"Udah gak usah cemberut gitu."
Sera melirik sinis ke arah Sadewa yang baru saja kembali dari membeli minum. Dia hanya mendengus malas lalu mengalihkan pandangannya ke depan lagi, menatap hiruk piruk bandara di pagi hari ini.
Kenapa mereka bisa ada di bandara pagi ini? Jadi begini...
"Ais! Bangun, sayang!"
Sera langsung membuka matanya dan terkesiap kaget saat tidur nyenyaknya tiba-tiba saja terganggu oleh sebuah guncangan di bahunya. Dia menoleh ke belakang, menatap Sadewa dengan linglung.
"Hah? Kenapa? Ada apa?" Dia ikutan panik.
Sadewa beranjak dari kasur dan mendekati koper di dekat lemari, kemudian dia melipati baju dan memasukkannya ke koper itu. "Bangun bangun, buruan siap-siap nanti ketinggalan pesawat."
Sera semakin heran. "Pesawat mau kemana, anjir?" Di sini dia udah emosi karena menurutnya Sadewa gak jelas banget soalnya tiba-tiba ngebangunin terus nyuruh siap-siap.
"Swiss. Mama beliin tiket honeymoon buat kita."
Sera berseru kaget. "Lah?! Dadakan banget???"
"Kamu aja kaget apalagi aku. Ini aku barusan banget ditelfon mama. Ayo siap-siap, pesawatnya tiga jam lagi."
Dan itu menjelaskan kenapa Sera bete banget sekarang. Udahlah dibangunin paksa kan bikin dia pusing, terus lagi siap-siapnya malah diburu-buruin, belum lagi macet di jalan yang sudah sangat umum terjadi di ibu kota dan jarak bandara yang jauh.
Dia masih gak habis pikir sama tindakan mama Anya yang tiba-tiba begini. Maksudnya apa coba? Mau bikin surprise kah?
"Maaf yaa," Sadewa berlutut di depannya sambil merapikan helaian rambutnya yang berantakan. "Nanti aku omelin mama lagi deh." Sejujurnya Sadewa pun kesal juga sama tindakan mamanya ini. Tadi dia sempat ngomel di telfon, tapi waktunya gak pas karena mepet sama jam penerbangan.
"Aku tuh pusing kalo dibangunin tiba-tiba gitu." Gerutu Sera.
Sadewa mengelus kepala suaminya sayang, sambil dipijat-pijat pelan. "Iyaa, aku minta maaf ya, sayaang."
Sera menghela napas. Mau emosi pun rasanya percuma karena ini sepenuhnya bukan salah Sadewa. Pria itu juga kaget dengan honeymoon mendadak ini dan dia pasti sama kesalnya dengan dirinya.
Sera sedikit memajukan duduknya lalu membungkuk untuk menyandarkan kepalanya pada bahu Sadewa. Dia gak bohong pas bilang kalau dia pusing. Beneran deh rasa pusingnya tuh gak enak banget, bisa kebawa seharian.
"Nanti di pesawat Ais bisa tidur sepuasnya." Kata Sadewa dengan tangan yang masih memijat-mijat pelan kepala Sera. "Maaf ya, sayang."
"Hmm."
"Mau beli cemilan? Atau nanti aja makan di pesawat."
"Nanti aja." Sera mengangkat kepalanya. "Mau ke toilet dulu deh sebelum boarding."
"Mau ditemenin?"
"Enggak."
Setelah Sera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet terdekat, Sadewa mengeluarkan hapenya dan membuka ruang obrolannya dengan sang mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fanfiction[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
