Dua Puluh Enam

40.1K 1.9K 7
                                        

Zayra terbangun mendadak saat suara dering telepon membahana memenuhi kamar. Suara itu berasal dari ponsel Arya yang tergeletak di nakas. Meski telepon berdering berkali-kali, pemiliknya sama sekali tidak bergerak.

Zayra menoleh ke layar dan membaca nama yang menelepon, Carlo Fashion Designer. Ragu, ia tak berani mengangkatnya sendiri. Pilihan terbaiknya adalah membangunkan Arya.

Dengan mata yang masih setengah terpejam, Arya akhirnya menerima panggilan itu. Zayra diam, menahan napas, mendengarkan percakapan yang terdengar jelas dari dekatnya.

"Beneran sudah jadi?" tanya suara di seberang telepon.

"Oke, besok tolong bawa ke ruangan saya, ya. Nanti istri saya coba," jawab Arya dengan suara berat, masih setengah mengantuk.

"Nggak perlu, cukup buat satu aja."

"Jam delapan saya sampai di kantor. Kalau saya belum datang, bisa titip ke ruang sekretaris di sebelah ruangan saya."

"Ada nggak kenalan fotografer yang oke?"

"Saya minta kontaknya, ya."

"Kalau istri saya klik sama yang kamu buat, nanti saya kasih tip lebih buat kamu."

Zayra menelan ludah, sedikit penasaran. Percakapan itu terdengar santai, tapi di matanya, ada aura serius yang menandakan hal ini penting bagi Arya.

Menaruh gawainya, Arya menatap Zayra sejenak. "Ra, besok kamu ikut ke kantorku, ya," ucapnya seraya menurunkan selimut yang membungkus tubuh Zayra. Seketika, Zayra cepat-cepat menarik selimut kembali, menutupi dirinya.

"Mau ngapain?" tanyanya penasaran.

"Cobain gaun pengantin. Aku mau photoshoot after wedding pakai pakaian pengantin," jawab Arya santai.

Zayra terkejut setengah mati. "Ih! Yang benar aja, Mas! Kita udah hampir setahun nikah, masa mau foto-foto pakai pakaian pengantin lagi? Lagipula kan kita udah punya foto pernikahan. Untuk apa foto lagi?"

"Foto pernikahan dulu kurang bagus, Ra. Aku mau foto ulang pokoknya. Kamu ikut aja, deh," Arya menimpali sambil menyunggingkan senyum.

Zayra masih memasang wajah tak setuju, berusaha merangkai argumen penolakan. Tapi semua itu hilang begitu Arya santai turun dari ranjang tanpa busana, membelakangi Zayra untuk mengambil handuk yang tadi dilempar ke lantai. Insting Zayra langsung membuatnya menutup tubuhnya rapat-rapat dengan selimut, terutama bagian matanya, takut melihat sesuatu yang tak seharusnya.

"Temani aku makan, Ra. Aku lapar. Padahal cuma dua kali main tadi, tapi wajar sih, aku kan belum sempat makan dari balik kantor," cerocos Arya tanpa menyadari bahwa Zayra mendengarkan dari balik selimut.

Arya menoleh ke ranjang, baru sadar Zayra diam sama sekali, bahkan napasnya tak terdengar. Tanpa diduga, ia menurunkan selimut yang menutupi Zayra, menatap perempuan itu dengan senyum nakal. "Enggak jadi makan deh, Ra. Kita mandi aja, yuk. Sebentar lagi Magrib."

Seketika Arya meraih Zayra, menggendongnya beserta selimut untuk membawanya ke kamar mandi. Semua itu terjadi sebelum Zayra sempat mengeluarkan suara protes, hanya bisa terperangah dalam keheningan.

*___*

"Jadi sayuran ini ambil dari kebun kamu, Ra?"

Arya memainkan sayur dalam wadah sebelum memasukkannya ke dalam mangkuk. Menunggu Zayra datang menghampirinya untuk menuangkan sayur di hadapannya ke dalam mangkok miliknya. Istrinya itu masih memasukkan kerupuk yang baru digoreng ke dalam toples, karena permintaan tiba-tiba dari Arya yang ingin makan dengan kerupuk. Sontak Arya melepaskan tangan dari sinduk sayur saat Zayra dengan tega memukul tangannya. Dengan gesit Zayra menuangkan sayur yang sudah diaduk-aduk bak mainan oleh Arya ke dalam mangkuk milik laki-laki itu.

"Kamu belum pernah cerita soal kebun kamu itu, ya?" Tanya Arya lagi  sebelum memulai makannya.

Melihat hidangan dalam piring Arya sudah siap dimakan, Zayra baru menuang nasi miliknya. "Udah ya, awal kita nikah aku ceritain semua, termasuk aku yang punya kebun."

"Masa, sih? Aku lupa kayanya."

Zayra mengacuhkan pernyataan sang suami yang kali ini terdengar bawel sekali di meja makan. Ia memulai makannya dengan Arya yang sibuk berbicara mengenai rencananya soal photoshoot after wedding yang akan dilaksanakan tidak lama lagi. Huh, ada-ada saja!

Sejujurnya Zayra juga kurang suka dengan foto-foto pernikahan yang mereka miliki. Selain kata Arya kurang bagus, foto itu tidak memiliki nyawa tersendiri yang membuat orang betah untuk berlama-lama melihatnya.

Mereka menggelar pernikahan di sebuah rumah makan mewah khas Malang, milik salah seorang kerabat Mama. Rumah makan disewa selama kurang lebih enam jam untuk melangsungkan resepsi pernikahan keduanya. Dalam enam jam itu, dirinya dan Arya mengganti pakaian pengantin sebanyak dua kali.

Semua hal pada pernikahan mereka, Mama yang mengaturnya. Termasuk tim fotografer. Sayangnya, tim fotografer telat datang saat prosesi ijab kabul berlangsung. Alhasil, Mama dan saudara lainnya, memotret seadanya saat momen sakral itu berlangsung.

Arya yang tidak mau sang Mama rugi karena telah menyewa jasa fotografer, langsung mengarahkan tempat dan pose ketika tim fotografer datang. Saat itu, ia masih malu untuk bergaya bebas dengan Arya. Begitu jadi, mereka memilih fotonya untuk dipajang dan hanya dua foto yang bagus dilihat. Sisanya, ya... untuk kenangan saja. Sayang sekali sih, sejujurnya.

Ia tidak tahu, mengapa secara tiba-tiba Arya mengajaknya untuk berfoto kembali di waktu pernikahan mereka menjelang satu tahun.

"Nanti kamu mau dandan sendiri atau sewa make-up artist?" Arya memecah lamunannya yang sedang flashback ke masa resepsi pernikahan mereka.

"Em... menurut kamu enaknya gimana, Mas?" Ia bingung juga sih, pasalnya make-up untuk pernikahan itu jelas beda dengan make-up yang biasanya ia gunakan.

"Sewa aja, ya. Kamu cari aja sendiri MUA yang oke, kamu kan perempuan jelas lebih tahu soal begituan."

Zayra menganggukan kepalanya. "Aku cari, tapi kamu yang bayar, ya, Mas."

"Kita fifty-fifty lah, aku kan udah siapkan pakaian pengantin dan fotografernya, kamu make-up nya."

"Ya udah, aku nggak mau ikut photoshoot, kan bukan aku yang mau."

"Fine!, aku yang bayar MUA nya kamu tinggal cari aja."

Zayra tersenyum menang. Padahal kan, ia hanya iseng minta dibayari. Arya terlihat sudah menyelesaikan makannya. Laki-laki itu memundurkan kursi makannya untuk bisa berdiri karena ia akan menaruh piring kotornya ke kitchen sink.

Zayra buru-buru menyuapkan sisa makannya dan berujar, "aku nitip, ya, tolong cucikan!" titahnya seraya menyodorkan piring kotornya pada Arya yang baru jalan beberapa langkah dari meja makan.

Menoleh sekilas, Arya tidak mengambil piring yang disodorkan oleh sang istri. "Biasanya juga cuci sendiri."

"Ya udah aku nggak mau ikut photoshoot, kan bukan aku yang mau."

Dengan bibir mengerucut Arya mengambil piring kotor Zayra.

Melihat ekspresi Arya seperti tadi, Zayra senang bukan main! Biar sajalah sesekali laki-laki itu ia usili. Karenanya juga sih, apa-apa tidak kompromi terlebih dulu. Dirinya juga kan, ingin diajak berpikir atas rencana photoshoot after wedding. Pokoknya ia juga ingin dilibatkan dalam pemikiran-pemikiran Arya.

Arya fokus mencuci piring demi bisa terlaksananya photoshoot dengan baik. Ia membereskan hidangan yang tersisa ke lemari makan. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, keduanya saling pandang.

Arya mengalah, menunda kegiatannya untuk melihat gerangan yang menekan bel.

"Siapa, Mas?"

"Mama, Ra!"

Oh astaga! Mama datang. Pastilah Mama akan bertanya-tanya kembali soal program hamil yang sama sekali belum terlaksana sempurna. Karena ia dan Arya belum berbincang lebih lanjut soal program hamil itu. Berarti ia harus segera berdiskusi dengan Arya, itu artinya ia akan terlibat bersama pemikiran Arya.

Sekalinya berdiskusi dan bertukar pikiran dengan laki-laki itu, mengapa harus soal program hamil yang akan dibicarakan?

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang