34

2.3K 168 25
                                        

"Anakku... kok bisa begini kamu, sayang?"

Mami Jane menatap prihatin penampilan si bungsu sekarang. Wajah Sera dia tangkup dengan hati-hati dan matanya menelisik setiap jengkal wajah bungsunya yang terdapat luka lecet di bagian pipi dan rahang.

Karena urusan pekerjaan di luar negeri, mami Jane baru bisa pulang tiga hari setelah mendapat kabar kalau Sera kecelakaan motor. Jangan tanya gimana keadaannya. Panik? Jelas. Tapi daripada panik, dia lebih merasa kesal karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

"Masih sakit gak ini?" Ibu jarinya meraba sekitar luka lecet di rahang Sera.

Sera menggeleng. "Udah enggak."

"Sedih mami liat dedek luka-luka gini..."

"Yang penting kan masih hidup, mi."

Mami Jane berdecak. Rasa sedihnya mendadak hilang. "Ah kamu mah!"

"Lah kan bener..."

"Wa," mami menoleh ke Sadewa yang sedang membereskan piring-piring bekas makan Sera tadi. Sera itu baru saja menyelesaikan makan siangnya, omong-omong. "Ini dedek udah bisa nginget yang kemarin-kemarin belum?"

"Udah dikit-dikit, mi, tapi masih ada yang lupa. Kalo dipaksain suka pusing dia." Jawab Sadewa.

"Coba kamu tes." Suruh mami Jane.

Sadewa beralih duduk di ranjang yang Sera tempati, bersebelahan dengan mami Jane. Dia menatap wajah Sera yang masih pucat lamat-lamat. "Kamu inget gak peringatan yang aku kasih sebelum aku izinin main sama Juna?"

Sera terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Janji apa?"

"Tuh, masih belum pulih total, mih." Kata Sadewa ke mami Jane.

Mami Jane menoleh ke Sera. "Kalo nama mami inget kan?"

Sera mendengus. "Menurut mami aja." Sesaat kemudian dia menepuk paha Sadewa, seperti baru teringat sesuatu. "Oh iya kak, berarti kita gak jadi honeymoon ya?"

Sadewa menoleh ke mami Jane. "Kalo ingatannya udah balik nanti dia bilang sendiri, kayak gini contohnya." Lalu menoleh ke Sera lagi. "Kamu inget kita mau honeymoon?"

"Inget... ke Swiss bukan?"

"Iya ke Swiss," balas Sadewa. "Ditunda ya, nunggu kamu sehat dulu."

Sera cemberut. "Padahal aku pengen main salju."

"Nanti suruh papi bikin salju di belakang rumah." Kata mami Jane.

"Emang bisa?"

"Apa yang gak bisa buat bungsu kesayangan."

Oh iya, papi Gara sedang tidak bisa hadir karena masih ada urusan pekerjaan di luar negeri, tapi tenang saja dia rutin kok video call Sera setiap malam saat dia sudah senggang.

Bip bip bip.

"Duh, siapa sih." Dumal mami Jane sambil mencari-cari hapenya yang berdering di dalam tas. Setelah melihat nama si penelepon, mami Jane langsung berdecak malas. "Mami keluar bentar ya ada telefon dari temen."

"Paling juga masalah kerjaan." Kata Sera sambil memperhatikan mami yang berjalan keluar pintu.

Sadewa terkekeh. "Ais mau ngapain abis ini? Nonton?"

Sera menggeleng. "Tidur aja."

"Tidur lagi?"

"Hmm, ac disini adem banget bikin ngantuk terus."

"Yaudah, ayo tidur."

"Temenin, kak."

"Iyaaa."

Posisi mereka sekarang sudah berganti menjadi saling berpelukan di atas ranjang rumah sakit. Satu lengan Sadewa menjadi bantalan kepala Sera dan tangan lainnya memeluk pinggang lelaki itu.

clichéTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang