan Raline. Banyak sekali. Semua undangan itu sudah dicetak dan tersimpan rapi di dalam laci meja kerja Arya, yang saat itu sedang ia rapikan karena penuh berkas berserakan.

Desain undangan itu cantik, mewah dan elegan. Tapi Zayra memilih diam, berharap Arya akan bercerita sendiri. Namun, seminggu berlalu, tak ada satu pun penjelasan yang datang darinya.

Hingga suatu malam, Zayra kembali dikejutkan oleh notifikasi pesan dari kontak bernama Amara Butik Pengantin.

From: Amara Butik Pengantin

Pak, bagaimana ya? Desainnya sudah jadi. Apakah bisa dilanjutkan ke proses jahit?
Tapi saya butuh DP untuk ganti biaya jasa desain. Segera ya, Pak. Kami tunggu keputusannya.

Zayra hampir tak bisa bernapas usai membaca pesan itu. Setibanya Arya di rumah sepulang kerja, ia langsung dihadapkan pada rentetan pertanyaan, tentang kejanggalan yang Zayra temukan dalam rumah tangga mereka yang masih seumur jagung.

"Aku pernah hampir menikah… sebelum sama kamu."

"Dengan Raline. Sahabatku sendiri."

Itulah jawaban Arya setelah seminggu Zayra dilanda kebingungan dan kepala yang terus dipenuhi tanda tanya.

"Aku nggak cerita karena aku mau melupakan semuanya. Tentang Raline, tentang masa lalu. Aku ingin memulai yang baru, hanya dengan kamu."

"Aku sudah hapus semua kontaknya, mengabaikannya sepenuhnya. Semua persiapan pernikahan yang sempat kami rancang. Mulai dari gedung, gaun, undangan, sudah aku batalkan. Aku juga mengganti semua kerugiannya. Bahkan aku sudah menemui keluarganya langsung. Sekarang, semuanya sudah selesai. Aku dan Raline benar-benar sudah berakhir."

Penuturan Arya malam itu menancap dalam di hati Zayra. Tanpa ia sadari, kata-kata itu membuat dadanya sesak berhari-hari. Ia bahkan sulit tidur, pikirannya terus-menerus dipenuhi oleh Raline. Dalam diam, ia pernah berniat menemui Raline, menjelaskan semuanya dari sudut pandangnya. Tapi Arya tak mengizinkan.

Rasa iba pada Raline perlahan sirna saat Zayra mulai sering menemukan surat-surat yang datang atas nama Raline Manisha. Hampir dua hingga tiga kali dalam seminggu, surat-surat itu tiba. Isinya? Ajakan bertemu dengan Arya, suaminya.

Awalnya Zayra masih memberikannya pada Arya, berharap surat itu ditanggapi bijak. Tapi Arya hanya mengabaikannya, seolah tak penting. Zayra pun berhenti melapor. Ia kumpulkan semua surat itu dalam sebuah kotak kecil di dalam lemari.

Namun di minggu keempat, isinya berubah. Tak lagi sekadar ajakan, melainkan curahan hati yang membuat Zayra mendidih membacanya.

Halo, Arya.

Ini aku, Raline.
Semoga kamu sehat selalu, ya. Sudah lama kita nggak bertemu. Aku benar-benar merindukan kamu… sebagai sahabat. Sekarang aku sedang di Jakarta, main ke rumah teman lama. Kalau kamu sedang luang, aku harap kita bisa bertemu.

Aku cuma ingin penjelasan, yang paling jujur tentang kita. Karena jujur saja, di mataku sekarang kamu adalah orang paling jahat. Tapi aku tetap di sini, untuk kamu. Cuma dengan mengingat wajah kamu, jantungku masih berdegup kencang.

Meskipun perangaimu sudah seperti iblis…
Aku tetap cinta. Masih berharap, kamu akan datang melamarku lagi. Untuk kedua kalinya.

Love you, Arya.

With gratitude for your
time and attention.
Your beautiful bride ♥️

Zayra terdiam lama setelah membaca surat itu. Ia mengerti betul, perasaan Raline pasti begitu sesak. Tapi, apakah pantas mengirim surat seperti itu pada laki-laki yang kini sudah beristri?

Zayra tidak pernah memaksa Arya untuk menikah. Ia hanya menerima pinangan yang datang. Ia tidak tahu, di balik kisah yang kini coba ia ukir bersama Arya, ada hati lain yang hancur.

Dan sejak saat itu, Zayra membenci Raline. Ia benci pada keberanian perempuan itu yang masih saja terang-terangan mengirimkan surat cinta pada Arya. Padahal, jujur saja, selama tiga minggu menjalani pernikahan… hatinya mulai goyah. Ada rasa yang tumbuh. Arya, meskipun menyebalkan dan keras kepala, terlihat tulus. Ia menerima kehadiran Zayra dengan hangat. Menenangkan Zayra dalam diam, dalam peluk ketika malam turun.

Jatuh cinta pada Arya ternyata begitu mudah. Apalagi setelah sekian lama, Zayra tidak mengenal cinta dari seorang lelaki.

Kini ia bertanya-tanya dalam hati,

Apakah di luar sana masih ada perempuan lain yang diam-diam mencintai Arya… selain Raline?




Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang