Sadewa terbangun dari tidurnya. Kelopak matanya terasa berat, seolah bangkit dari tidur yang terlalu dalam. Pandangannya mengabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar. Dia tetap diam, membiarkan kesadaran perlahan kembali menyesaki tubuhnya.
Tapi ada yang aneh.
Dadanya terasa sesak. Ada tekanan samar di sana— bukan sakit, tapi cukup untuk membuat napasnya tertahan sejenak. Matanya terasa lembap, dan ketika dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah, dia tertegun.
Basah.
Bukan karena keringat, tapi air mata.
Sadewa mengerjap bingung. Gue... nangis?
Pikirannya melayang, mencari penyebab, menggali sisa-sisa mimpi yang hanya tersisa samar, tapi dadanya tetap berat. Ada sesuatu yang belum dia pahami sepenuhnya.
Kepalanya menoleh pelan ke samping.
Dan detik itu juga tubuhnya membeku.
Sera.
Wajah itu ada di sana. Tenang, damai, lelap. Napasnya teratur, menghangatkan lengan Sadewa yang tengah dia peluk seolah takut dilepaskan. Rambutnya sedikit berantakan, menyentuh pelipis, dan bibirnya sedikit terbuka— cara tidur yang selalu Sadewa kenal.
Sadewa tidak berani bergerak.
Ini... nyata?
Begitu nyata sampai kulitnya bisa merasakan hangat napas lelaki itu menyentuhnya. Sampai detak jantungnya melonjak bukan karena mimpi, tapi karena sebuah harapan yang tumbuh mendadak.
Tangannya perlahan terangkan, seakan ingin memastikan. Dia menyentuh rambut Sera, kemudian menyusuri pipi tembamnya dengan hati-hati— dan ya, kulit itu hangat. Bukan mimpi. Bukan bayangan. Bukan hantu.
Dengan jemari gemetar, dia meraih ponsel dari atas nakas, berharap menemukan bukti yang bisa dia percaya. Layar menyala.
7 Juli.
Pesan dari mami Jane terlihat di layar depan, masuk 30 menit yang lalu. "Wa, besok ke rumah ya sama dedek. Eyangnya dedek dari aussie otw ke indo, pengen ketemu kalian. Nanti malem pesawatnya landing, abang yang jemput."
Sadewa membeku. Hatinya seperti dipeluk dan ditusuk dalam waktu bersamaan.
Eyang. Rumah. Pesan dari mami Jane.
Sadewa menutup mata dengan tangannya. Napasnya mulai tercekat. Bukan karena mimpi, tapi karena ingatan akan mimpi itu.
Kecelakaan. Suara rem. Jeritan. Sirene. Darah.
Tubuh Sera terbujur kaku, tidak bergerak, tidak bernyawa.
Tangannya dingin saat digenggam di rumah sakit. Senyum terakhir yang hanya bisa dilihat lewat bingkai foto di atas altar bunga putih.
Semuanya hanyalah mimpi.
Mimpi itu terlalu nyata. Terlalu kejam. Terlalu menyiksa.
Sadewa menarik napas dalam-dalam, menahan agar tangisannya tidak keluar lagi, namun tubuhnya sudah bergetar. Bahunya naik turun menahan isakan yang tidak bisa dicegah.
Sera tetap tertidur, pelukannya masih ada di sana. Nyata, hidup, dan hangat.
Tidak kuat lagi, Sadewa memeluk lelaki itu erat. Memeluknya seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya, lalu diberikan kembali dalam satu kedipan mata.
Sera menggumam pelan, bergeser sedikit, tapi tidak terbangun. Malah memeluk Sadewa lebih erat, kepalanya kini bersandar di dadanya. Suara napasnya kembali teratur.
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
أدب الهواة[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
