Sepuluh

46.8K 2.4K 6
                                        

From: Arya Suamiku

Lagi di mana? Jemput aku, dong. Males naik taksi.

Zayra yang tengah bersantai di atas sofa ruang tengah sontak mengangkat tubuhnya saat mendengar notifikasi pesan masuk dari suaminya. Isinya permintaan untuk dijemput.

To: Arya Suamiku

Yah... aku juga lagi males jemput, tahu.

Hari ini Zayra memang sengaja tidak pergi ke mana-mana. Ia ingin menyambut kepulangan suaminya dengan bersantai di rumah. Tapi suaminya yang menyebalkan itu memang suka seenaknya. Padahal semalam, saat menelepon, Zayra sudah bilang akan menunggunya di rumah tanpa pergi ke mana pun.

From: Arya Suamiku

Fine! Oleh-olehnya dibatalin.

Zayra langsung bangkit dari sofa. Kali ini sungguh-sungguh bangkit. Ia mengambil sweater untuk menutupi dress bertali satu yang melekat di tubuhnya, lalu membuka laci untuk mengambil kunci mobil.

To: Arya Suamiku

Lima menit lagi aku sampai!

Sebenarnya, Zayra tidak berniat menyetir tergesa-gesa. Tapi entah mengapa, kaki dan tangannya bekerja lebih cepat dari niatnya.

Begitu sampai, matanya langsung menangkap sosok Arya yang berdiri tegap di tepi jalan, satu tangan memegang koper.

Mendekat, Zayra berseru, "Aku cepat, kan?"

"Hm. Lebih cepat dari angin," sahut Arya sambil memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu mengamit lengan Zayra.

"Mana kunci mobilnya?"

Zayra langsung menyerahkannya tanpa banyak tanya.

*_______*

Arya memarkirkan mobilnya begitu tiba di halaman rumah. Zayra turun lebih dulu, meninggalkan Arya yang masih sibuk memasukkan mobil ke garasi.

Zayra menuju dapur dan menuang segelas air mineral. Tak lama, terdengar suara pintu tertutup. Arya datang menghampirinya, menerima gelas yang disodorkan Zayra. Ia menarik kursi di meja makan dan menghabiskan air dalam sekali teguk.

Tanpa banyak bicara, Arya bangkit, mencuci tangan di wastafel, lalu membuka kulkas.

Zayra yang berdiri di dekat dispenser memperhatikan gerak-gerik Arya. Ia sudah menduga, setelah ini pasti akan ada omelan. Baru saja sampai rumah, bukannya membersihkan diri, Arya malah langsung mengecek kulkas.

"Kamu nemuin dia?" tanya Arya, masih membungkuk di depan kulkas.

Zayra menjawab dengan cengiran lebar.

'Terus kamu habiskan dia?"

Zayra mengangguk mantap.

"Ck! Kalau tahu habis, tadi kita mampir beli dulu," gerutu Arya sambil menutup pintu kulkas, lalu mengangkat koper dan membawanya ke kamar mereka di lantai dua.

"Belikan lagi sana, di minimarket depan! Aku mau mandi dulu!" teriaknya dari tangga.

"Ih, Mas Arya! Aku nggak mau keluar rumah lagi!" sahut Zayra dengan kesal.

"Siapa suruh dihabisin?!"

Zayra mengekor ke lantai atas sambil mencibir kesal.

Sesampainya di kamar, Arya meletakkan koper di lantai.

"Nih, kalau kamu nggak mau belikan, beresin aja barang-barangku di koper," ucapnya seenaknya.

Dasar laki-laki menyebalkan, tukang menyuruh!

Call It What You Want (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang