42

1K 70 2
                                        

Sudah dua hari berlalu semenjak kejadian Sera dimarahi karena pulang telat itu dan selama dua hari ini pula Sera merasa kalau sebenarnya Sadewa masih marah padanya dan belum memaafkannya.

Kecurigaannya muncul saat kemarin Sadewa tidak membangunkannya di pagi hari dan tidak ada pesan apapun. Biasanya, Sadewa akan membangunkannya sebentar untuk pamit berangkat kerja, atau kalau memang sedang buru-buru dia akan pamitan lewat chat.

Lalu setiap Sera mengiriminya pesan, Sadewa hanya akan membalas singkat-singkat dan lama, padahal biasanya Sadewa selalu membalas panjang dan jeda waktunya tidak terlalu lama saat membalas pesan.

Dan terakhir, Sadewa seakan mengabaikannya setiap pulang kerja. Biasanya pria itu akan memeluknya setiap pulang kerja, tapi selama 2 hari ini dia hanya mencium pipinya dan mengurung diri di ruang kerja sampai malam.

Hari ini, hari ketiga, dan Sera sudah tidak tahan lagi.

Saat Sadewa pulang kerja, seperti biasa, Sera menyambutnya di depan pintu dengan senyuman lebar. Sadewa membalas senyumnya, ada gurat lelah di wajahnya, bahkan senyumnya terlihat dipaksakan.

Sera mendekat dan memeluk pria itu tanpa berkata apapun dan Sadewa membalasnya. Mereka berpelukan dan tidak mengucapkan apapun selama beberapa menit. Bahkan untuk bertanya pun Sera sungkan karena takut kalau Sadewa benar-benar masih marah padanya.

"Kakak mau makan malem apa?" Tanya Sera hati-hati, merenggangkan pelukannya.

Namun, Sadewa malah menggeleng. "Aku udah makan sebelum pulang tadi."

"Sama siapa? Di mana?"

"Di resto deket kantor sama Jepi dan mbak Leah."

Jawaban Sadewa membuat Sera sedih. Padahal biasanya Sadewa yang selalu menanyakan mau makan malam apa dan mereka selalu makan malam bersama. Kali ini Sadewa makan di luar, tanpa dirinya, tanpa sepengetahuannya— membuat hati Sera sedikit tercubit.

"Aku mau mandi dulu, abis itu mau ngelanjutin kerjaan. Masih ada yang belum selesai."

Setelah mengatakan itu dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya, Sadewa pergi begitu saja. Bahkan dia tidak menanyakan kesehariannya seperti biasanya. Dia pergi begitu saja dan meninggalkan Sera yang terdiam di tempat.

Setelah membersihkan diri, Sadewa benar-benar pergi ke ruang kerjanya. Sera yang sedang duduk di atas kasur pun dibuat sedih, lagi, karena biasanya Sadewa akan memeluknya atau menciumnya dulu setiap habis mandi.

Sera coba menunggu sampai jam 8, jam biasanya Sadewa keluar dari ruang kerjanya. Sadewa biasanya menyempatkan diri untuk membaca buku sebelum tidur dan biasanya hal itu dia lakukan sekitar jam 8 sampai jam 9.

Namun sampai jam 10, Sadewa tidak kunjung kembali ke kamar.

Sera yang sudah sedih dan kesal karena dicuekin tentu saja tidak akan diam.

Karena itu, setelah mengganti piyama motif beruangnya menjadi kaos putih tipis longgar dan celana pendek warna senada yang cukup ketat, Sera langsung keluar kamar untuk menuju ruang kerja suaminya itu.

Sebelum masuk, Sera sempat melatih ekspresinya agar dibuat sesedih mungkin. Dia tau Sadewa akan selalu luluh dengan wajah sedih dan memelasnya. Jujur saja perasaan Sera sekarang sudah 75% kesal dan 25% sedih. Dominan kesal karena dia tidak terima dicuekin begini.

clichéTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang