32

2.3K 158 12
                                        

"Kak boleh yaaa~"

"Enggak."

"Sekali ini ajaaaa~"

"Gak, dek."

"Pleaseeeee?????"

"Gak boleh, Ais sayang."

Sera mencebikkan bibirnya kesal karena penolakan kesekian kalimya dari sang suami. Total sudah hampir satu jam dia memohon-mohon pada Sadewa untuk memberinya izin, tapi yang dia dapat hanyalah penolakan.

"Kak, sekali ini aja!" Sera masih belum menyerah.

Sadewa menggeleng. "Gak boleh"

Sera semakin merengut kesal. Sejak tadi Sadewa bener-benar tidak memperhatikannya, malah memperhatikan tab di pangkuannya. Dia hanya menggerakkan bibir untuk berbicara, namun kepalanya tidak menoleh sama sekali.

Karena kesal, akhirnya Sera merampas tablet itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. Setelah itu, barulah Sadewa menatapnya.

"Apa?" Kata Sera nyolot.

Sadewa menghela napas sabar bersamaan dengan punggungnya yang sepenuhnya bersandar pada sofa. Sera itu keras kepala dan kemauannya selalu dituruti, tidak mungkin dia berhenti sebelum diberi izin.

"Mau apa?" Tanya Sadewa, menatap Sera dengan serius. "Sebutin juga alasan kenapa aku harus kasih izin."

"Mau jalan-jalan naik motor sama Juna~" balas Sera mendayu. "Alasan kamu harus kasih izin soalnya Juna yang ngajak... dia excited banget tau kak mau nunjukin skill motorannya!"

Yap, alasan dibalik rengekan Sera malam hari ini adalah karena dia mau jalan-jalan motoran bareng Juna. Yang jadi masalah? Juna itu baru belajar motor seminggu dan gak pernah ke jalan raya. Itu masalah bagi Sadewa.

"Jangan yaa, nanti kalo Ais kenapa-kenapa gimana? Sedih akunya." Ujar Sadewa lembut, namun malah membuat Sera semakin manyun.

"Kamu gak percaya sama skill Juna?" Cerca Sera.

Sadewa mendelik. "Ya enggak lah."

"Ihh kakkk!!!" Rengek Sera kesal lantaran sudah kehabisan ide harus ngapain lagi biar suaminya ini mau memberi izin. "Sekali ini aja!! Abis itu kamu gak kasih izin motoran sama Juna lagi gak papa, tapi buat yang satu ini kasih izin, pleaseee!!"

Sadewa kembali menghela napas untuk kesekian kalinya. Kepalanya sedikit menunduk menatap Sera yang sekarang sudah nemplok di dadanya seperti kucing, mata bulatnya menatap Sadewa memelas.

Lelaki itu mungkin tidak tau, tapi Sadewa sejak tadi menghindari tatapan itu karena dia tau dirinya lemah dengan tatapan memelas Sera yang seperti memiliki sihir di dalamnya.

"Kalo diizinin nanti aku dance swalla buat kamu."

Sadewa langsung tertawa mendengar itu. Sera benar-benar kekeh mau motoran sama Juna sampai rela melakukan apapun sampai dance begini. Terakhir kali dia melihat lelaki itu dance adalah saat dia masih SMA, sudah lama sekali.

"Hmm..." gumam Sadewa sambil memegangi dagunya, nampak sedang berpikir.

"Aku lap dance juga buat kamu nanti."

"Oke, deal."

"YES—"

"TAPI," sela Sadewa cepat. "Tapi, kalo kamu sampe kenapa-kenapa, aku gak izinin main sebulan. Deal?"

Sera tersenyum senang. "Deal!!!"

Selanjutnya, Sera merangkak ke pangkuan sang suami dan menangkup pipi tirus pria itu. Dia menundukkan kepala, lalu bibirnya memberi banyak kecupan di setiap jengkal wajah Sadewa.

clichéTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang