Semenjak kedatangan Lion posisi Arkano semakin lama semakin hilang nyatanya baru satu hari lion tinggal dan ia harus duduk di rumah sakit sendirian tanpa adanya siapapun di sekitarnya
Arkano menatap tangannya yang tersemat jarum infus, tatapan itu cukup dalam dan lama, terlintas sebuah pikiran untuk mencabutnya dan lari dari rumah sakit sebelum ada yang datang atau menusuknya lebih dalam agar ia kesakitan
Namun semua pikiran itu teralihkan saat ia merasa ada sesuatu yang aneh di sekitarnya, ia menatap sekitar mencermati di setiap sudut namun tidak ada apapun yang aneh
Sampai tatapannya tertuju pada satu tangkai bunga yang tergeletak di meja di sampingnya, Arkano meraih bunga itu dan muncul tiga cahaya kecil yang berterbangan
"Ano Ano Ano" suara itu berasal dari peri kecil
Arkano mengerutkan keningnya "ada apa?"
"Sesuatu terjadi sesuatu akan segera terjadi!!!" Panik tiga peri itu
Arkano mendapti firasat buruk menerpanya dengan cepat meraih ponselnya dan menelpon seseorang
Telpon pertama tidak di angkat lalu ia mengganti nomor yang lain dan untungnya seseorang mengangkatnya
"Azrial!!" Ucap arkano setelah panggilannya terhubung
"Ada apa?" Azrialm menanggapi
"Apakah ada seseorang yang menerobos kamaraku?" Tanya arkano
Tidak ada sautan dari sebarng membuat arkano kebingungan "azrial?"
"Tidak ada, lagi pula itu hanya sebuah kamar kenapa kau sangat khawatir?" Nada yang monton terdengar
Azrial tersenyum kaku "yah kau benar" ucap Arkano sendu lalu mematikan panggilan itu secara sepihak dan menonaktifkannya
"Ini melelahkan!! Dulu mereka bersikeras mengurungku dan sekarang setelah aku tidak bisa melakukan segalanya sendiri mereka membuangku" kesalnya, tatapan beralih ke jendela menatap langit biru yang indah
"Tidak ada alasan lain untuk tinggal bukan?" Ungkapnya pada tiga peri
Tiga peri itu tampak menggeleng tidak setuju, Arkano tersenyum pasi "haruskah aku bertahan?" Tanyanya
Tiga peri itu mengangguk setuju, Arkano tersenyum lalu mengelus kelopak bunga itu "terimakasih telah berkunjung" ucapnya
Lalu secara perlahan setangkai bunga itu terbakar dan berubah menjadi butiran debu sebelum akhirnya terbang teriup angin yang di hasilkan oleh Arkano sendiri
"Dewa bunga" gumamnya tanpa sadar, kembali menatap langit biru
Pada malam harinya, saat Arkano tengah tertidur pulas ruangan yang di tempati oleh Arkano mulai terselimuti kambut hitam tebal, menciptakan sebuah belenggu yang memisahkan antara ruang dan waktu
Arkano terbangun saat merasakan udara dingin menerpanya yang secara nyata ia tengah menggunakan selimut yang tebal
Saat ia membuka mata sesosok mahkluk besar muncul didepannya, Arkano terkejut namun ia tidak takut, itu ada hantu ketakutan yang akan memakan setiap ketakutan manusia yang akan membuatnya semakin besar dan besar
"Akirnya akhirnya" suara serak dan parau terdengar berasal dari hantu didepannya
Arkano hanya diam memperhatikan hantu besar itu, "akhirnya akhirnya aku menemukanmu" makhluk itu kembali berbicara
"Wahai dewa bunga" tiga kata yang mampu membuat tubuh arkano menegang
"Apa yang kau maksud?" Arkano bersuara sedikit lebih kecil ke arah sang hantu
"Dewa bunga. Dewa bunga, Dewi hujan telah lama menanggis, kembalilah kembalilah" suaranya semakin besar dan besar "sebelum ia marah" kalimat terakhir lebih lembut namun penuh penekanan
Lalu dengan cepat makhluk itu meloncat ke arah arkano, membuat dirinya terkejut dan terbangun dari mimpinya
Arkano melihat sekitar dan di sana ia mengetahui jika ini sudah berganti hari namun tidak ada satupun orang yang datang menjemputnya
Lagi-lagi hal yang ia lakukan setelah bangun adalah menatap tangannya yang tersemat jarum infus lalu menghela nafas panjang, dengan cepat ia mencabutnya
Darah keluar dari tangannya namun itu tidak membuatnya kesakitan, dengan perlahan bangkit dan berjalan keluar dari ruangan, Arkano menyusuri setiap lorong, keadaan di sana masih sepi karena baru jam 5 pagi
Arkano terus berjalan sampai akhirnya ia menemukan pintu keluar, di sana ada seorang satpam yang berjaga, Arkano diam sejenak memikirkan cara terbaik untuk pergi
Ia menoleh kesana kemari sampai pandangannya tertuju pada sebuah pensil yang berada di kursi penunggu, Arkano mengambilnya lalu mencari tempat bersembunyi setelah merasa aman dengan sekuat tenaga melempar pensil itu ke arah berlawanan darinya
Pensil itu terbang cukup jauh dan menimbulkan bunyi Tuk tuk yang nyaring, sang satpam melirik dan dengan cepat pergi untuk mengecek, hal itu membuka kesempatan untuk Arkano
Ia dengan cepat berlari pergi meninggalkan rumah sakit walaupun ia tau jika ia terrekam cctv namun ia tetap pergi dari rumah sakit yang membosankan itu
Setelah cukup jauh dari rumah sakit ia akhirnya berjalan dengan santai, Arkano bersiul kecil mengutarakan rasa bahagianya, burung berkicau di atasnya menemani perjalanan tanpa tujuan yang dilakukan oleh arkano
Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya walaupun ia masih menggunakan pakaian rumah sakit namun dei kelancaran proses kaburnya ia memilih untuk mencari baju bekas yang berserakan di tempat pembuangan yang tidak jauh dari tempatnya berjalan
Tidak ada makhluk di tempat itu jadi dengan nyaman Arkano mulai mengitari tempat pembuangan sampah itu, dari hasil menjelajahinya ia menemukan sebuah mantel yang masih layak di pakai
Menggunakan mantel itu dan juga mengotori beberapa bagian wajah dan tubuhnya dan mulai penyamaran sebagai pengemis kumuh itu lebih baik
"Yah ini lebih baik" ucapnya lalu berjalan dengan riang keluar dari tempat pembuangan sampah

KAMU SEDANG MEMBACA
5 Legenda [END]
FantasíaSebuah kisah yang menceritakan seorang remaja, Arkano yang tanpa ia ketahui merupakan reinkarnasi dari sang dewa bunga, Dy'Methar Kehidupan yang cukup menyedihkan menimpanya saat hampir menginjak usia 17 tahun, kehilangan kedua orangtuanya dan berak...