"Kamu serius mau pergi?"
Sera menghela napas lelah, menatap sang suami yang sedang bersandar pada lemari lewat pantulan kaca. Ingin sekali dia melempar kursi ke wajah pria itu. "Kak. Kamu udah nanya 10 kali. Sepuluh. Jawabannya tetep sama, iya aku jadi pergi."
Sadewa lantas merengek. "Sayaaangg, ini weekend loh?"
"Terus kenapa?" Heran Sera.
"Giliran aku libur, kamu malah kelayapan."
"Astaga, aku cuma mau pilates sama Juna."
Sadewa berdecak, tidak membalas lagi. Dia melangkah mendekat, lalu berdiri di samping cermin panjang sambil memperhatikan Sera yang sedang merapikan rambutnya. Sera terlihat santai-santai saja ingin pergi keluar meninggalkan suaminya sendirian di rumah.
Damn, he looks so pretty, batin Sadewa dan rasanya dia tidak rela suami cantiknya ini keluyuran keluar tanpa dirinya dengan penampilan seperti itu. Sadewa sudah menawarkan diri untuk menjadi tukang bawa belanjaan mereka agar bisa ikut, tapi Sera tidak mengizinkannya.
"Kamu pilih aku apa Juna."
Sera mendelik. "Kamu, tapi sekarang Juna dulu."
"Aisss," Sadewa kembali merengek, kali ini sambil melukin Sera dari depan, membuat tubuh Sera sepenuhnya tenggelam pada pelukan itu. "Jangan pergiiiii....."
Sera sampai terundur beberapa langkah karena pelukan tiba-tiba itu. Dia berdecak, lalu menabok punggung Sadewa. "Aku cuma mau pilates, bukan pergi ke barak!" Sentaknya. "Minggir ih! Baju aku nanti lecek!"
"Aku ikut."
"Gak boleh."
"Aku diem. Aku gak ngapa-ngapain nanti."
"Gak boleeeeehh."
Sera sedikit menarik rambut Sadewa, membuat pria itu mengangkat wajahnya. Dia menangkup pipi Sadewa, lalu sedikit berjinjit untuk memberi beberapa kecupan di bibir serta pipinya. Tapi, Sadewa masih cemberut.
"Tunggu di rumah, aku pergi dulu." Kata Sera.
Dan begitulah akhirnya bagaimana Sera bisa keluar rumah. Kalau rengekan Sadewa diterusin, pasti tidak ada ujungnya. Dan Sadewa, yang tidak ingin Sera sedih karena dilarang bermain dengan temannya, mau tidak mau pun harus melihatnya pergi.
Sebelum menaiki mobil Juna, Sera sempat menoleh ke belakang dan mendapati Sadewa bersandar pada salah satu pilar sambil bersedekap dada. Masih cemberut. Sera hanya bisa menghela napas melihat itu.
Benar-benar seperti anak kecil yang ditinggal orang tuanya pergi kerja.
"Beneran gak papa nih ditinggal?" Tanya Juna setelah Sera duduk di sampingnya. Hari ini mereka pergi degan mobil yang disupirin supirnya Julian. Heran juga kenapa tiba-tiba jadi Julian, tapi yaudahlah daripada disetirin Juna.
Sera mengibaskan tangannya. "Biarin aja, salah sendiri kenapa minggu kemarin ninggalin gue buat mancing seharian."
Ting! Hapenya berdenting, dan pesan pertama yang dia lihat adalah pesan dari Sadewa yang berisi 'udah otw pulang belum'. Sera memandanginya beberapa detik, berpikir apa dia harus memblokir nomor Sadewa agar tidak diteror lagi? Bahkan ini belum 10 menit dari mobil mereka pergi dari pekarangan rumah.
"Kenapa?" Tanya Juna yang bingung karena Sera memandangi hapenya lama.
Sera memijat pelipisnya, lalu mengetikan balasan 'sadewa lu gue tabok ya' pada suaminya. "Lo bakal ngerti nanti kalo udah nikah." Balasnya tanpa semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fanfiction[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
