Dua Puluh Tujuh

36.9K 1.8K 13
                                        

"Pasti gara-gara kalian sibuk terus, ya? Makanya sampai sekarang belum sempat konsul ke dokter," ucap Mama seraya menghela napas panjang.

Arya hendak menjawab, tapi Zayra lebih dulu bersuara. "Enggak cuma Mas Arya yang sibuk, Ma. Aku juga sibuk. Kami lagi benar-benar padat jadwalnya. Mas Arya masih urus launching produk, aku juga lagi atur persiapan kolaborasi untuk acara launching nanti."

"Memang kapan, sih, launching produk baru kalian itu, Ar?" tanya Mama.

"Enggak lama lagi kok, Ma," jawab Arya singkat.

Mama meluruskan kakinya di sofa bed, menatap keduanya dengan lembut. "Iya, Mama tahu soal anak ini memang urusan rumah tangga kalian. Seharusnya Mama nggak ikut campur. Tapi, Mama bakal senang banget kalau kalian tetap memberi perhatian soal anak, jangan sampai melulu sibuk dengan dunia luar. Percayalah, sebagai orang yang pernah berkarir sambil menjadi orang tua, Mama benar-benar tahu betapa tubuh dan pikiran butuh istirahat, butuh tempat ketenangan. Ajaibnya, anak itu sendiri justru bisa jadi sumber ketenangan saat kita lelah menghadapi hiruk-pikuk dunia kerja."

Zayra meresapi kata demi kata yang keluar dari mulut Mama. Tidak ada yang salah dari nasihat itu. Meskipun ia belum pernah menjadi seorang ibu, hatinya mampu merasakan maknanya.

Dulu, saat ia masih kecil, ia hidup sepenuhnya bergantung pada kedua orangtuanya. Ia sering mendapati sang ibu baru pulang dari kebun ketika ia selesai sekolah. Ibu selalu menyempatkan diri menemaninya makan siang dan mengajaknya berbincang tentang kegiatan hari itu di sekolah. Rutinitas itu selalu dilakukan setiap hari, seolah menjadi oase bagi hati yang lelah.

Menjelang malam, Bapak pun turut menemaninya sebelum tidur. Ia kerap menceritakan pengalaman sehari-harinya, mulai dari interaksi dengan konsumen hingga kejadian lucu saat mengirim hasil panen ke pasar. Kehadiran mereka berdua seakan menegaskan kata Mama bahwa anak bisa menjadi sumber ketenangan dan tempat beristirahat dari penatnya dunia kerja.

"Ya sudah, Mama nggak akan ikut campur lagi soal program hamil. Tapi satu hal yang harus diingat, apapun keputusan kalian, harus dibicarakan berdua. Jangan sampai ada yang merasa terbebani sendiri. Sudah malam, Mama masuk kamar duluan, ya," ucap Hesti, lalu beranjak meninggalkan keduanya.

Begitu Hesti hilang di balik pintu kamar, Arya dan Zayra saling menatap, rasa hangat sekaligus tegang menyelimuti ruangan.

"Tidur sekarang?" tanya Arya sambil menatap Zayra.

"Belum ngantuk," jawabnya singkat.

"Soal Mama yang-" Arya memulai, tapi langsung dipotong Zayra.

"Harus didiskusikan. Benar kata Mama, Mas. Semua soal ini harus jadi bahan pembicaraan kita berdua."

Arya mengangguk, serius. "Setelah acara launching produk selesai, kita bahas dengan santai tapi serius, Ra," ucapnya tegas, membuat Zayra mengatupkan bibirnya dalam-dalam, mencerna kata-kata sang suami.

Bangkit dari permadani berbulu tebal, Arya mulai melangkah menuju kamar mereka yang berada berseberangan dengan kamar Mama. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali mundur, mengulurkan tangan kanannya tanpa sepatah kata, menjemput Zayra untuk ikut bergerak bersamanya. Perlahan, mereka meninggalkan permadani menuju ranjang mereka.

Welcome bed! Malam ini terasa berbeda. Ada getaran baru yang memenuhi udara, buah pikiran baru yang harus segera mereka telaah bersama. Zayra tahu, ketenangan yang biasanya ia rasakan akan sulit kembali hadir sebelum diskusi penting soal rencana memiliki anak ini terlaksana.

Momen itu menegaskan satu hal bagi Zayra, kelak saat menjadi orang tua, satu pembicaraan yang tak boleh dilewatkan sebelum menapaki jenjang pernikahan adalah tentang anak, keputusan, kesiapan, dan tanggung jawab harus dibicarakan berdua, tanpa ada yang merasa terbebani sendiri.

*___*

Bagaimana bisa?

Beberapa hari terakhir, ulasan dan penilaian kafe melonjak naik. Namun kini, Zayra baru saja duduk di ruangannya ketika salah seorang pegawai melaporkan bahwa ulasan itu turun drastis. Lebih parahnya, secara mendadak.

Kepalanya terasa penat, dihantam oleh segala huru-hara, persiapan kolaborasi yang menumpuk, pemikiran soal program hamil, mantan calon istri Arya yang tak henti-hentinya mengunggah foto-foto lama, ditambah lagi masalah penilaian kafe yang merosot.

Argh!

Ia ingin kabur saja, berlibur jauh dari semua ini.

Mengusap kepala sebentar, Zayra mencoba menenangkan diri. Ingat, dirinya adalah perempuan cantik nan berwibawa. "Masalah itu kita urus setelah acara kolaborasi selesai. Enggak usah dipusingkan terlalu dalam, fokus sama yang ada di hadapan kita sekarang," gumamnya dalam hati.

Sebenarnya, ia tak akan terlalu masalah jika kafe ini gulung tikar. Suntikan dana dari Arya dan hasil panen Pak Raden masih bisa menopang hidupnya. Ia bisa mencoba usaha lain jika kafe tak lagi diminati masyarakat Malang.

Namun, ada tanggung jawab lain yang mengganjal. Pegawai kafenya menggantungkan hidup pada usaha ini. Zayra tahu itu karena pernah merasakan bagaimana rasanya hidup bergantung pada gaji orang lain.

Yang membuatnya aneh-sangat aneh-adalah penurunan ulasan ini begitu mendadak di media sosial dan aplikasi pesan antar. Ia sudah mengecek seluruh area kafe tanpa sepengetahuan pegawai. Mulai dari resepsionis sampai cleaning service. Semua rapi, aman, dan sesuai SOP. Menu yang dihidangkan masih sama, tetap dengan cita rasa oriental yang ia racik sendiri sebelum merekrut banyak pegawai. Tidak ada masalah sama sekali.

Pintu ruangannya terbuka lagi, menampakkan Arya, laki-laki yang tadi pagi ribut soal pakaian yang baru dipakai tiga hari lalu, memaksa ingin disetrika untuk keperluan meeting sekaligus mempromosikan produk Carlo Group yang tengah laris.

"Ayo ke kantorku," ucap Arya begitu duduk di lengan sofa.

Sesuai rencana semalam, mereka akan mencoba baju pengantin untuk photoshoot after wedding. Seharusnya pagi tadi sudah terlaksana, sehingga siang ini mereka bisa mulai berfoto. Namun Arya yang super sibuk selalu menjadi alasan gagalnya rencana.

Bangkit dari duduknya, Zayra mengambil satchel bag cokelat muda di meja kerja.

"Ayo," katanya sambil mengulurkan tangan pada Arya, yang masih duduk.

"Buatkan aku satu kopi dulu, oke?" Arya meminta.

"Enggak, Mas. Sebelum berangkat tadi kamu udah minum kopi di rumah."

Arya berdecak, tapi tetap mengikuti Zayra menuju dapur kafe. Aroma kopi hangat yang menyegarkan menusuk penciumannya.

"Aku buatkan smoothies no sugar aja, ya."

Arya mencebik, tapi begitu smoothies siap, ia tetap meminumnya.

"Itu lebih sehat dari kopi, habiskan!" Zayra menegur sambil tersenyum.

Mereka keluar kafe, Zayra berteriak ke pegawai resepsionis, "Kalila, titip kafe, ya!"

Di dalam mobil, Arya belum langsung mengemudi. Ia tampak fokus menyesap smoothies, sementara Zayra mengalihkan pandangan, menatap sekitar kafe dari balik kaca.

Sebuah bisikan ringan terdengar di telinganya, seolah dari Arya, "Ready to go to my office?"

Zayra tersenyum, membalas lirih, "I'm ready to do take photoshoot after wedding."

Mendengar jawaban itu, Arya tertawa ringan. Mesin mobil menyala, dan Arya masih menatap Zayra dengan pandangan hangat. "So, kamu harus siap, Ra, kalau tiba-tiba ada rencana honeymoon ulang setelah pemotretan," celetuk Arya seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda.

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang