"Pokoknya jangan bawa-bawa nama gue!!!"
Adalah kalimat yang Juna lontarkan sebelum dia menurunkan Sera di depan rumahnya. Bahkan lelaki itu tidak mau repot-repot menunggu Sera masuk ke dalam pagar semata karena tidak ingin namanya terseret dan dimarahi Sadewa untuk kedua kalinya.
Cukup sekali saja Juna sampai nangis sesenggukan karena Sadewa memarahinya di rumah sakit waktu itu. Bahkan Julian pun sebagai tunangannya tidak berani menyela karena Sadewa benar-benar marah saat itu, lantas dia hanya bisa menunggu amarah Sadewa mereda dan membawa Juna pulang.
Sera dengan langkah cepat berjalan memasuki gerbang rumahnya, menghiraukan pandangan heran para satpam yang berjaga. Dari kejauhan, dia bisa melihat sosok wanita berdiri di teras dengan wajah cemasnya.
"Mbak Nina?"
Yang dipanggil menoleh, "ya ampun dedeekk!! Dari mana aja kamuu?!" Kata Mbak Nina resah.
"Mbak Nina belom pulang?"
"Ya mbak tuh nungguin kamu!" Balas mbak Nina geregetan. "Kenapa baru pulang? Sadewa marah besar tadi, dek! Pak Aan kamu suruh pulang duluan kan? Pak Aan tadi kena marah juga sama Sadewa! Kamu kemana aja? Kok baru pulang?!" Tanyanya bertubi-tubi.
"Ih, takutt," Sera malah cemberut. "Aku keasikan di timezone tadi. Di mana Sadewa sekarang, mbak?"
Mbak Nina berdecak. "Kamu tuh! Udah tau Sadewa gak suka kalo pas dia pulang kerja kamu gak di rumah, malah pulang malem. Terakhir mbak liat dia ke ruang baca, belum keluar lagi sampe sekarang."
Sera menghela napas panjang. Mau bagaimanapun, dia yang salah disini. Dirinya sudah mengabaikan syarat yang Sadewa beri yang padahal sejak awal dia tidak keberatan dengan persyaratan itu.
"Mbak pulang aja, aku gak papa." Kata Sera.
"Beneran?"
"He'em, mbak pulang aja."
"Yaudah mbak pulang dulu, anak mbak di rumah udah nanyain."
Setelah mbak Nina pergi, Sera memasuki rumah dengan perasaan takut, cemas, panik, dan resah yang tergabung menjadi satu perasaan yang sulit dia jelaskan. Sera takut, tapi di kasus ini dirinya yang salah jadi mau tidak mau Sera harus memberanikan diri.
Seluruh lantai 1 sudah dia susuri dan dia tidak menemukan Sadewa di mana-mana. Besar kemungkinan kalau pria itu memang masih berada di ruang baca dan Sera sedikit lega karena dia bisa ke kamar tanpa harus takut melihat wajah marah Sadewa.
Pesan yang Sadewa kirim terakhir kali adalah saat pukul setengah 8 malam, dan sekarang sudah jam setengah 9 malam. Membayangkan seberapa marah pria itu membuat Sera semakin takut.
Saat berdiri di depan kamarnya. Sebelum memasuki kamar, dia sempat merapalkan beberapa doa agar Sadewa tidak sedang berada di kamar karena dia belum siap untuk bertatap muka dengan suaminya sekarang.
Cklek.
Sera sempat mengintip ke kanan dan kiri, dan setelah memastikan Sadewa tidak ada, dia langsung menghel napas lega. Setelah itu, dia buru-buru membersihkan makeup dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pokoknya dia harus cepat sebelum Sadewa menyadari kepulangannya.
Setelah mandi, Sera dengan santai berjalan keluar dengan rambut yang masih setengah basah. Piyama lengan panjang dan celana pendek membalut tubuh sintalnya.
Dan betapa kagetnya Sera saat melihat Sadewa ada di sana, duduk di sofa samping jendela kamar, menatapnya datar dengan sebuah tablet di pangkuannya.
Bibir Sera yang tadinya mengeluarkan senandung kecil langsung mingkem seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fiksi Penggemar[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
