aku tau apa yang terjadi padanya
Renzu menatap Mona, sekilas rasa tidak suka terpatri dalam tatapannya
Mona tertawa kering "tenanglah ini bukan ulahku, aku sudah lama meninggalkan neraka" ujarnya
Renzu hanya mengangguk menanggapi "lalu apa yang terjadi padanya?"
"Itu adalah hantu ketakutan" ungakp Mona
Renzu menyernyit bingung, "yah kau pasti belum mengetahuinya karena hantu itu tidak tergolong pada peringkat petinggi hantu namun setelah kepergian ku dia lah yang mengisi kursi kosong" jelas Mona
Renzu mengangguk "lalu bagaimana cara kita mengeluarkannya?"
Mona tapak sedikit ragu "aku kurang yakin dengan ini namu hanya satu cara yang aku tau" Mona berjalan mengelilingi tubuh arkano yang meronta "menghilangkan rasa takutnya" lanjutnya
Renzu tampak bingung "apa yang membuat dia ketakutan?"
Mona kembali berpikir "jika tebakanku tidak salah ia pernah berkata jika kalian telah membuangnya dan lebih memperhatikan anak baru, bukankah itu benar?" tanya Mona
Renzu tampak ragu untuk menjawab namun ia mengangguk "yah, ada satu dan dua alasan kami melakukan hal itu" jujurnya
"Maka itu lah ketakutannya" ucap Mona "jika kalian memiliki sesuatu dan tidak bisa memperhatikannya maka kalian harus memberikannya teman agar ia tidak takut sendirian" jelasnya
Renzu ragu namun melihat tatapan kosong Arkano membuyarkan keraguannya, tatapan itu mengingatkannya pada tatapan yang sama ribuan tahun yang lalu
Tanpa ia sadari setetes air mata lolos dari pelupuk matanya namun dengan cepat ia menghapusnya dengan kasar, Tenaglah sebelum waktunya tiba ia masih belum bisa dinyatakan asli-- batinnya
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Ucap Renzu
Mereka terdiam, Dion dan Azrial menghampiri mereka "apa yang kau pikirkan?" tanya Dion lalu melirik Mona "siapa dia?"
Renzu menatap kedatangan Dion dan Azrial namun tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya, sedangkan Mona sudah memelotokan matanya "kau melupakanku?" ucapnya tak percaya
Dion menyernyit bingung "siapa?" lalu ia teringat sesuatu "ah... kau? Kenapa kau ada di sini?" Ekspresi nya yang kebingungan langsung berubah menjadi kesal saat melihat Mona
"Heh gagak tua apa hak mu untuk melaraku ada di sini?" Mona tersulut emosi
Dion hendak membalas namun niatnya terhenti saat sebuah bentakan terdengar "apa kalian bisa berhenti berkelahi?"
Dion menoleh ke arah Renzu yang terlihat bisa saja membuatnya bingung, "dasar bodoh" upat suara itu
Dion terkejut saat melihat jika suara itu berasal dari arkano, matanya masih bersinar berwarna kuning dengan aura hitam pekat di sekelilingnya "apa yang kalian lakukan lebih baik lepasakan aku segera" ujarnya
Dion menelan ludahnya melihat tatapan sangar dari arkano, "tenang lah, dia saja tidak banyak mengeluh" Mona berbicara sambil menatap Gabriel yang masih berusaha mati-matian untuk lepas dari belitan tanaman berduri
"Ah aku lupa dengan yang satu itu" Azrial mendesah pelan lalu menarik Dion untuk ikut bersamanya menghampiri Gabriel, "kenapa kau menariku?" Dion meronta namun cengkraman seekor rubah tidak dapat terlepas begitu saja
"Aku tidak ingin di marahi sendirian" ungkap Azrial "lebih baik bersama dibandingkan sendirian bukan?" lanjutnya, Dion berdecak sebal
Sebuah timpukan mendarat di kepala Dion membuatnya mengaduh kesakitan "itu sakit"
Mengabaikan perdebatan kedua makhluk setengah hewan itu, Renzu dan Mona lebih memilih untuk fokus dengan pikirannya untuk mencari cara agar bisa menghilangkan ketakutan Arkano
Arkano yang tadinya sibuk memberontak kini diam dengan tenang, ia menatap Renzu dengan senyuman yang mematikan
"Menurutmu siapa gadis itu?" tanya arkano, mayatnya permainan itu belum selesai
Renzu melirik Mona satu-satunya gadis yang ada di sini, namun mendengar nada bicaranya Renzu mengurungkan diri untuk menjawab
"Siapa yang kau pilih?" Renzu melemparkan pertanyaan untuk membalas pertanyaan
Arkano tersenyum lebar "kelinci yang kini tengah tertidur di kamarku" ujarnya
Renzu menatap bingung "siapa yang kau maksud?"
Sebelum Arkano menjawab, Mona dengan cepat menghentikannya "berhenti berbasa-basi" ia menatap Arkano "kau tidak ingin di asingkan bukan? Kau takut jika anak baru itu membuatmu di usir jadi secara mandiri kau kabur dari rumah sakit"
Arkano terdiam, senyuman nya kini menghilang menjadi raut wajah sedih lalu secara perlahan mengangguk
Renzu langsung memeluknya, Arkano berusaha memberontak namun rasa aman menyelimutinya, perlahan aura hitam menghilang dari tubuh arakno
"Kau berhasil" ucap Mona saat melihat sedikit demi sedikit aura hitam itu menghilang tertiup angin
Di sisi lain Azrial yang dengan sisa tenaganya berusaha untuk membebaskan tanaman berduri itu dari tubuh Gabriel, walaupun tangannya harus tercabik-cabik oleh duri yang tajam
"Berhenti lah berusaha, kau mungkin akan menghancurkan tanganmu sendiri" Dion menegurnya
Namun arakno tetap berusaha membebaskan Gabriel sampai akhirnya dengan sendirinya tanaman itu mulai melepaskan Gabriel dan kembali ke dalam tanah
Azrial mendesah lelah dan secara bersamaan jatuh pingsan karena kehabisan tenaga untungnya Gabriel dengan sigap menangkap tubuhnya
Sedangkan Arkano ia kini mulai tenang, dengan dorongan kecil ia mendorong tubuh Renzu, Renzu melepaskan pelukannya "sudah membaik" tanyanya
Arkano mengangguk, "kalo begitu ayo kita pulang" usulnya namun arkano menggeleng tidak mau
"Kenapa?" Renzu kebingungan
"Alasanku masih sama, dan tentunya kalian akan fokus kepada kelinci kalian" ungkapnya lalu berjalan menuju Mona "ayo kita pergi"
Namun Renzu mencegah mereka "kau harus kembali, di luar sana tidak lah aman" cegahnya
"Itu lebih baik dibandingkan terkurung sendirian" kesal arkano
Renzu menghela nafas gusar "kau harus ikut bersama kami"
Arkano melirik Mona yang tampak kelelahan membuatnya tidak tega, dengan berat hati ia mengangguk setuju "namun dengan satu syarat" ucapnya
Renzu mengakat satu halisnya "apa itu?"
"Dia ikut dan tinggal bersama kita" Renzu terkejut dengan perkataan Arkano, bahkan Mona tidak terpikirkan demikian
Renzu mengangguk setuju "baiklah dia bisa ikut namun ia akan tinggal di kamar tamu" finalnya
"Itu lebih baik"
Mereka pun kembali ke mansion, saat sudah sampai arkano mengantarkan Mona ke kamarnya lalu kemudian ia pergi ke kamarnya
Saat di depan kamar perasaan aneh menerpanya dengan cepat ia membuka pintu namun pintunya terkunci, arkano mengetuk pintu
Tidak lama seseorang keluar dari kamarnya, dia adalah Lion, dengan ekspresi marah arkano menegur lion
"Apa-apaan yang kau lakukan ini?" Bentaknya "apa kau tidak tahu jika kamar ini memiliki penghuninya?" Lanjutnya
Dengan wajah tak berdosa lion merengut "maaf" cicitnya, ekspresi sedih yang membuat arkano ingin muntah di saat itu juga "lion minta maaf, habisnya kamar yang tersisa ada di ujung dan aku tidak suka itu" ungkapnya
"Apa? Tidak suka? Seharusnya kau bersyukur karena Renzu mau memberikanmu kamar di lantai atas" ungkap arkano
Renzu datang dan di saat itu lion memulai aksinya "kakak lihat arkano membentakku karena aku meminjam kamarnya saat dia tidak ada" adunya sambil bergelayut di tangan Renzu, Renzu terdiam melirik singkat ke arah arkano
"Cih" decih arkano "jadi kau suka bermain baiklah aku temani" gumamnya lalu berjalan ke lantai satu dan memilih tidur di ruang tamu

KAMU SEDANG MEMBACA
5 Legenda [END]
FantasySebuah kisah yang menceritakan seorang remaja, Arkano yang tanpa ia ketahui merupakan reinkarnasi dari sang dewa bunga, Dy'Methar Kehidupan yang cukup menyedihkan menimpanya saat hampir menginjak usia 17 tahun, kehilangan kedua orangtuanya dan berak...