Zayra terperangah bukan main begitu memasuki ruang kantor Arya. Tampilan ruang kantor Arya sangat berubah drastis. So catchy!
"Kapan diubahnya, Mas?" Tanyanya pada si pemilik ruangan.
"Belum lama, beberapa hari yang lalulah"
"Kamu, bisa fokus?"
"Sejauh beberapa hari aku tempati ini, nggak ada masalah, sih."
"Keren, deh." Zayra mengacungkan dua jempol pada Arya yang sedang merogoh handphonenya di saku celana, yang langsung dibalas oleh Arya dengan menaikkan alisnya dengan kepala miring dan segaris senyum.
Ruangan ini jadi super nyaman. Tampilannya terasa hangat tapi tetap menyegarkan mata. Aquarium yang semula berada di pojok ruangan dipindahkan di area jendela.
Ia menghampiri ikan-ikan yang sedang menikmati pemandangan kota. Ikut gabung untuk sejenak melepas penat dari segala rupa masalah yang hinggap di kepalanya.
Arya sedang menghubungi desainernya. Juga mengurusi hal lain karena dilihat-lihat sang sekretaris tidak berhenti bolak-balik ke ruang ini. Sedikit nada ketus laki-laki itu ia dengar saat berbincang dengan lawan panggilannya. Sangat disayangkan, ikan-ikan lucu ini mungkin sudah setiap hari meronta-ronta ingin keluar ruangan karena mendengar suara-suara tidak mengenakkan dari pemiliknya.
Bosan menunggu kedatangan desainer, ia mengambil handphone miliknya di dalam tas. Membuka kamera, mengarahkannya pada seisi ruang yang kini ia datangi. Tiga foto dipotret, satu foto berisi tampilan ruangan yang berubah, satu foto berisi pemandangan kota dari balik jendela, dan satu foto lagi pemandangan sang suami yang memasang ekspresi super serius dengan gawai yang menempel di telinganya.
Tangan lincahnya digunakan untuk berpindah pada aplikasi instagram, ia mengunggah ketiga foto itu. Senyumnya puas dengan hasil foto yang diambilnya.
"Ra, tunggu lima belas menit dulu, ya?" Arya mengagetkannya.
"Oke."
*___*
Zayra masih menatap fokus tampilan dirinya di kaca saat mencoba sebuah gaun putih. Mengagumkan. Bagaimana bisa gaun ini terasa pas ditubuhnya, sedangkan ia sama sekali tidak melakukan fitting gaun terlebih dahulu.
Sementara itu, tak jauh dari tempatnya berdiri, Arya pun masih menjatuhkan pandangannya pada Zayra yang kini tengah memutar badannya sedikit-sedikit demi bisa melihat keindahan mahakarya fashion designernya.
Sadar bahwa ia tidak sedang sendiri memperhatikan Zayra, maka seharusnya ia bertanya sedari tadi pada sang istri.
"Gimana, Ra?"
Yang dipanggil berbalik badan, tersenyum menganggukkan kepala. "Nice!"
"Oke deh, kalau begitu! Berarti sudah selesai dong tugas I ya, Pak! Jangan lupa tip yang Bapak janjikan, lho!" Sissy sang desainer bersuara.
"Makasih banyak, ya Sissy! Gaunnya bagus banget." Zayra tersenyum senang.
"Cucok banget! Emang you aja yang cantiknya kebangetan, lihat noh, your husband hampir ileran lihat your body."
Pipi Zayra merona merah tanpa disadari.
Arya yang melihat rona merah timbul itu diam tak bersuara, tapi otaknya berencana lain. "Tunggu dulu Sis, berhubung fotografernya masih dijalan, saya minta tolong untuk fotokan saya dan istri. Pakai handphone saya."
Sissy mengerlingkan mata. Namun begitu, tetap diterimanya handphone sang klien yang disodorkan padanya.
"Mau berapa foto?" Tanyanya pada sepasang suami istri yang tengah memposisikan diri masing-masing untuk siap dipotret.
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
