Jevian melangkah keluar dari lift sambil bersiul pelan, tangannya mengayun-ayunkan sebuah map berisi dokumen yang ingin dia serahkan ke Sadewa.
Sebelum berbelok menuju ruangan yang ingin dia tuju, matanya menangkap seorang wanita sedang fokus pada komputernya. Senyumnya merekah seketika. "Eh, mbak Leah makin cantik aja nih..." ujarnya dengan nada iseng.
Mbak Leah, yang namanya disebut, lantas mendelik dan memasang wajah geli. "Gue aduin laki gue ya, Jev." Ancamnya.
"Bercanda," Jevian nyengir. "Sadewa di ruangannya kan?"
Mbak Leah mengangguk. "Dia keiatan murung dari pagi, kenapa sih? Berantem sama dedek?"
Jevian yang ditanya begitu ikutan bingung dong. "Lah, gak tau gue. Perasaan semalem masih cerah aja pas ketemu di rumah mami." Jawabnya. "Eh iya mbak, kemarin gue ketemu laki lo di tempat seblak bareng sama cewek pendek pake daster lusuh sama cardi ijo." Seketika dia mengubah topik obrolan.
Mbak Leah mengangkat alisnya. "Dasternya warna merah bukan?"
"Iya." Angguk Jevian.
"ITU GUE, JEPIIIII." Seru mbak Leah yang ingin sekali menampol wajah Jevian sekarang. Karena dia tidak bisa melakukan itu, akhirnya dia hanya melempar gumpalan kertas ke Jevian. "Kurang ajar ya lo! Itu daster kesayangan gue!"
Jevian terbahak. "Lagian tampilannya beda banget sama di kantor. Kemarin keliatan banget ibu ibu-nya."
"Emang udah ibu-ibu anak dua! Mau apa lo?!" Sentak mbak Leah kesal. "Udah sana temuin Sadewa! Jauh-jauh dari gue. Emang lo gak pernah gak bikin gue nyapnyap tiap ketemu!"
Sebelum menjauh, Jevian sempat memberikan finger heart ke mbak Leah, membuat wanita itu terperangah dan hendak berdiri untuk menghampirinya. Namun sebelum itu terjadi, Jevian sudah ngibrit duluan ke ruangan Sadewa.
Dan hal pertama yang Jevian lihat setelah masuk ke ruangan Sadewa adalah sosok Sadewa yang, seperti biasa, sedang duduk di kursinya dan menatap komputer. Bedanya kali ini wajahnya tidak hanya serius, tapi campuran murung juga.
"Kenape lo? Murung amat itu muka." Kata Jevian, berjalan mendekat. Sesaat setelah melihat layar komputer Sadewa, dia menggeleng-geleng tidak percaya. "Dasar gila..." ucapnya kaget.
Bagaimana tidak kaget kalau ternyata yang sedang Sadewa perhatikan di komputer dengan wajah seserius itu bukanlah pekerjaan, melainkan video Sera? Seperti video kompilasi, yang entah sudah Sadewa edit sejak kapan, berisi Sera yang sedang yapping, tertawa, ngomel-ngomel, dan bernyanyi.
"Kenapa sih? Sera pergi kemana emang?" Tanya Jevian heran.
Sadewa menghela napas, menjeda video itu. "Gak ada sih, cuma main sama Juna doang."
Jevian facepalm.
"Wa, lo cuma ditinggal main, bukan ditinggal mati."
Sadewa melotot seketika. Dia meraih pena di atas meja, lalu melemparkannya ke Jevian. "Amit-amit!"
"Ya lagian lo! Sera cuma main sama temennya, lo udah galau begini." Dengus Jevian. "Udahlah, kan kasian juga Sera di rumah terus. Biarin dia keluar, hangout sama temennya, cari suasana baru. Berhari-hari di rumah doang, ditinggal suami kerja dari pagi sampe sore, itu gak seenak yang lo bayangin, Wa."
Sadewa kembali menghela napas, menyandarkan punggung ke kursinya. Entah mengapa, semenjak menikah tingkat keposesifannya pada Sera semakin meningkat, membuatnya seringkali tidak rela kalau Sera keluar rumah tanpa dirinya.
Tapi ucapan Jevian ada benarnya. Kasihan Sera berhari-hari di rumah saja dan kerjaannya cuma nungguin Sadewa pulang.
Kemarin Sera sudah bilang, "pokoknya besok aku mau main sama Juna! Jangan ganggu! Udah cukup kemarin aja ya kamu ganggu sesi pilates kami!"
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fanfiction[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
