43

1K 73 15
                                        

"Kak, aku mau tanya," Sera menyampingkan duduknya, menatap Sadewa yang sedang fokus menyetir dengan satu tangan di sebelahnya. Tangan yang satunya kemana? Di paha Sera ;) Ada aja kesempatannya buat megang-megang Sera.

"Hmm?" Tangan Sadewa sedikit meremas paha Sera yang terbalut celana jeans, tanda bahwa dia akan mendengarkan walaupun matanya fokus ke jalan.

"Kamu masih sayang aku gak kalo aku jadi cacing?"

Mulai.

"Ada pertanyaan yang lebih aneh lagi gak?" Balas Sadewa.

"Ihh jawaaabbb." Rengek Sera.

"Masih sayang," jawab Sadewa akhirnya. "Tapi aku juga mau hidup sama manusia, dek."

Sera cemberut seketika. "Kalo aku jadi batu?"

"Pertanyaanmu makin aneh. Mending kamu abisin itu es krimnya, nanti keburu sampe di rumah mami." Kata Sadewa melirik ke arah cup es krim mint choco di tangan Sera yang masih tersisa setengah.

Kegiatan mereka weekend ini adalah berkunjung ke rumah mami karena ada eyangnya Sera dateng. Terakhir Sera bertemu dengan eyang itu sudah lama sekali karena eyang tidak tinggal di Indonesia, tapi di Aussie bersama kerabat mami yang lain.

Eyang juga tidak bisa datang karena masalah kesehatannya waktu itu. Dan kini, beliau menyempatkan datang hanya untuk menemui cucu bungsunya yang sudah menikah. Hal ini membuat Sera merasa sedih karena eyang sudah setua itu rela datang kesini hanya untuk melihatnya :(

"Jangan nangis nanti pas ketemu eyang." Ujar Sadewa. Ini juga pertama kali baginya menemui eyangnya Sera.

"Liat nanti." Balas Sera.

"Masa udah gak ketemu lama, eyang malah liat kamu nangis?"

"Ihh aku kan gak bisa ngontrol perasaan aku."

"Dasar cengeng."

Sera menabok lengan Sadewa kesal. "Cengeng cengeng gini juga kamu sayang."

Sadewa lantas tertawa. Tangannya yang semula berada di paha Sera kini menggenggam tangan lelaki itu, kemudian dia bawa tautan tangan mereka mendekat untuk mencium punggung tangan Sera.

Semuanya terasa begitu damai. Begitu ringan. Seolah dunia tak punya beban untuk mereka hari itu.

Dan saat itulah segalanya berubah.

"TIIIINNNNNNNN—"

Klakson besar membelah suasana dengan mendadak, nyaring, dan dari arah kiri. Tempat Sera duduk.

Semuanya terjadi terlalu cepat dan sekaligus terlalu lambat.

Sadewa menoleh, dan waktu seakan membeku.

Di sisi kiri mereka, hanya beberapa meter jauhnya, sebuah truk besar meluncur liar. Badannya oleng, terlalu cepat, seperti kehilangan kendali. Mata Sadewa membelalak. Hatinya mencelos. Dia tak sempat berpikir, hanya merasakan.

Satu hal saja yang memenuhi kepalanya, lindungi Sera.

Sadewa reflek membanting setir ke kanan, kedua tangannya mencengkeram kuat, kaki menghantam rem dengan panik. Tapi semua itu tidak cukup cepat. Truk sudah terlalu dekat, terlalu besar, terlalu cepat.

Dalam sekejap, Sadewa sempat melihat ekspresi Sera yang menoleh ke arahnya— kebingungan, ketakutan, dan pertanyaan yang belum sempat keluar.

Lalu—

BRUUUUUUAAAAAAKKKKKK!!!

Benturan dahsyat menghantam sisi mobil.

Sadewa merasakan tubuhnya terhempas. Sabuk pengaman menahan dadanya kuat-kuat. Suara kaca pecah, suara logam menyeret aspal, suara jeritan besi dan angin dan klakson yang menabrak semua indra.

clichéTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang