"Udah selesai, dek?"
Sera mengangguk lesu. Matanya tidak memancarkan semangat seperti biasanya. Kakinya yang terasa berat diseret untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
"Jadi fix wisuda dua minggu lagi?"
"Hmmm."
Mami Jane menatap heran pada anak bungsunya yang terlihat sangat lesu hari ini. Bukan hari ini saja sih, sudah dua minggu ini Sera tampak lesu setiap pulang ke rumah.
Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke kampus sambil membawa map, kemudian akan pulang di sore hari saat matahari hampir terbenam dengan wajah kusut.
"Kenapa dia?" Tanya papi Gara, sang Ayah.
Biasanya Sera akan duduk sejenak bersama mereka di depan tv untuk sekedar menceritakan kesehariannya, namun kali ini tidak.
Mami Jane menggeleng bingung. "Gak tau."
"Putus cinta kali?"
"Mana ada!" Delik mami Jane.
"Lah, emang dia gak punya pacar?"
Mami Jane menghela napas lelah. Dia paling malas menjawab pertanyaan suaminya yang sangat jarang berada di rumah ini. Jangankan kehidupan percintaan Sera, umur Sera aja kadang dia lupa.
Di mata Gara, Sera masih anak 17 tahun. Padahal sudah empat tahun terlewati sejak ulang tahun Sera yang ke 17.
"Makanya pulang kalo masih punya rumah tuh." Sewot mami Jane.
Papi Gara mendengus. "Aku kan kerja, mi."
"Aku juga kerja bolak-balik New York-Indo tapi masih sempet balik demi Sera gak kesepian di rumah. Dia kesepian semenjak abangnya kerja di Singapura." Cerocos Jane.
"Yaudah iya maaf." Papi Gara mengalah. "Nanti aku sering-sering di rumah pas Harsa udah bisa gantiin posisiku."
"Y."
Papi Gara menghela napas. Ngambek inimah.
Sementara di kamar, Sera sudah merebahkan tubuhnya di kasur empuk kesayangannya. Bahkan untuk sekedar mandi pun Sera tidak ada tenaga. Energinya terkuras habis.
Jadi, selama dua minggu ini Sera sibuk pergi pagi dari rumah dan pulang sore dari kampus untuk mengurus berkas wisudanya. Sera tidak tau kalau mengurus berkas itu seribet ini.
Kalau tau ribet gini langsung Sera urus H+1 sidang.
Kemudian mata Sera menangkap sebuah buku mewarnai di atas nakas. Dia benar-benar mengerjakn tugas dari Sadewa, biasanya dia akan mewarnainya sebelum tidur sambil menunggu kantuk datang.
Mengingat itu membuat Sera gondok. Kenapa? Karena Sadewa yang katanya cuma pergi selama seminggu, malah sampai dua minggu pun belum pulang juga.
Sera juga tidak mendapat chat untuk sekedar mengabari dirinya. Sera sangat kesal! Dia tidak akan mau menghubungi pria itu duluan hanya untuk mengetahui kabarnya.
"Abis ngelamar gue malah ninggalin dua minggu gak ada kabar. Sialan." Gerutu Sera gondok.
Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepalanya. Anak itu bangkit dari posisinya kemudian duduk memikirkan semua kemungkinan yang terjadi jika dia melaksanakan rencana ini.
Sera menggelengkan kepalanya. Bodo amat.
Lantas Sera beranjak dari kasur kemudian mengambil tas besar di rak samping lemari. Dia membuka lemari dan memasukkan beberapa setel baju ke dalam tas besar itu dengan tergesa.
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fanfiction[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
