"Kalian diskusikan dulu saja dengan semua divisi. Hasil diskusi bisa langsung diserahkan ke saya setelah rapat. Usahakan hasilnya jelas dan tepat. Tidak perlu terlalu khawatir soal ulasan dan rating yang menurun. Satu hal yang paling penting untuk dikhawatirkan adalah kekompakan tim. Kita benahi dulu internalnya, ya. Tenang saja, semua akan terlewati."
"Baik, Mbak. Nanti saya sampaikan ke semuanya. Saya permisi dulu ke ruangan."
Ratih, manajer kafe yang telah bekerja dengannya selama tiga tahun terakhir, menjawab dengan sopan. Mereka pertama kali bertemu saat berpapasan di halte bus, ketika masih bekerja di kantor pusat yang sama.
Zayra dulu adalah karyawan pemasaran di perusahaan penghasil raket nyamuk, sedangkan Ratih bekerja di divisi produksi bahan-bahan pembuat raket tersebut.
Hidup di ibu kota, berpakaian rapi dengan riasan wajah yang selalu sempurna, membuat Zayra hampir lupa bahwa sejatinya ia hanya manusia biasa yang butuh melanjutkan hidup. Ia sempat terlena dalam kehidupan yang berpusat pada pekerjaannya saat itu.
Namun, keinginan untuk membangun kafe perlahan muncul. Setiap kali ia menyempatkan diri mampir ke kafe-kafe terkenal—bukan sekadar untuk menyeruput kopi di tanggal gajian—ia merasa ada sesuatu yang memanggilnya.
Dengan niat yang mantap dan modal yang cukup, ia akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah kafe di kota kelahirannya, Malang, kota yang dikenal dengan hasil perkebunannya yang melimpah.
Dari situlah lahir Garden Cafe, sebuah kafe yang menjadi wadah bagi inspirasinya. Selama proses pembangunan, ia pun mulai menanam berbagai tanaman yang akan dijadikan pelengkap sekaligus hiasan di kafe miliknya.
Kemampuannya menanam dan merawat tanaman diturunkan dari mendiang ibunya, seorang petani kubis dan wortel beberapa tahun silam. Sementara itu, jiwa manajemen dan naluri bisnisnya tampaknya diwarisi dari sang ayah yang pernah menjadi penjual hasil panen sekaligus pemasok hasil panen ke beberapa pasar dan toko sayur besar.
Sayangnya, kedua orang tuanya telah tiada saat ia berhasil mewujudkan impian membangun sebuah kafe, yang kini telah memiliki tiga cabang di kotanya. Bagi Zayra, kafe bukan sekadar sumber penghasilan. Lebih dari itu, kafe adalah wujud dari jati dirinya yang dahulu, ketika hidup masih penuh kehangatan dan cinta dari keluarga.
Dulu, ia merasa dicintai, dirindukan, dan dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Kehangatan itu menyelimuti hari-harinya, menciptakan rasa aman dan nyaman yang sulit dilupakan.
Namun, menjelang kelulusan sarjananya, ia dihadapkan pada momen paling tragis dalam hidupnya. Sepulang dari kampus setelah mengurus berkas kelulusan, ia mendapati rumahnya dalam keadaan kacau dari balik pagar. Tanaman gantung di teras rumah berjatuhan, beberapa pot menggelinding hingga halaman. Tempat sampah berserakan, pintu tampak rusak, dan beberapa kaca jendela pecah.
Namun, kekacauan itu belum seberapa. Di ruang keluarga, ia menemukan kedua orang tuanya tergeletak bersimbah darah. Sosok yang seharusnya pertama kali ia kabari tentang kelulusannya, justru menjadi sosok yang ia temui dalam kondisi tak bernyawa.
Keduanya meninggal di tangan keluarga sendiri, adik kandung sang ayah—pria dengan perangai biadab yang tak termaafkan.
Kasus itu diusut hingga tuntas. Zayra rela menjual berbagai barang elektronik di rumahnya untuk membiayai proses hukum demi membongkar tuntas kejahatan yang merenggut orang-orang tercintanya.
Dandi—adik kandung ayah—memiliki keluarga dengan tiga anak yang masih kecil. Suatu hari, ia datang meminjam uang kepada ayah untuk membiayai sekolah anak pertamanya yang akan masuk SD. Namun, ayah menyarankan agar anak tersebut dimasukkan ke sekolah negeri saja, agar tidak memberatkan biaya. Alasan ayah cukup sederhana, ia tak memiliki banyak tabungan karena baru saja mendaftar untuk berangkat umroh.
Sayangnya, istri Dandi tetap bersikeras ingin menyekolahkan anak mereka di sekolah swasta ternama. Perselisihan pun tak terelakkan. Dandi merasa tak dihargai sebagai adik, merasa bahwa sang kakak tak peduli pada keluarga sendiri. Ia bahkan mengungkit masa lalu, ketika Dandi bujangan yang mengantar jemput Zayra saat masih SD—padahal, hal itu ia lakukan karena Dandi sedang tidak bekerja, bukan karena permintaan dari siapa pun.
Ketegangan itu memuncak. Diam-diam, Dandi menyelinap ke rumah dan merusak sebagian besar bagian rumah dan isinya. Beberapa tetangga sempat mendengar teriakan dan suara-suara seperti orang yang sedang dilanda frustasi hebat. Hingga akhirnya, Dandi melakukan hal paling tragis, menghabisi nyawa ayah dan ibu demi merampas uang yang tak pernah benar-benar tersedia.
Kasus itu diusut hingga tuntas. Hasilnya, Dandi dinyatakan mengidap gangguan jiwa dan kini masih mendekam di balik jeruji besi.
Sejak tragedi itu, tak satu pun keluarga dari pihak ibu yang datang menjenguk Zayra atau sekadar menanyakan kabarnya. Ia pun memutuskan menjual rumah beserta isinya, berusaha menghapus setiap jejak kenangan buruk yang masih terus menghantui.
Perjalanan hidupnya pun dimulai kembali. Ia pindah ke ibu kota dan bekerja tanpa kenal lelah, berusaha bangkit dari luka yang mendalam.
Namun, ada satu hal yang selalu ia rindukan, yakni momen berkebun bersama ayah. Kebun kecil tak jauh dari rumah lama mereka, yang selalu menghasilkan buah dan sayur segar. Setiap kali ia merasa rindu pada kedua orang tuanya, kebun itulah tempat ia pulang. Kebun itu tak akan pernah ia jual. Hanya di sanalah, kenangan baik tentang keluarganya tetap hidup. Buah dan sayur yang ia panen sering ia bagikan kepada teman-teman kos dan rekan-rekan kantor, yang menjadi sebuah kebiasaan kecil yang memberinya kehangatan tersendiri.
Kini, berdirinya kafe ini menjadi bentuk lain dari harapannya. Harapan agar siapa pun yang datang bisa merasakan kehangatan yang sama, bagi mereka yang kehilangan tempat untuk pulang, bagi mereka yang merindukan sesuatu atau seseorang yang telah lama tiada.
Kafe ini... sejatinya, bukan hanya tempat singgah. Tapi tempat di mana hati yang dingin bisa kembali hangat, dan rindu yang menggantung bisa menemukan tempat untuk bersandar.
Dan yang paling berharga dari semua ini—berkat kafe ini, Zayra akhirnya menemukan keluarga baru. Orang-orang yang bukan hanya bekerja bersamanya, tapi juga menerimanya dengan hangat dan tulus. Orang-orang yang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, membuatnya kembali merasa dirindukan.
*___*
Tangannya sibuk menggulir layar Instagram. Ia membaca komentar-komentar di postingan terbaru akun kafe miliknya. Sudah lima belas menit ia menelusuri semuanya, lalu menyimpan beberapa tangkapan layar sebagai bahan evaluasi untuk dibahas bersama timnya.
Ia kembali ke beranda. Di urutan teratas cerita Instagram, muncul nama pengguna salah satu teman kantor suaminya, yang termasuk pelanggan setia kafenya. Jempolnya refleks menyentuh foto tersebut.
Tampak sekelompok orang berdiri di depan sebuah toko perhiasan. Wajah-wajah yang tak asing baginya. Ia mengenali beberapa rekan kerja Arya yang sering datang ke kafe atau ikut dalam pertemuan informal. Tapi yang membuat napasnya tercekat adalah sosok perempuan di tengah foto itu, mengenakan gaun putih berkilau yang tampak paling mencolok di antara yang lain.
Ia langsung membuka pesan.
To: Arya suamiku
Kamu lagi di mana, Mas?
Baru beberapa detik setelah terkirim, ia menghapusnya. Kalimat itu terdengar terlalu mengintrogasi. Arya biasanya enggan menjawab pertanyaan seperti itu.
Ia mencoba lagi.
To: Arya suamiku
Mas, kamu lagi ngapain?
Tapi pesan itu pun tak bertahan lama. Ia menutup kolom obrolan, membuka kembali, membaca pesan yang sudah centang dua. Lalu menghapusnya juga.
Ia menarik napas. "Nanti saja," gumamnya. Mungkin nanti Arya akan menelepon. Ia bisa menanyakannya langsung. Tapi tetap saja, rasa penasaran mengendap di dalam dada. Mengapa Arya bisa bersama perempuan itu?
Katanya kerja. Tapi kerja di toko perhiasan kah?
KAMU SEDANG MEMBACA
Call It What You Want (END)
RomanceMenjalani pernikahan yang menurut Zayra terlampau biasa-biasa saja membuatnya merasa jenuh. Apalagi dihadapkan dengan suami yang setiap kali berbicara selalu memancing emosinya. Tak pernah melakukan kekerasan, laki-laki itu hanya menjengkelkan bagi...
