Sembilan Belas

38.4K 1.9K 19
                                        

Zayra hari ini begitu sibuk merampungkan agenda kolaborasi yang diminta oleh suaminya. Ia berusaha menyusun konsep semenarik mungkin, tentu saja sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi perusahaan Arya.

Entah mengapa, pendingin ruangan justru terasa menimbulkan hawa panas. Mungkin saja karena rasa gugup yang menyelimutinya sejak tadi. Sudah lama ia tidak berinteraksi dengan orang di luar lingkaran kenalannya. Kini, ia harus berhadapan dengan rekan kerja baru yang kerap mengirim pesan atau menelepon timnya untuk berdiskusi soal kolaborasi ini. Rutinitas berbaur dengan orang baru inilah yang membuat rasa groginya semakin menjadi-jadi.

Sebetulnya, Zayra bukan tipe orang yang mudah bergaul, meski ia cukup menikmati bersosialisasi. Temannya banyak, dan mungkin itulah salah satu alasan kafenya berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Namun, ia cukup selektif dalam memilih siapa yang benar-benar masuk kategori teman karib.

Seperti hari ini, ia tiba-tiba menerima pesan dari salah satu sahabat dekatnya, teman kos saat ia bekerja di ibu kota dulu.

From: Risti

Mbak Zayraaa!!!
Apa kabar???

Kafemu makin keren, ih!
Aku mau main ke kafemu 😩

Pengirim pesan itu adalah Risti, pemilik laundry ternama di daerah kos mereka dulu. Kini, karyawan laundr­y-nya mungkin sudah mencapai puluhan orang, bahkan ia telah membuka banyak cabang. Zayra membalas pesan itu dengan semangat. Ia memang cukup merindukan keceriwisan perempuan ini.

From: Risti

Aku mau pesan kopinya, bisa nggak, Mbak? Tapi nggak perlu dikirim kesini, kok.

Aku pesan kopi sama cookies, tapi tolong bagiin ke siapa aja yang membutuhkan. Aku mau merayakan ulang tahun aku. Tahun ini, Tuhan kasih keistimewaan banyak banget buatku, Mbak.

To: Risti

Tentu bisa pesan dong, Ris.

Kamu keren banget! Aku ikut senang dengarnya, selamat ulang tahun ya Risti-ku. Semoga sedekahmu membawa berkah. Terima kasih ya, sudah pesan ke kafeku. Aku akan secepat mungkin untuk selesaikan pesananmu ✨

Zayra gegas membagi tim untuk acara dadakan dari Risti. Ia menyudahi kirim pesan dengan teman karibnya itu dengan saling menyemangati antar pengusaha. Zayra senyum-senyum sendiri dibuatnya.

Risti ini, ia sudah memprediksi akan sukses seperti sekarang. Perempuan yang berani, gigih dan selalu all out jika mengerjakan sesuatu. Ia tidak akan aneh jika hari ini Risti menjadi orang nomor satu yang ibu-ibu cari guna membersihkan baju keluarganya.

Tim sudah dibagi, ia kembali lanjut mengerjakan pekerjaannya. Namun tiba-tiba dering teleponnya berbunyi.

Arya Suamiku is calling...

"Iya, Mas?"

"Kamu lagi di kafe, kah?"

"Iya."

"Nanti siang aku jemput, kita makan siang bareng."

"Kamu kan, udah aku buatkan bekal? Aku juga udah bawa bekal."

"Iya, tapi nanti kita makannya bareng."

"Aku ngikut deh, terserah."

"Oke."

Panggilan langsung diputuskan oleh Arya.
Bagaimana sih Arya ini? Pagi tadi ia bilang ingin dibuatkan bekal saja, katanya akan sibuk di kantor dan malas memesan makan. Saat ditanya ingin bekal apa, jawabnya cuma, "Terserah." Sekarang, tiba-tiba bilang ingin makan siang bersama, padahal bekal sudah dibuatkan untuk dimakan di kantor.

Masalahnya, kalau makan siang bersama Arya, Zayra ingin memilih makanan yang menguras dompet suaminya itu, bukan sekadar menyantap bekal yang ia masak sendiri.

Ah, terserah Arya sajalah!

"Cemberut terus, Bu Bos? Padahal kafe lagi ramai, lho. Enak, kan? Setelah beberapa minggu kemarin sepi nggak ada kegiatan," sapa petugas kebersihan kafe itu sambil tersenyum.

"Iya sih. Tapi saya malah pusing. Mungkin karena sudah terbiasa nggak terlalu banyak kerjaan, ya."

"Pusing, Bu? Coba minta Pak Bos ajak jalan-jalan tipis. Kayaknya itu pusing karena kurang refreshing. Kemarin saya juga gitu. Kepala rasanya berat, padahal kerjaan nggak terlalu banyak. Eh, diajak Pak Su keliling naik motor berduaan kayak lagi pacaran, langsung hilang pusingnya."

Zayra terhenyak seketika.

Jalan-jalan, ya? Agaknya Zayra sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan itu.

Tapi mengajak Arya turut serta untuk jalan-jalan, sepertinya itu adalah hal yang buruk. Laki-laki itu pastilah akan mengatakan aku sibuk, kerjaanku lagi numpuk-numpuknya, atau yang paling sering diucapkan aku lagi malas, Ra.

Terakhir kali dan menjadi pertama kalinya mereka jalan-jalan bersama setelah hari pernikahan mereka. Arya masih mendapatkan cutinya. Hanya ke Bandung. Menginap di villa milik keluarga Arya. Itu pun hanya dua hari satu malam. Dan, tidak melakukan apa-apa karena keduanya masih terasa canggung.

Saat itu keduanya sampai larut malam karena terlalu sore berangkatnya. Tiba-tiba Bandung diguyur hujan. Untuk sampai ke villa, keduanya harus jalan beberapa meter dan itu melewati hujan dan angin kencang.

"Kamu nggak mau sharing payungmu, Mas?"

"Payungnya cuma cukup untuk satu orang aja, kamu pakai tangan aja buat lindungin ubun-ubunmu."

Zayra mendelik. Benarkah yang kemarin pagi menikahinya adalah orang itu.

Tak lama, keduanya sampai di kamar masing-masing. Tapi lagi-lagi Arya selalu mendapatkan yang enak-enak.

"Kamarku nggak ada selimutnya tau, Mas. Mau tukeran kamar nggak? Please..."

"No. Pakai jaketku kalau kedinginan. Atau kalau kamu berani ke rumah penjaga villa minta selimut."

Zayra kembali ke kamarnya dengan kaki yang dihentakkan ke lantai.

Ah! Ia tidak mau berlibur bersama Arya lagi! Laki-laki itu menyebalkan bukan main! Biar saja ia terlihat pusing dimata orang-orang. Ia harus bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa jalan-jalan keluar negeri sekaligus seorang diri.

*___*

"Dimakan dong, Ra. Itu kan kamu yang masak. Masa kamu sendiri nggak menghargai masakanmu."

"Ini juga lagi aku makan!"

"Oseng toge terenak yang pernah aku makan cuma buatan kamu. Atau jangan-jangan… kamu masaknya benar-benar niat, ya? Karena mau melancarkan keinginan Mama untuk punya cucu?"

"Hah?"

Arya menaikkan sebelah alisnya, bibirnya terangkat membentuk senyum penuh godaan.

"Aku masak ini karena lagi pengin makan, ya! Bukan buat promil atau hal-hal semacam itu."

Arya langsung terbahak mendengar jawabannya.

"Tanpa harus promil atau sejenisnya, seharusnya Mama tahu, sih… kalau anaknya ini mampu, bahkan sangat bisa untuk membuat tim kesebelasan beserta cheerleader-nya."

"Mas Arya!"

Zayra benar-benar tidak mengerti kenapa topik pembicaraan suaminya tiba-tiba mengarah ke sana. Hal semacam itu jarang sekali mereka bahas saat berdua.

"So, besok bakal masak toge lagi, nggak?" tanya Arya sambil tersenyum.

"Iya! Karena kamu bilang enak, berarti akan aku masak terus menu yang sudah kamu puji enak."

"Oke, berarti nggak lama lagi kita bakal makan siang bertiga."

Tatapan Arya kemudian bergeser ke arah perut Zayra, yang kini tertutup baju oleh-oleh dari Mama saat pulang dari Jepang, dilapisi cardigan hitam.

Zayra sempat bertatapan dengannya, tapi segera memalingkan wajah begitu sadar kemana arah pandangan Arya. Entah kenapa, ada rasa salah tingkah yang merambat begitu saja.

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang