47

1.1K 110 16
                                        


Sadewa: bisa gak

Sadewa: tangan kita diborgol aja

Sadewa: biar sama sama terus

Sera: mulai

Sadewa: kangen :(

Sera: sumpah ya belum ada 10 menit aku keluar minimarket depan 😭

Sadewa: kenapa gak nyuruh mbak nina aja sih :(

Sera: lagi pada sibuk kak dewaaaa ga enak aku nyuruhnya

Sadewa: send a pic

Sera: apaan nih tiba tiba thirst trap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sera: apaan nih tiba tiba thirst trap

Sadewa: pengen ciuman

Sera: ??

Sadewa: sampe masuk

Sera: STRESS YA

Sera: stop gak 😭

Sera: takut kalo kamu agresif gini 😭

Sadewa: kamu sering begitu tapi aku gak takut tuh

Sera: cuma aku yang boleh agresif di antara kita

Sadewa: kamu inget gak

Sadewa: pas kamu dudukin aku

Sera: SUMPAH

Sera: STOPPPPP

Sadewa: wkwkwk makanya jgn suka ngirim pap lagi mandi pas aku kerja

Sera: 😡😡😡


🪷🪷🪷


"MALU BANGET AKUUUU!!!!"

Bukannya kesakitan ketika Sera memukuli punggungnya, Sadewa justru tertawa terbahak-bahak sampai ujung matanya mengeluarkan air mata. Pukulannya sama sekali tidak sakit walaupun Sera sudah berusaha sekuat tenaga.

Sementara Sera sudah memasang wajah kesal— bibirnya maju 5 centi dan alisnya menekuk. "Pisah kamar aja lah kita!" Sentaknya karena melihat senyum lebar sang suami, yang mana itu bikin dia makin gondok.

"Yaah, kok gituuu?" Senyum Sadewa langsung luntur. Pria itu menggeser duduknya dan memeluk pinggang Sera agar dia tidak bisa pergi kemana-mana.

"Kamu!" Bugh! Satu pukulan Sera berikan di bisepnya. "Melukin aku dari pintu depan sampe diketawain mbak Nina!"

"Yaudah biarin ajaaa, ngapain malu? Kayak mbak gak pernah gitu aja sama suaminya."

"Aku dari pagi sampe sore ketemu mbak Nina terus gimana gak malu. 😠"

clichéTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang