Didiamkan semakin menjadi.
Bukan Elsa tidak sadar dengan perbuatan Dahlia dan Mutia, Elsa sangat sadar akan hal itu. Mungkin karena waktu itu tidak ada serangan dari Elsa saat menciduk Mutia atau saat melihat tingkahnya mendekati Daehan.
Semakin didiamkan, semakin jadi pula wanita itu membuat dirinya terlihat murahan.
Contoh parahnya.
Hampir setiap hati saat pagi hari jika Daehan bertemu dengan Mutia, Mutia akan nyosor tiba-tiba. Tentu saja Daehan tidak sempat bergeser ataupun menghindar. Parahnya itu kadang terjadi didepan Dino, Dahlia bahkan Derren.
Derren hampir naik darah melihat itu, tapi Elsa menghentikannya.
Bagaimanapun Derren adalah anak angkat rumah ini, dia harus menghargai Dahlia sebagai ibu angkatnya dan Mutia sebagai keponakan dari ibu angkatnya. Bukan malah membantu Elsa yang bukan siapa-siapanya.
Tapi sebenarnya bukan Elsa tidak senang dengan reaksi Derren, Elsa sangat senang saat ada yang masih membelanya dirumah itu. walau mulut Derren dan Elsa bertengkar, lelaki itu selalu membelanya jika ada yang mau menyakitinya.
Derren sudah seperti seorang Kakak dimata Elsa.
Yang Elsa inginkan sebenarnya ketegasan dari Daehan dan pembelaan lelaki itu. Tapi bukannya dibela, Daehan malah diam saja dan terkesan menerima. Memang reaksi kagetnya ada, tapi itu hanya beberap saat setelahnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Daehan tidak menjelaskan dan Elsa bingung bereaksi apa.
Lagi pula, akhir-akhir ini Daehan seperti seseorang yang linglung, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Dia benar-benar bukan seperti Daehan yang selama ini Elsa kenal, Daehan yang Elsa kenal adalah seseorang yang kejam dan susah menurut.
Lihat saja, Saat ini Elsa dan Derren asik berbicara sedangkan Daehan dan Mutia saling bercumbu tak jauh dari mereka. Ya, Mutia datang tiba-tiba menghampiri Daehan yang akan mendekati Elsa dan Derren yang sedang main di kolam renang.
Mereka berdua-Elsa dan Derren duduk bersampingan, tadinya lagi main lempar-lempar air tapi berhenti pas dengar suara cipokan itu.
"Jangan diliat," ucap Derren menutup mata Elsa.
Elsa terdiam.
"Makasih," gumam Elsa.
Derren tersenyum kecut, "Butuh alamat pengadilan?" tanyanya berbisik.
Elsa menoleh dan melepaskan tangan Derren dimatanya.
"Gak makasih!"
"Sama-sama Manis," lalu dia berkedip.
Elsa pura-pura mual.
"Nape lu, Hamil?"
"Lu yang hamil, gue enek liat gombalan lo. Tobat deh, kasian temen gue ditempelin manusia bentukan kek gini!"
Derren tertawa.
Di sisi lain, tawa keras Derren membuat Daehan sadar dan mendorong kasar Mutia. Dapat dilihatnya Elsa yang memegang tangan Derrren dan Derren yang tetawa bebas. Daehan mengerutkan dahinya melihat itu, tak lama telinganya memerah panas.
"Elsa!" panggilnya.
Keduanya menoleh, Elsa yang baru sadar memegang tangan Derren melepaskannya. Derren cemberut melihat itu tapi bukannya berhenti sampai disana, Derren malah semakin jadi. Dia memeluk leher Elsa.
Elsa tidak bisa memberontak kasar karena lukanya masih terasa jika melakukan hal-hal seperti itu.
"Lepas!" tegas Daehan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PePaCa
RomanceNote : ✔ Pasangan Tsundere 2 ✔ Bukan fanfiction ✔ Ada humor, dewasa dan juga agak vulgar cuman bukan penyiksaan yang iya-iya tapi ada unsur kekeran 🔞 ......... Seekor serigala mendidik domba hasil tangkapannya, dijadikannya...
