"Lo gimana sama Zahra?" tanya Clara. Saat ini ia dan Edgar sedang berada di ruang HIMA untuk membahasa program kerja selamjutnya.
"Udah putus." jawab Edgar jujur. "Dia semalem nguping pembicaraan kita tentang Felisha."
"Lebih baik gitu nggak sih? Daripada kalian saling nyakitin juga kan ujungnya?"
"Yang gue bingung sekarang gue jadi nggak enak sama dia. Gue tahu banget gue salah soalnya."
"Yaudah minta maaf. Selesaiin masalah kalian. Kalian jalin hubungan ini baik-baik berarti meskipun udah putus ya harus baik-baik juga." ujar Clara menasehati. "Ingat ya, Gar, lo masih harus jalin hubungan yang baik sama Zahra karena kalian tim inti di HIMA ini. Jangan sampai gara-gara percintaan, HIMA jadi hancur. Lo pemimpin nya disini. Jangan buat onar."
Edgar menghela napasnya, "Kalo dia udah nggak mau ngomong sama gue gimana?"
Clara tersenyum remeh, "Belum dicoba udah nyerah duluan. Cemen lo! Coba aja dulu bilang ke dia." ujarnya. "Tuh anaknya datang. Samperin sana." suruh Clara saat melihat Zahra dan Sheza yang baru masuk ruangan HIMA.
"Oke." balas Edgar, kemudian ia langsung mendekati Zahra.
"Ra, boleh ngobrol sebentar?" tanya Edgar meminta izin.
Zahra meletakkan laptop diatas meja tanpa menoleh ke Edgar, "Silahkan." jawabnya.
"Di rooftop ya, gue butuh ngomong empat mata."
Zahra menatap Edgar, "Disini aja, aku masih ada kerjaan."
"Sepuluh menit." ujar Edgar bernegosiasi.
Zahra menghela napas, "Oke ayo." balasnya.
Sesampainya di rooftop, Edgar mengajaknya duduk diatas aspal sembari nenatap pepohonan dan gedung yang menjulang tinggi.
"Gue mau minta maaf sama lo, Ra. Gue nggak ada maksud buat jadiin lo pelampiasan atau selingkuhan." ujar Edgar membuka pembicaraan.
"Udah dimaafin kok." balas Zahra seadanya.
Edgar terdiam, kemudian ia kembali berbicara "Gue sama Felisha emang pacaran, tapi dia pergi tiba-tiba tanpa ada penjelasan apapun. Terakhir gue ketemu dia di bandara itu pun dia nggak ngomong apa-apa." ujarnya mulai bercerita. Zahra masih diam dan mendengarkan kelanjutan cerita dari cowok itu.
"Mama gue kemarin cerita ke gue kalo Feli nitip surat ke ART nya Feli tapi karena gue nggak pernah nyari dia akhirnya surat itu nggak pernah sampe ke gue. Jadi selama ini gue nganggep hubungan gue sama dia selesai tapi ternyata dia nggak pernah anggap begitu." lanjut Edgar.
"Terus sekarang gimana sama dia? Ada rencana balikan?" tanya Zahra.
Edgar menggeleng, "Gue juga nggak tahu, Ra. Gue belum ketemu dia sampe sekarang. Tapi dia udah ceritain semuanya ke Mama gue. Tapi gue juga pengen denger sendiri dari dia."
Zahra tersenyum, "Lucu ya, Kak, ternyata kita jalin hubungan ini sama-sama buat pelampiasan." ujarnya.
"Ra, kan gue udah bilang kalo—"
"Udah, nggak papa Kak. Aku ngerti kok. Aku juga mau minta maaf ke kakak karena aku belum bisa sepenuhnya berhenti mencintai mantan aku. Maaf kalo selama ini cuma buat kamu pelampiasan." ujar Zahra.
Edgar merapikan anak rambut Zahra yang terkena angin hingga menutupi separoh wajahnya. "Gue udah bilang kan gue jalanin sama lo itu karena kemauan gue. Kalo lo belum bisa lupain mantan lo berarti ya gue gagal kan? So, gue yang mundur sesuai janji gue dulu,"
"Kak, kalo mau jalin hubungan lagi sama cewek kamu juga nggak papa. Aku ikut seneng loh, karena setidaknya kamu dapetin cewek yang cinta sama kamu juga. Kehadiran kamu selama hampir 6 bulan ini berarti buat aku, Kak. Aku bahagia tapi aku belum bisa sepenuhnya cinta sama kamu. Maaf ya, Kak. Maafin aku." sesal Zahra
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAHRAGA 2
Novela JuvenilCOMPLETED✅ HIGHEST RANK🏅 #1 in ceritajadian (23-02-2024) #1 in duniakuliah (24-02-2024) #2 in ldr (24-02-2024) "Ketika hubungan kita dijatuhi beberapa rintangan" Masa SMA telah usai. Kini masa kuliah yang tiba. Raga Pratama Setiawan memutuskan untu...
