"Tadi ngomongin apa sama eyang?"
"Ada lah, percakapan orang dewasa."
Sera mendelik. "Dih?! Emangnya aku anak kecil?!"
Sadewa lantas tertawa atas balasan itu. Satu tangannya terangkat menangkup pipi tembam lelaki itu sampai bibirnya jadi mirip ikan. "Emang Ais keciiiillll. Muat masuk kantong."
"Mana ada!" Ketus Sera sambil menepis tangan Sadewa dari wajahnya. "Serius, ihhh!!"
"Gak ada apa-apa, sayang. Eyang cuma ngasih pesan buat jagain kamu terus. Udah gitu aja."
Sera menyipitkan matanya. "Mencurigakan."
"Mencurigakan apa sihh," kata Sadewa geregetan, nyubit pipi Sera lagi. "Udah buruan itu milihin apelnya, abis itu kita pulang. Udah gemuruh, mau hujan kayaknya bentar lagi."
Sera cuma bisa cemberut dan lanjut memilih-milih apel yang mau dia bawa pulang. Kata mami wajib di bawa soalnya ini apenya masih fresh baru banget metik di belakang tadi pagi.
Namun, kepalanya masih terus memikirkan kira-kira apa yang neneknya bicarakan dengan Sadewa tadi. Tapi kalau Sadewa tidak ingin bercerita, ya sudah, Sera tidak ingin memaksa. Mungkin memang seprivasi itu.
"Bawa yang banyak, dek." Kata mami Jane yang baru masuk ke dapur sambil membawa nampan berisi makan siang eyang yang sudah habis. "Bawa 5 bungkus sana."
Sera mendelik. "Siapa yang makan??? Orang aku cuma berdua di rumah."
Mami Jane terkekeh pelan. Setelah meletakkan nampan ke wastafel, wanita itu membantu Sera memilih-milih apel agar cepat selesai. Sesekali matanya melirik ke arah Sadewa yang fokus memperhatikan Sera, dan dalam hati langsung berucap, kenceng juga pelet anak gue.
"Ekhem," mami Jane berdehem, membuat fokus Sadewa beralih kepadanya. "Pipi kamu jadi rada tembem ya, Wa, abis nikah sama dedek." Ujarnya basa-basi. Gerah juga ngeliat kebucinan suami si bungsu ini.
Sadewa tersenyum. "Bagus dong, mi."
Sera menoleh, alisnya menekuk. "Kok bagus?"
"Berarti susunya cocok."
"HEH!" Sera langsung melotot dan menabok lengan Sadewa kencang. Namun bukannya kesakitan, Sadewa malah tertawa terbahak-bahak, padahal wajah Sera sudah memerah karena malu. "Gila ya ni orang." Gerutunya kesal.
"Yeeuu, bisaan lu." Mami Jane melempar apel ke arah Sadewa dan langsung ditangkapnya.
"Ihh mami gak usah dengerin diaaa!!"
Rengekan Sera dibalas gelak tawa oleh Sadewa, namun tawa itu langsung pudar sesaat setelah cubitan keras terasa di perutnya, dibarengi dengan pelototan Sera. Sadewa langsung mingkem.
🪷🪷🪷
Sudah satu minggu berlalu semenjak mereka menemui eyang, dan Sera merasa ada sesuatu yang salah pada Sadewa.
Sadewa kini berubah jadi manusia super clingy dan super manja. Kalau sekali dua kali Sera masih paham ya, mungkin itu salah satu caranya melepas stress karena bekerja, tapi ini sudah seminggu!
Selama seminggu ini Sadewa benar-benar seperti beda orang karena sikapnya itu. Sera jadi berpikir, apa mungkin sifatnya itu dipacu oleh percakapan mereka dengan eyang waktu itu? Karena Sadewa baru bersikap seperti itu setelah keesokan harinya bertemu eyang.
Awalnya Sera tidak masalah, serius, tapi lama-kelamaan Sera gedeg juga ya.
Masalahnya terkadang manjanya Sadewa itu suka tidak tau situasi. Contohnya yang pertama, saat kemarin Sera ingin berangkat pilates bersama Juna, tapi berakhir tidak jadi berangkat karena Sadewa full merengek sambil memeluknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fiksi Penggemar[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
