Suasana yang tenang dan damai, cahaya hangat dari sang Surya menyinari separuh dari kamar Arkano
Samar-samar riuh mulai terdengar, daun-daun bergoyang tanpa di tiup oleh angin, tiga peri terbangun dari dalam kuncup bunga yang mekar
Mereka berterbangan kesana kemari dengan gumaman kecil, suara-suara itu sangat berisik bahkan dapat membangun lembu yang sedari tadi tertidur lelap di kasurnya
"Ada apa ini?" Arakno bergumam sambil menguap kecil "haruskah aku memangkas semua rumah (tanaman) kalian di dalam kamar ini agar kalian tidak mengganggu waktu tidur ku?" kesalnya
Salah satu peri itu terbang ke arah Arkano untuk menyampaikan sesuatu, Arakno terkejut
"APA?!!" seketika ia bangkit dan berjalan pergi meninggalkan kamarnya tanpa berganti pakaian
Masih dengan pakaian tidur yang melekat di tubuhnya, Arkano berjalan cepat menuju perpustakaan, wajahnya terlihat gelisah bahkan ia sempat menyenggol beberapa barang saat dalam perjalanan ke perpustakaan
Pintu perpustakaan ia buka dengan kasar membuat Azrial, kucing penjaga perpustakaan itu terlonjak kaget dengan suara bantingan pintu yang nyaring
"Kenapa?" tanya Azrial, wajahnya terlihat kebingungan sekaligus terkejut saat melihat Arkano "ada apa?" tanyanya lagi
Arkano tidak menggubris, ia melangkah menuju rak paling belakang dan mencari sebuah buku di sana, Azrial tidak tinggal diam ia mengekor di belakang Arkano untuk menyaksikan apa yang sedang di lakukan pemuda itu
Dion terbang masuk ke dalam perpustakaan dari arah jendela dan mendarat di atas punggung kucing Azrial
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Dion
Azrial menggoyang tubuhnya agar burung gagak itu turun dari tubuhnya yang gempal itu "mana ku tau" jawabnya acuh
Dion berbuah menjadi manusia lalu mengangkat tubuh gempal Azrial dalam pelukannya, ia mengelus bulu lembut Azrial sambil berjalan menghampiri Arakno
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya setelah berada di samping Arkano
Arkano menoleh "bantu aku menemukan buku bulan biruku" ucapnya lalu kembali memilah-milah buku di atas rak
Dion mengangguk, Azrial melompat turun dan setrika tubuhnya berubah menjadi manusia
"Aku tau tempatnya" ucapnya lalu berjalan menuju pojok paling gelap di perpustakaan itu
tangannya dengan lihai memilah-milah beberapa buku tebal di sana dan mengambil satu di antaranya "ini" ucapnya sambil menyodorkan buku tua itu kepada arkano
arkano menerimanya sambil mengerutkan keningnya "kau menyembunyikannya?" tanyanya
azrial menggelang "tidak, aku hanya menyimpannya sesuai kategori, rak ini adalah kumpulan buku yang sangat penting jadi aku menyimpan buku itu di sini" jelasnya
arkano mengangguk-anggukan kepalanya lalu ia berjalan menuju meja dan mulai membuka buku tua itu
"apa yang akan kau lakukan dengan buku itu?" dion duduk di sampingnya di susul Azrial yang berbuah menjadi seekor kucing untuk tidur di pangkuan dion
"hanya memastikan satu hal" jawab arkano tanpa menoleh
dion mengerutkan keningnya "satu hal? apa itu buruk?"
arkano tidak menjawab ia masih fokus membalik halaman-halaman kertas tua itu
"dia akan datang?"
kata-kata itu membuat aktifitas arkano terhenti "kau membaca buku ini?"
azrial hanya menguap sambil meregangkan tubuhnya di atas pangkuan dion sedangkan dion menatapa keduanya secara bergantian dengan tatapan bingung
arkano masih menatap tak percaya pada azrial membuat azrial kembali berbicara "mungkin ini lancang tapi aku telah membaca semuanya, maaf Ano tapi kamu harus menjelaskan semuanya sekarang" Azrial menatap tajam ke arah Arakno
Arkano menghela nafasnya "kau telah membacanya lalu apa yang harus aku jelaskan? Lagipula tidak semua ingatanku telah kembali utuh, ini masih merupakan hal mengejutkan bagiku" timpalnya
Azrial mengibaskan ekornya "jadi kau masih menyangkal semuanya?" ia melompat ke atas meja lalu berjalan memutar dan berkahir duduk di hadapan Arkano "kau tidak bisa terus menyembunyikan hal ini dari kami Ano"
"Hey, sebenernya apa yang sedang kalian bicarakan?" Dion menyela, ia masih belum mengerti apa yang sedang keduanya bicarakan tapi ia tau jelas jika hal yang mereka bicarakan bukan lah hal sepele "apa yang Ano sembunyikan dari kita?" Lanjutnya
"Diam lah, kau akan tau setelah Ano menjelaskannya" timpal Azrial
Saat Arakno hendak berbicara tiba-tiba langit menjadi gelap dan angin berhembus kencang
Azrial melirik ke arah jendela yang menunjukkan suasana yang mencekam "sial dia telah datang" umpatnya begitu juga dengan Arkano yang terlihat sangat tegang
"Kita bicarakan nanti, aku harus mengatasi ini terlebih dahulu" ucapnya lalu berlari pergi
Dion bangkit "hey, sebaiknya kau berganti pakaian terlebih dahulu!!" terikanya
Azrial menjilati cakar-cakarannya "dia selalu teledor" celetuknya
"Ya kau benar" sahut Dion
Azrial melirik ke arah Dion "dan kau adalah makhluk terbodoh" sarkasnya
Dion menatapnya "kau tega sekali" ucapnya dramatis
...
Arkano berlari keluar dari mansion dengan tergesa-gesa "sial, kenapa dia harus datang sekarang?" umpatnya
Di halam yang luas, angin kencang mengguncang sebagian dari pohon-pohon yang berjejer rapi. Langit gelap dan udara dingin bukanlah hal yang bagus untuk di katakan
Arkano menatap langit, tatapan tajam dan umpatan kecil meluncur dari bibirnya
Di depannya sebuah portal gelap muncul, angin tersedot bahkan membawa beberapa dedaunan. Di dalam sana jeritan kecil muncul memekakkan telinga, aura gelap mulai merembes keluar
Secara perlahan sosok lelaki jangkung dengan jubah hitam melekat ditubuhnya keluar dari portal itu
Arakno menatapnya tajam, setelah melihat sosok itu sepenuhnya keluar dari Portal dan portal itu pun perlahan-lahan mulai menghilang
Arkano menarik ujung bibirnya "selamat datang yang mulia" ia membungkuk sedikit sambil menatap sosok itu tajam "apa kah ada sesuatu yang membuat anda datang kesini?" tanyanya
Sosok itu membuka tudung jumlahnya yang menutupi seluruh wajahnya menampilkan wajah tampan tanpa eksepsi
"Mikhael" desis Arkano
"Lama tak bertemu" sapa sosok yang di panggil Mikahel itu, sayap hitamnya membentang lebar menghembuskan angin kencang yang cukup kuat
Arkano terkekeh "untuk apa kau kemari?"
Mikahel tidak menjawab, ia mengamati mansion besar yang berdiri megah di belakang Arkano dengan sangat rinci "jadi kau masih tinggal di tempat ini setelah reinkarnasimu yang ke 10 ini?"
"Ya kau jelas melihatnya" balas Arkano
"Sangat di sayangkan" ucap Mikahel terlihat sendu "kau telah memilih jalan yang salah" lanjutnya
"Salah?" Arkano tertawa "yang mulia, kau bercanda" ia menatap tajam Mikahel "jika kau tidak memiliki keperluan penting lebih baik pergi dari tempat ini, di sini bukanlah tempatmu!!" desisnya
"Kau benar, tapi aku masih memiliki hal penting di sini" balas Mikahel angkuh
Mikhael mengakat tangannya lalu sebuah sabit terbentuk di tangannya, ia menghentakkan sabit itu lalu menatap ke arah mansion di balkang arkano
Arkano mengerti ia dengan cepat mengeluarkan auranya "jangan macam-macam"
.

KAMU SEDANG MEMBACA
5 Legenda [END]
FantasiaSebuah kisah yang menceritakan seorang remaja, Arkano yang tanpa ia ketahui merupakan reinkarnasi dari sang dewa bunga, Dy'Methar Kehidupan yang cukup menyedihkan menimpanya saat hampir menginjak usia 17 tahun, kehilangan kedua orangtuanya dan berak...