Enam

47.9K 2.6K 29
                                        

"Gua nggak datang dulu deh. Kerjaan lagi numpuk banget," ucap laki-laki itu, disusul hembusan napas berat.

"Sebentar aja, Ar. Sekalian ngopi," Alfi tetap bersikeras mengajak teman yang dikenal workaholic itu.

"Pas jam makan siang aja, gimana? Kita ketemuan di resto, habis makan mampir bentar ke sana. Habis itu lu bisa lanjut ngurus kerjaan lagi." Alfi masih berusaha merayu.

"Nanti gue kabarin deh, sekitar jam sepuluhan." Akhirnya Arya menyerah juga, terlalu lelah untuk terus menolak.

Di hadapannya, setumpuk berkas tampak seperti mengejek, berterbangan ke sana ke mari tertiup angin dari jendela yang sejak pagi ia buka lebar-lebar.

Kantor ini adalah kantor pusat dari perusahaan pakaian ternama, didirikan oleh almarhum sang kakek empat puluh enam tahun lalu. Dari sini, lahirlah pakaian kasual dan formal yang dikenal karena kualitas dan desainnya yang otentik. Konsistensi menjadi daya tarik utama yang membuat perusahaan ini bertahan dan terus berkembang lintas generasi.

Tak mengenal batas usia—tua, muda, remaja, hingga bayi—semuanya bisa menjadikan Carlo sebagai brand andalan untuk mempercantik isi lemari pakaian.

Awalnya, Arya hanya fokus menangani lini pakaian remaja. Sampai suatu hari, ayahnya—pemegang tampuk utama perusahaan—mengalami serangan jantung saat memimpin rapat peluncuran koleksi baju hari raya bagi umat muslim.

Diskusi yang kala itu belum selesai, hingga kini belum ia lanjutkan. Ia memilih menundanya. Bukan tanpa alasan, ia tak ingin terlibat dalam kontroversi atau memicu perdebatan antar pelanggan dari berbagai latar agama hanya karena brand-nya merilis busana muslim.

Lima tahun sudah ia menduduki kursi yang kini terasa semakin berat menanggung beban. Siapa sangka, lulusan sarjana informatika itu justru terjun ke dunia fashion, dunia yang dulu sama sekali asing baginya.

Beberapa minggu setelah pemakaman Hardi Pangestu—bos besar sebelumnya sekaligus ayahnya—sang ibu, Hesti, sempat menolak keras keputusannya untuk melanjutkan kepemimpinan perusahaan.

Trauma katanya.

Selama bertahun-tahun hidup dengan pria yang gila kerja, Hesti tak bisa memungkiri bahwa dirinya sering merasa kesepian. Bahkan, satu-satunya liburan yang pernah mereka jalani hanyalah saat bulan madu. Setelah itu, hidup mereka nyaris habis untuk pekerjaan sampai ajal menjemput di ruang rapat.

Tak ingin hal yang sama terjadi pada Arya, Hesti sempat memohon sambil menangis agar perusahaan itu dijual saja.

Tapi Arya tak ingin menyerah begitu saja. Ia membuat kesepakatan, bahwa ia akan rutin mengunjungi ibunya, yang sebenarnya tinggal tinggal jauh dari rumahnya.

Dengan berat hati, Hesti akhirnya menyetujui. Dan kini, sang putra sulung itu berhasil melebarkan sayap perusahaan hingga ke berbagai penjuru negeri.

Dingin dari udara yang terserap ke kulitnya membuat tubuh Arya bergidik. Ia berjalan ke arah jendela dan menutupnya perlahan. Sepertinya Paris mulai memasuki musim dingin.

Ia juga mematikan pendingin ruangan untuk menetralkan suhu. Denting notifikasi dari ponsel terdengar, ponsel yang tadi sempat ia pakai untuk menerima telepon dari teman rusuhnya itu.

From: Alfi
Send a picture

Alfi mengirimkan sebuah gambar, tampaknya hasil tangkapan layar dari story Instagram. Perempuan dalam gambar itu adalah sosok yang menjadi bahan perdebatan mereka di telepon tadi.

Dalam foto tersebut, tampak seorang perempuan berdiri di depan sebuah bangunan ruko bergaya klasik bertuliskan “Sweet’s Jewelry.” Ia mengenakan gaun putih sepanjang betis. Masih sama. Semuanya yang ia kenakan tetap terlihat sebagus dulu.

Tak lama kemudian, pesan lain kembali masuk dari Alfi, yang rupanya masih belum menyerah mengajaknya.

From: Alfi
Beneran nggak mau ketemu dia?

Arya menghela napas. Serius, orang itu benar-benar cari perkara. Ia sudah bilang akan mengabari sekitar pukul sepuluh. Sekarang masih jam sembilan, dan ia masih diteror oleh ajakan yang sama.

Ia tidak berniat membalas. Sebagai gantinya, ia beranjak menuju pantry untuk membuat kopi. Di sini, ia tidak bisa menyuruh Pak Kardi, asisten dapur yang biasanya dengan sigap membuatkan kopi di sela-sela kesibukannya. Ia memang pernah mencoba merekrut barista atau asisten dapur di negeri ini, tapi tak satu pun bisa menyamai cita rasa kopi buatan Pak Kardi.

Bel pintu berbunyi. Arya berjalan menghampiri, menatap layar sensor di balik pintu, lalu menekan tombol OK setelah memastikan bahwa orang di luar adalah salah satu anggota tim yang ikut serta ke Paris.

"Maaf, Pak. Mengganggu waktunya. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Boleh minta waktunya sebentar?" ujar perempuan itu sopan.

"Boleh, tapi tunggu sebentar. Saya sedang buat kopi dulu."

Arya berjalan ke arah sofa dan mempersilakan karyawan perempuan itu untuk duduk.

"Duduk dulu. Tunggu saya di sini," katanya sebelum kembali ke pantry.

Satu-satunya orang yang pernah berhasil ia ajari membuat kopi selain Pak Kardi adalah istrinya. Zayra, yang kini sedang serius mendalami dunia perkopian. Mungkin bukan hal besar bagi Zayra, tapi bagi Arya yang sangat selektif soal rasa kopi, hanya ada dua orang yang ia percaya. Dan Zayra adalah salah satunya.

Zayra cukup cepat menangkap detail saat ia mengajarinya. Tak heran jika ada lembur di rumah, Zayra selalu menjadi pengganti andalan Pak Kardi.

"Apa yang perlu dibicarakan?" tanyanya begitu ia duduk di sofa tunggal. Ia lebih dulu meletakkan secangkir kopi dan segelas jus jeruk di atas meja marmer berwarna abu-abu.

"Itu, Pak... terkait desain kemeja kasual berbahan flanel," jelas perempuan itu, sedikit ragu. "Tim desain mendapati indikasi plagiasi dari salah satu brand lain yang cukup punya banyak pengikut di media sosial. Beberapa media malah berspekulasi kalau perusahaan kita yang meniru, karena produk mereka lebih dulu didistribusikan. Dampaknya, beberapa toko dan grosir memutuskan untuk tidak memasukkan produk kemeja baru kita ke etalase. Bagaimana ya, Pak?"

"Masalah seperti itu lagi…" Arya menghela napas. "Nggak usah terlalu khawatir. Biarkan saja toko-toko yang tidak mau ambil barang kita. Kita fokus saja pada pelanggan setia. Suruh kepala produksi tetap gunakan bahan dan warna yang sesuai. Buat poster peluncuran produk semenarik mungkin untuk disebar di semua media sosial perusahaan dan pegawai. Divisi promosi, tampilkan detail bahan dan serat kain yang digunakan dalam iklan."

"Oh ya, satu hari sebelum launching, kita adakan pameran fashion di Jakarta. Untuk acara ini saya mau kolaborasi dengan usaha istri saya. Karena produk baru ini target pasarnya anak muda, saya akan padukan dengan konsep kafe. Kita adakan pelatihan membuat kopi atau makanan dari kafe istri saya. Bisa juga ditambah games atau lomba ringan, dan produk baru kita jadi hadiahnya, bentuknya bisa berupa voucher atau potongan harga."

"Sampai sini, jelas?" Arya menyudahi penjelasannya.

"Baik, Pak. Tapi kami belum tahu apakah penjualan akan capai target atau tidak karena keputusan mendadak dari beberapa distributor. Selain itu, berarti kita butuh fee tambahan untuk tim dari kafe istri Bapak."

"Tenang, urusan fee di luar anggaran perusahaan akan saya tanggung sendiri. Uang perusahaan tidak akan tersentuh. Tetap buat prediksi penjualan, kita jadikan bahan evaluasi. Dan hasil penjualan dari produk ini tidak akan saya pakai untuk kebutuhan kolaborasi. Santai saja, saya juga nggak akan minta laporan itu dalam waktu dekat."

"Baik, Pak. Akan saya teruskan penjelasan ini ke divisi terkait."

"Silakan."

Arya menyilangkan kakinya, tersenyum kecil. Dalam benaknya, ia membayangkan reaksi Zayra saat menerima kabar kolaborasi mendadak ini. Sejujurnya, rencana itu muncul begitu saja. Hanya karena ia merasa sudah cukup lama tidak menjahili istrinya.

Zayra adalah tipe yang tidak suka hal mendadak. Ia pasti akan manyun selama seminggu penuh. Tapi Arya pikir, biar saja. Toh acara itu masih dua bulan lagi. Sesekali, Zayra memang perlu sedikit kesibukan ekstra.


Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang