Arya tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah satu jam, oh, mungkin dua jam, ia menghabiskan waktu untuk mencari istrinya yang entah kemana, pergi tanpa seizinnya.
Ia tahu Zayra pernah tinggal beberapa tahun di kota ini. Menjadi salah seorang penghuni kota yang membimbingnya menjadi perempuan luar biasa. Tapi Arya tidak bisa menghilangkan rasa paniknya tatkala waktu terus berjalan semakin malam namun perempuan luar biasa itu masih belum memberinya kabar.
"Mbak Zayra lagi temu kangen kali Pak, sama teman-temannya yang tinggal di sekitar sini."
"Kalila juga nggak ada, Pak. Pasti Mbak Zayra jalan berdua sama Kalila. Tenang aja, Pak, sama Kalila aman pasti."
Suara yang masuk ke gendang telinganya itu di dengar baik-baik. Tapi masih belum bisa menghilangkan praduga yang ada di kepalanya. Apalagi ketika ia mengingat apa yang dikatakan perempuan itu saat di pesawat.
"Aku mau, nggak lihat wajah kamu."
Bagaimana jika Zayra merealisasikan keinginannya untuk menghindari dirinya lebih jauh demi tidak melihat wajahnya.
Denting suara pesan masuk ke ponselnya. Ia buru-buru membukanya, tapi ternyata harapannya sirna saat ternyata isi pesan yang datang bukan dari sang istri yang dinantikannya.
From: Raline
Aku sudah di Jakarta, Ar.
Besok masih berlangsung kan, acara launchingnya?
See you tomorrow...
Ia mengabaikan pesan perempuan yang telah membuat keretakan pada hubungannya.
Tunggu, seharusnya ia sadar sedari awal. Sadar bahwa sebenarnya Raline hanya sesosok perempuan yang patah hati karena ditinggal menikah oleh calon suaminya sendiri. Kemudian mencari pelampiasan untuk menemani rasa sakit hati yang dirasakannya dengan mengganggu rumah tangganya.
Raline, hanya butuh seseorang yang dapat menyembuhkan rasa sakitnya.
Keretakan hubungannya dengan Zayra sebetulnya sekian persen ada pada dirinya. Ia tidak berbuat rapi dan bersih sisa-sisa kenangan bersama sahabatnya itu. Sehingga memicu kecemburuan Zayra. Yang mana Zayra hanya tahu, bahwa Raline bukan sekedar sahabat, melainkan mantan calon istrinya. Sehingga apapun yang ditemukan tentang Raline di hidupnya, menimbulkan spekulasi negatif bagi sang istri. Ia seharusnya memaklumi asumsi Zayra karena itu.
Lalu ia harus bagaimana?
Hidupnya penuh terisi dengan kenangan bersama Raline. Ia tidak tahu barang mana lagi selain laptop, laci dan lainnya yang Zayra temukan keberadaan Raline di dalamnya. Ia bahkan tidak ingat barang apa saja yang pernah dipinjam oleh Raline selain laptop.
Haruskah ia menyewa tukang bersih rumah, untuk mengenyahkan segala hal yang berisikan Raline di dalamnya.
Tapi itu tidak mungkin, akan membutuhkan waktu sangat lama jika ia menyewa orang untuk membedah seisi rumah demi bisa menemukan barang-barang yang berisikan Raline di dalamnya.
Satu orang yang agaknya lumayan cerdas untuk ia pinta saran atas permasalahannya kini terpatri di otaknya.
Alfi is ringing...
"Halo? Ada apa, Ar?"
"Zayra lihat laptop gua yang pernah Raline pinjam."
"Terus? Urusannya sama gua apa?"
"Laptopnya belum gua ganti wallpapernya."
"Emang wallpapernya apaan? Foto cewek bugil?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomansaMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...