Enam Belas

37.3K 2K 24
                                        

"Jadi gimana? Mau, kan?" tanya Arya setelah menjelaskan dengan rinci rencana kolaborasinya.

Zayra menyandarkan kepala di bahu Arya yang duduk di sampingnya. "Aku diskusikan dulu, ya, sama pegawaiku."

"Oke. Besok malam kutunggu jawabannya," jawab Arya.

Tatapan Arya menangkap kegelisahan di wajah istrinya. Zayra tampak tidak begitu antusias. Arya tahu betul bahwa istrinya memang tidak terlalu menyukai hal-hal yang terlalu menyita waktu. Tapi ekspresinya kali ini terasa berbeda.

"Tapi, Mas..." akhirnya Zayra bersuara juga. Tangannya menggenggam lengan Arya dengan lembut.

"Kafe aku lagi menurun reputasinya di mata pelanggan. Itu nggak akan mengganggu rencana acara kamu, kan?"

Arya memahami betul apa yang mengganggu pikiran istrinya. "Enggak, justru ini bisa jadi momen buat kafe kamu bangkit lagi. Saat kondisi sedang nggak ideal, justru penting buat tetap percaya diri dan kasih yang terbaik. Soal tercapainya tujuan acara, itu urusanku. Kamu nggak perlu terbebani."

Zayra kembali menyandarkan kepala di lengan Arya. "Iya, aku coba, ya. Semoga nggak bikin kamu kecewa."

"Kita masih punya waktu sekitar dua bulan buat persiapan. Santai aja, ya?"

*___*

Tengah malam, keduanya terbangun. Suara bel mendadak terdengar. Arya segera keluar kamar setelah memberi sedikit pesan kepada Zayra yang masih setengah mengantuk.

Tak lama, Arya kembali.

"Bude kamu datang," ucap Arya singkat.

"Bude?" Zayra mengerutkan kening.

Arya mengangguk pelan sambil menutup pintu kamar.

"Jam dua malam? Mas, kamu serius? Aku bahkan sudah lama banget nggak komunikasi sama bude. Mana mungkin beliau tiba-tiba datang ke sini? Tahu dari mana juga aku tinggal di sini?"

Arya hanya mengangkat bahu, tidak tahu harus menjawab apa.

"Terus gimana, Mas?"

"Gimana apanya?" Arya sudah merebahkan diri kembali di kasur, tampak enggan memikirkan lebih jauh.

Zayra justru semakin gelisah. "Sekarang beliau lagi ngapain?"

"Enggak tahu. Tadi cuma aku arahkan ke kamar tamu. Kalau memang ada hal penting, besok pagi bisa dibicarakan saat sarapan."

Namun, Zayra tetap tidak tenang. Ia akhirnya memutuskan keluar kamar sendirian. Rasa penasaran membuncah. Ia ingin memastikan, benarkah yang datang adalah budenya?

Pasalnya, sudah bertahun-tahun Zayra tidak bertemu dengan bude dari pihak ibunya. Ia tidak pernah berkunjung, bahkan tidak peduli. Semuanya bermula ketika keluarga ibunya tidak hadir saat pemakaman kedua orangtuanya. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menutup hati pada keluarga ibu.

Ia hampir tiba di lantai dasar ketika mendengar pintu kamar tamu terbuka. Langkahnya langsung terhenti. Ia menahan napas sejenak, memerhatikan sosok yang melangkah keluar dari kamar tamu.

Jantungnya berdetak cepat. Matanya benar-benar tidak mengantuk. Ia bahkan sempat mencuci muka agar lebih segar. Tapi apa yang dilihatnya kini membuatnya meragukan kenyataan.

Siapa itu?

Perempuan yang berada di lantai satu itu... sama sekali tidak dikenalnya.

Itu bukan bude Narti.

Zayra tahu pasti. Ibunya memiliki tiga kakak dan satu adik. Salah satu kakak perempuan bernama Narti, dan hanya itu satu-satunya bude yang ia kenal. Ia pernah berkunjung ke rumah bude Narti saat masih kuliah. Ia ingat betul perawakannya: tubuh sedang dan cukup berisi, rambut ikal pendek, kulit sawo matang dengan garis wajah yang lembut. Tapi perempuan yang kini berdiri di dapurnya... sama sekali berbeda.

Perlahan, Zayra berbalik arah. Ia naik kembali ke lantai atas, menjaga langkahnya agar tak menimbulkan suara. Begitu tiba di kamar, ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dengan hati-hati.

Arya belum benar-benar terlelap. Begitu mendengar pintu kamar terbuka, ia segera bangkit dan duduk di tepi kasur.

Wajah Zayra tampak pucat.

"Ra?"

"Mas!"

Keduanya saling berpandangan, penuh tanda tanya.

"Ada apa?" Arya bertanya pelan, merasa ada yang tidak beres. Wajah Zayra tak pernah sepucat ini, kecuali saat ia sakit. Tapi barusan, perempuan itu terlihat sehat-sehat saja.

Zayra menelan ludah. Suaranya gemetar.

"Orang yang di bawah itu... bukan bude. Aku nggak kenal dia. Dia bukan keluargaku."

Keluarga Zayra yang Arya kenal hanya adik dari ibunya, Paklik Hasan. Ia pernah datang ke acara pernikahan mereka. Laki-laki itu dikenal Arya sebagai sosok ramah. Arya juga tahu, istri Paklik Hasan masih sangat muda, karena beliau menikah dengan gadis belia.

Pernyataan Zayra tadi membuat Arya sedikit panik. "Terus... itu siapa?" tanyanya cepat.

Zayra hanya mengedikkan bahu, bingung sekaligus cemas.

Arya segera turun dari ranjang dan menghampiri Zayra yang masih berdiri dekat pintu. Ia langsung menggenggam tangan istrinya. Tatapan mereka saling bertemu, intens dan penuh tanya.

"Berarti dia orang asing?" bisik Arya di telinga Zayra.

Zayra tak menjawab. Diamnya sudah cukup menjelaskan bahwa mereka sama-sama tak mengenal orang yang datang itu.

"It's okay. Kita hadapi berdua,' ujar Arya, seraya menarik Zayra keluar kamar.

Zayra yang langsung menangkap maksud Arya, bahwa ia akan diajak turun ke bawah menghadapi tamu tak dikenal itu, kemudian ia segera melepaskan genggamannya.

"Enggak mau. Kamu aja yang hadapi. Aku takut..."

"Nggak bisa dong. Kita harus hadapi bareng."

Zayra berbalik dan langsung membenamkan diri di balik selimut.

"Ra, kamu cukup temani aku aja. Sisanya biar aku yang urus."

Zayra sempat ragu, namun ia menangkap ketegangan di wajah Arya. Akhirnya, dengan enggan ia bangkit, lalu berjalan berdua dengan Arya yang kini membawa tongkat bisbol. Mereka menuruni tangga perlahan.

Dari atas, mereka bisa melihat sosok asing itu duduk di meja makan dengan diam, tanpa suara.

Begitu sampai di bawah, Arya tak tahan untuk langsung bertanya, "Maaf sebelumnya, Bu. Istri saya bilang ternyata Ibu bukan budenya. Kalau begitu... Ibu ini sebenarnya siapa?"

Wanita tua itu menoleh perlahan, menampilkan senyum simpul yang entah kenapa terasa mengganggu. "Oh, saya memang bukan budenya," jawabnya tenang.

Arya menyipitkan mata. "Lalu kenapa Ibu tadi mengaku sebagai bude istri saya?"

Wanita itu tertawa kecil. "Saya lagi kesasar. Cari rumah anak saya, namanya Amri. Alamatnya hilang. Tapi seingat saya, dia tinggal di komplek ini. Saya lupa nomor rumahnya. Tadi saya coba cari satpam, tapi semua tidur. Dibangunin nggak ada yang bangun. Ya udah, saya coba rumah ini. Kebetulan Mas-nya langsung bukain pintu waktu saya ngaku-ngaku."

Zayra menghela napas panjang dari anak tangga terakhir. "Astaghfirullah, Ibu..." gumamnya seraya mengusap wajahnya. "Jadi Ibu ini... ibunya Mas Amri? Yang pilot itu?"

Arya menoleh sebentar ke Zayra, lalu kembali menatap wanita di depannya. "Kenapa harus bohong, Bu? Kalau Ibu bilang dari awal, saya pasti bantu carikan rumah Mas Amri."

Alih-alih tampak bersalah, wanita tua itu justru terkekeh. Senyum lebarnya kembali muncul, tampak tidak ramah, tidak juga menenangkan. Lebih seperti... puas.

Arya dan Zayra saling pandang. Tanpa banyak bicara, Arya memberi kode agar mereka segera mengantar wanita itu ke rumah anaknya, jika benar ia punya anak bernama Amri.

Malam itu terlalu aneh. Di tengah gulita, datang seorang wanita tua, mengetuk rumah orang lain, mengaku-ngaku sebagai bude, lalu tertawa-tawa seolah semuanya lucu. Zayra masih merinding. Rasa dingin merayap pelan ke tengkuknya setiap kali ia mengingat senyum wanita itu.

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang