48

1.2K 119 11
                                        

Sera menghela napas menatap jalanan melalui jendela mobil. Cuaca hari ini cerah, berbanding terbalik dengan suasana hatinya.

Hari ini sudah 2 kali dia mendapat laporan mengenai Sadewa yang murung di kantor. Pertama dari Jevian, dia bilang Sadewa memasang wajah murung, sendu, mellow, minta dikasihanin sesaat setelah sampai di kantor. Pemandangan yang sangat jarang terjadi.

Kedua dari mbak Leah, wanita itu bilang kalau beberapa kali dia melihat atasannya itu melamun sambil memandangi bingkai foto Sera di atas meja kerjanya. Orang yang gak tau mungkin mikir Sadewa benar-benar ditinggalkan oleh Sera karena cara memandang bingkai foto itu sangat menyedihkan.

Hal itu membuat Sera gelisah sendiri. Dia tidak bisa duduk santai begitu saja sementara suaminya bersikap aneh begitu. Bahkan Jevian saja bilang harusnya Sadewa happy karena baru selesai cuti.

Setelah mobil berhenti di area parkir, Sera langsung turun dan melangkah menuju pintu masuk. Beberapa orang yang mengenalinya langsung memberi salam, namun Sera yang sedang tidak mood basa-basi hanya membalas dengan senyuman simpul.

Ketika lift akhirnya berhenti di lantai ruangan Sadewa berada, Sera langsung mendapati sosok sekretaris Sadewa di meja kerja yang sedang fokus dengan komputernya.

"Mbak!"

Sosok itu, mbak Leah, mendongak. Matanya melebar, kaget karena Sera tiba-tiba datang. "Dek!" Sapanya, berdiri menghampiri Sera. "Kamu gak bilang mau kesini?? Tau gitu tadi mbak siapin cemilan!"

"Aku mau nyamperin suamiku," dagu Sera terarah ke pintu ruangan Sadewa yang tertutup. "Jadwalnya padet gak hari ini?"

Mbak Leah menggeleng. "Udah mbak undur, kasian liat dia kayak gak punya semangat gitu dari pagi tadi." Ujarnya resah. "Gak bermaksud kepo, tapi kalian baik-baik aja, kan...?" Tanya wanita itu hati-hati.

Sera tersenyum menenangkan. Wajar saja orang-orang bertanya seperti itu karena semenjak menikah suasana hati Sadewa itu ditentukan oleh dirinya, yang artinya jika ada sesuatu di antara mereka, maka Sera sudah pasti ada kaitannya.

"Aman, mbak. Cuma ada something ajaaa."

Mbak Leah menghela napas lega. "Bagus deh kalo gitu." Benar juga, kalau mereka berantem sudah pasti Sera tidak akan mau mendatangi Sadewa seperti ini. Sepertinya ada masalah lain, tapi biarkan saja itu menjadi urusan mereka.

"Aku masuk dulu mbak, nanti tolong pesenin makanan terus anterin ke ruangannya. Dia pasti belum makan siang." Ujar Sera.

Satu anggukan mbak Leah berikan, lalu Sera berjalan menuju ruangan Sadewa. Tanpa mengetuk, dia langsung membuka pintu ruangan itu.

Hal pertama yang dia lihat adalah sosok Sadewa, dengan bertopang dagu, sedang memandangi bingkai foto besar yang menempel di dinding, posisinya tepat di atas sofa. Lebih jelasnya, itu adalah foto Sera yang entah sejak kapan sudah terpajang di sana.

Astaga, batin Sera. Kenapa ada foto dirinya terpajang di dinding ruangan ini??

"Permisii..."

Sadewa tersentak kecil, menolehkan kepala ke arah pintu. Matanya mengerjap sesaat, seolah tidak memercayai penglihatannya ketika mendapati Sera berdiri di ambang pintu dengan senyuman manisnya.

Barulah ketika lelaki itu melangkah masuk dan menutup pintu, Sadewa sadar bahwa ini benar-benar nyata.

"Ais, kok gak bilang mau kesini?" Pria itu langsung berdiri dan menghampiri suaminya, lalu melempar banyak pertanyaan. "Tadi kesini sama siapa? Di luar dingin gak? Kamu cuma pake cardi gini. Aku gak liat hape, kamu tadi nelpon ya? Kamu—"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

clichéTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang