Sadewa tidak bisa bernapas.
Setelah kalimat itu—
"Sera... gak selamat, Wa..."
—dunia di sekelilingnya menjadi suara yang hampa. Mama Anya terus menangis dan mencoba menahannya, tapi Sadewa sudah tidak lagi mendengar.
Langkahnya gontai saat dia berjalan keluar kamar. Tubuhnya masih memar, pundaknya masih berdenyut hebat, darah dari infus yang dia cabut sendiri masih sedikit menetes. Namun, rasa sakit fisik tidak ada artinya dibanding apa yang dia rasakan di dalam dadanya.
Lorong rumah sakit terasa panjang dan asing. Bau desinfektan menusuk hidung. Perawat-perawat yang melihatnya langsung memanggil-manggil panik, tapi Sadewa tidak menggubris. Dia terus berjalan.
Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti.
Di ujung lorong, seorang wanita berdiri membelakanginya— gemetar, bahunya naik turun karena tangis yang tertahan. Mami Jane.
Wajahnya tertunduk, tangannya menutup mulut, bahunya berguncang. Suara tangisnya pelan, hampir tanpa suara, tapi tubuhnya tidak bisa menyembunyikan betapa hancurnya dia.
Sadewa terpaku sesaat. Jantungnya berdetak tidak karuan.
Pintu di depannya tertutup setengah. Tanpa menyapa, tanpa bicara, tanpa permisi, Sadewa mendorong pintu itu dan masuk.
Ruangan itu sunyi dan dingin.
Di tengah ruangan, di atas ranjang, tubuh Sera terbaring tenang.
Tubuh yang dulu melompat ke pelukannya tanpa ragu. Yang tertawa, memonyongkan bibir kalau sedang manja. Yang memanggilnya "kak Dewa~" dengan suara centil yang selalu membuatnya tersenyum.
Sekarang... diam.
Wajahnya tenang. Matanya tertutup rapat. Kulitnya pucat. Di pelipis kirinya terdapat perban dan beberapa goresan luka memar menghiasi wajah cantiknya. Bibirnya sedikit pecah, rambutnya setengah kusut.
Tapi tetap Sera. Suaminya. Cintanya.
Sadewa berdiri terpaku di ambang pintu. Matanya menatap tidak berkedip. Tubuhnya gemetar.
"Ais..." Suaranya tercekat. "Sayang..."
Sadewa melangkah perlahan, seperti takut akan menghancurkan keheningan. Seperti masih berharap ini semua hanya mimpi buruk yang sebentar lagi akan runtuh.
Tangannya terulur. Dia menyentuh jari Sera yang dingin. Terlalu dingin.
"Kamu tidur ya...?" Suaranya parau, tenggorokannya tercekat. "Aku udah dateng ini. Maaf telat... tapi aku di sini. Bangun yuk?"
Tak ada jawaban. Hanya kesunyian.
Sadewa berlutut di sisi ranjang itu, tubuhnya membungkuk, satu tangan menggenggam jemari Sera yang dingin, tangan satunya menutup mulutnya, berusaha membendung isak yang mulai naik ke tenggorokan.
Tapi gagal.
Tangis itu pecah perlahan. Diam-diam. Dalam-dalam. Tanpa suara, tapi menyayat seperti pisau yang terus menusuk di dada.
Wajah Sera...
Wajah yang selalu penuh hidup, kini terasa asing.
Pucat. Kaku. Diam. Seolah seluruh warna telah direnggut dari dirinya.
Sadewa mengusap pipinya yang tergores dengan ujung jari gemetar. "Kenapa kamu diem aja, sayang...?" Bisiknya lirih. "Bangun dong. Udahan bercandanya. Gak lagi..."
Suaranya retak. Tertahan di tenggorokan.
Matanya terus menatap wajah lelaki yang dia cintai— mencari sedikit gerakan. Sedikit napas. Sedikit bukti bahwa ini semua hanya mimpi buruk.
Tapi tubuh itu tetap diam.
Tangannya menggenggam jemari Sera lebih erat, mencium punggung tangannya yang dingin dengan bibir bergetar. Bahunya mulai berguncang hebat. Isaknya kini tidak lagi bisa ia tahan. Air matanya jatuh tanpa henti ke tangan Sera.
"Jahat kamu, dek..."
Sadewa menyandarkan kepalanya di perut Sera yang tertutup kain. Menggenggam tubuh tidak bernyawa itu seolah masih bisa mendengar.
"Maaf, Ais..."
Tangisnya makin dalam, tidak terkendali. Tangisan kehilangan. Tangisan seorang pria yang baru saja kehilangan rumahnya, dunianya, hal paling berharga dalam hidupnya.
🪷🪷🪷
Langit kelabu di atas pemakaman itu tampak seperti cerminan perasaannya— berat, kosong, dan penuh luka yang tidak terlihat.
Sadewa berdiri di sana, tubuhnya kaku dan hatinya berantakan. Dia menatap sebuah sebuah gundukan tanah yang masih basah dan terbalut bunga putih di depannya. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa dingin yang kini mengisi hatinya.
Mata Sadewa memandang nisan itu.
Daniel Casera Kalais
24.06.20XX — 07.05.20XX
Nama itu, nama lelaki yang pernah dia janjikan untuk dijaga seumur hidup, kini hanya tinggal ukiran di atas batu. Tidak ada lagi suara lembutnya yang memanggil, tidak ada lagi senyuman kecil yang selalu menghangatkan rumah mereka.
Semua itu lenyap dalam sekejap, meninggalkan kehampaan yang tidak tertahankan.
Dia memejamkan mata, tapi malah terjebak dalam bayangan terakhir hari itu. Suara rem mobil, klakson yang nyaring, dan darah. Begitu banyak darah. Dia tidak bisa melupakannya, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.
"Maaf, Ais sayang..."
Suaranya pecah. Air matanya mengalir, membasahi wajah yang sudah tampak lusuh.
Tangannya yang gemetar meremas mawar putih terakhir di genggamannya hingga duri-durinya melukai telapak tangannya. Tapi dia tidak peduli. Luka fisik itu tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit yang mencekik dada.
Sadewa berlutut di depan makam itu, tidak peduli lumpur yang mengotori celana dan tangannya. "Maaf..." ucapnya lagi dan lagi, seolah kata itu bisa membawa kembali apa yang telah hilang.
Tapi yang ada hanyalah keheningan. Bahkan angin pun seperti berhenti bertiup, seolah-olah alam turut berduka.
Dia mengingat senyuman terakhir Sera hari itu ketika mereka bercanda di mobil— senyum yang kini menjadi kenangan paling berharga sekaligus menyakitkan. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada firasat. Dia hanya pergi seperti hari-hari biasa, dan tidak pernah kembali.
"Jahat," bisiknya, suaranya parau. "Padahal kamu udah janji mau temenin aku sampe tua."
Hatinya terasa hancur berkeping-keping dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sadewa merasa benar-benar sendirian. Rumah mereka kini hanyalah tempat sunyi tanpa tawa suaminya. Kasur itu terlalu luas untuknya tidur sendiri.
Namun yang paling menyakitkan adalah tau bahwa tidak ada apa pun yang bisa dia lakukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi.
Dia merosot ke tanah, mencium nisan itu dengan bibir gemetar. Hujan mulai turun, tapi dia tidak bergerak. Tidak peduli. Air matanya kini bercampur dengan rinai hujan, menyatu dengan bumi.
Di antara isakan, hanya satu kalimat yang terus dia ulangi; "maaf... maafin aku gak bisa nyelamatin kamu malem itu. Aku minta maaf, Ais sayang."
Hujan semakin deras, seolah langit pun ikut menangis bersamanya. Tubuh Sadewa kini terkulai lemah, tidak lagi peduli pada dinginnya tanah yang mengotori pakaiannya. Dia hanya ingin waktu berhenti, mengunci dirinya di tempat ini, di sisi makam suaminya.
Sebuah suara samar bergema dalam pikirannya—suara manja Sera yang selalu menjadi favoritnya, suara yang kini tinggal kenangan. "Life goes on, kak Dewa," seolah suara itu berkata, meski dia tau itu hanya ilusinya.
Namun, bagaimana caranya hidup terus berjalan tanpa Sera di sisinya? Tanpa alasan untuk bangun, tanpa alasan untuk pulang? Hatinya berteriak, tapi tidak ada yang mendengar.
🪷🪷🪷
KAMU SEDANG MEMBACA
cliché
Fiksi Penggemar[sunsun] tentang sera yang tiba-tiba dilamar sama tetangga yang sekaligus merangkap sebagai teman kecilnya. emang takdir kadang selucu itu. • bxb. boyslove. homo. jomok. BACA TAGS PLEASE. • slight heejake & jaywon. • (kinda) slowburn. • dldr.
