Empat

51.3K 2.7K 15
                                        

"Ck! Yang benar aja, Ra. Kamu telepon aku pas jam kerjaku masih jalan," keluh Arya dari seberang telepon.

"Oh iya, aku lupa kalau kita beda waktu. Tapi kamu sendiri yang bilang mau video call sebelum tidur. Terus gimana?" Zayra membalas, suaranya mulai melemah, terbawa kantuk yang tak bisa ditahan.

Arya menarik napas panjang, terdengar jelas kelelahan bercampur jengkel. "Ya udah, nggak usah video call berarti."

Tanpa banyak pikir, Zayra memutuskan sambungan panggilan itu. Hari ini ia sebenarnya tak melakukan apa-apa yang berat, hanya menghabiskan waktu dengan mama mertuanya. Tapi rasa lelah tetap datang, terutama karena sikap Arya yang sering kali terasa semaunya sendiri.

Arya memang selalu aneh, pikirnya. Mengagendakan video call sebelum tidur, seolah lupa bahwa perbedaan waktu mereka adalah jurang yang sulit diseberangi. Salah satu harus mengalah, ia yang terjaga di tengah malam, atau Arya yang menunda sibuknya. Tapi kapan Arya benar-benar mau mengalah untuknya?

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Satu setengah jam lalu, Hesti baru saja dijemput putri bungsunya. Zayra sempat melarang Febi untuk menginap dengan alasan lebih baik Febi menemani ibunya di rumah daripada dirinya.

Sejujurnya, alasan itu bukan sepenuhnya benar. Zayra bukanlah perempuan yang buta hati. Ia tahu betul, sampai detik ini, Febi masih belum benar-benar menerimanya sebagai bagian dari keluarga. Ada momen-momen kecil, namun jelas terasa, di mana Febi tak bisa menyembunyikan ekspresi ketidaksukaannya. Tatapan tajam, sikap dingin, atau sekadar nada bicara yang menekan, semua itu membuat Zayra merasa tak nyaman, bahkan saat mereka berbagi ruang yang sama.

Pernah sekali, ia mengutarakan kegelisahannya pada Arya. Sebagai seorang suami, bukankah Arya seharusnya mendengarkan? Namun, yang ia terima hanya respons di mana Arya menganggapnya terlalu serius, seolah semua itu hanya perasaannya belaka.

Zayra mencoba memahami. Arya adalah seorang kakak, dan hubungan darah tetaplah hubungan darah, sekuat apa pun ikatan pernikahan di atasnya. Tapi benarkah, ia harus menerima perlakuan seperti itu? Pengaduannya yang tulus justru diabaikan, dan itu meninggalkan luka kecil yang sulit dijelaskan.

Sejak saat itu, Zayra memutuskan untuk diam. Tak ada lagi keluhan tentang Febi yang ia bagi dengan Arya. Ia memilih menanggung semua sendiri, entah karena tak ingin menambah beban suaminya, atau karena tahu... tak ada gunanya berbicara pada telinga yang tak ingin mendengar.

*_____*

Zayra tersentak bangun saat suara dering telepon menggema di tengah malamnya.

"Ck! Yang benar aja, Mas. Kamu telepon pas jam tidurku masih nyenyak," gerutunya tanpa basa-basi, tepat saat Arya baru saja mengucap sapa.

"Ssst! Suara kamu pelanin dikit, dong. Nanti aku dikeroyok penghuni kamar sebelah," balas Arya setengah berbisik, terdengar seperti sedang menahan tawa.

"Tau ah!" jawab Zayra kesal sambil melempar ponselnya ke bawah bantal.

"Zayra! Mana wajah kamu? Aku video call ini mau memastikan, siapa tahu wajah kamu jerawatan pas aku tinggal," Arya tak menyerah, suaranya masih terdengar meski sedikit teredam bantal.

Zayra langsung mengangkat ponselnya lagi dan menatap layar dengan pandangan jengkel. "Apa sih? Wajah aku bersih, tahu! Aku udah jarang jerawatan, ya!"

"Oh, ya? Coba deh lihat lebih dekat. Kayaknya ada satu di pipi dekat hidung."

Refleks, Zayra menatap layarnya lebih seksama, mencari-cari kebenaran di balik ucapan Arya. Tidak mungkin, pikirnya. Tapi kenyataan memang tidak selalu berpihak, hm...benar saja, ada jerawat kecil yang baru tumbuh di dekat hidungnya.

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang