Keduanya baru bisa melajukan mobilnya sekitar pukul sepuluh malam. Untuk sampai ke rumah, sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka Arya tidak melanjutkan perjalanan laju mobilnya ke daerah rumah mereka. Katanya, khawatir ada sesuatu yang membahayakan di jalan karena sudah larut malam.
Zayra dibawa singgah ke sebuah hotel berbintang empat yang mereka lewati. Kini Arya sedang melakukan pemesanan kamar dengan dirinya yang duduk tidak jauh dari tempat resepsionis.
"C'mon, Ra." Ucap Arya memberitahu bahwa mereka sudah fix akan menginap di hotel.
Seumur-umur ini pertama kalinya ia menginap di hotel. Ia sering singgah di hotel untuk ikut kegiatan-kegiatan yang berlangsung selama dua atau tiga jam. Seperti seminar, pelatihan atau pertemuan-pertemuan kantor saat ia dulu masih jadi karyawan perusahaan. Tapi untuk bermalam, ia belum pernah merasakan, disamping tidak ada keperluan yang mementingkan dirinya untuk bermalam, mengeluarkan sejumlah uang hanya untuk bermalam menikmati fasilitas hotel rasanya ia agak menyayangkan.
Kini, ia masih membuntuti Arya, berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan langkah Arya yang cepat. Mau apa sih, laki-laki itu jalan cepat sekali seperti kuda.
"Kok, nggak sampai-sampai sih, Mas?" Zayra bertanya setelah bermenit-menit mereka berada di lift.
"Nggak tahu, rusak kali liftnya."
Zayra terperangah. Terdiam sejenak, seraya menahan napasnya.
Tapi memang lift ini tidak terasa jalan. Tapi, kan ada beberapa lift yang tidak terasa jika sedang naik atau turun. Apalagi tempat ini adalah sebuah hotel berbintang empat. Walau hanya bintang empat, tidak menutup kemungkinan jika hotel ini memakai lift yang canggih.
Namun tangannya justru mulai gemetar. Di otaknya sudah terdoktrin atas pernyataan Arya yang baru disampaikan. Berkali-kali ucapan Arya terngiang di benaknya. Membuat tubuhnya mengeluarkan keringat yang membanjiri punggungnya.
Rusak kali liftnya.
Rusak kali liftnya.
Rusak kali lift—
"Kayaknya memang benar liftnya eror. Masa ke lantai sembilan belas aja kita nggak sampai-sampai. Hampir lima menit. Lebih malah." Arya berbicara dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.
Zayra pucat pasi. Tangannya langsung menggenggam erat telapak tangan Arya. Berupaya tenang, meski detak jantungnya sudah bertalu-talu keras.
Ah! Tahu begini ia tidak menyetujui saran Arya untuk menginap di hotel. Lebih baik melewati jalanan sepi menuju rumah mereka. Tempat yang dikira aman dan nyaman justru membawa malapetaka.
Dilihatnya Arya yang berkali-kali menekan tombol emergency. Sungguh meski ia tidak melihat raut pias Arya saat ini, tentulah laki-laki itu pasti sama paniknya dengannya.
Arya menengokkan kepala pada perempuan yang kini telah merangkul kencang tangannya, yang semula hanya menggenggam telapak tangan. Mengeluarkan tawa kecilnya.
"Ada-ada aja, ya." Ucap Arya diujung tawanya.
Mendengar Arya tertawa dan berbicara seolah ini bukan sesuatu yang mencekam, Zayra justru mengeluarkan setetes air matanya.
"Jangan panik, Ra. Tenang, tarik napas pelan-pelan."
Zayra mengikuti instruksi Arya. Meski hasilnya sama saja, dirinya masih panik bukan main.
Pasalnya, ia bukan sekali dua kali melihat berita yang tersebar soal manusia-manusia yang mati mengenaskan karena terjebak di lift.
"Sekarang kita ingat-ingat pengalaman yang menyenangkan, semacam flashback."

KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...