Tiba di pelabuhan tiga hari setelahnya, dari sana kami harus menumpang bus menuju desa. Kapal merapat ke dermaga pukul sebelas malam, sepanjang perjalanan dengan bus selama empat jam aku yang sudah kehabisan energi berusaha tidur. Namun, jalanan yang berbatu membuat kendaraan kami bergoyang-goyang tidak nyaman. Alhasil, aku tak dapat lelap.
Menatap ke luar jendela, remang di mana-mana. Namun, mataku masih bisa melihat pohon-pohon besar dan rumput tinggi atau lahan kosong yang mengisi kiri dan kanan jalan. Saat itu aku sadar kalau tempat ini sudah terlalu jauh dari rumah.
Tidak ada kendaraan roda dua atau empat yang biasanya masih berlalu lalang di depan rumah, bahkan di pukul dua belas malam. Tak ada suara tetangga bicara, tidak ada suara pengeras suara alias speaker wireless yang biasa dipasang tetangga saat sedang karoke. Di sini suara jangkriklah yang menguasai.
Empat jam kulalui dengan kantuk, cemas dan takut. Terlebih saat supir memadamkan lampu di dalam bus. Dengar punya dengar dari anggota relawan yang sudah ikut survei, lampu sengaja dimatikan karena takut ada sekelompok orang yang akan menghentikan bus dan melalukan tindak kejahatan.
Kutilik lagi niat di hati. Sungguh aku akan melanjutkan ini? Di tempat jauh ini? Demi apa? Memang aku punya apa yang bisa diberikan pada warga desa ini? Bang Yugi jelas dia dokter. Pelayanan kesehatan gratis ia berikan, masuk akal. Kak Fani? Dia dengan latar belakangnya yang merupakan pengusaha, seperti katanya, pakaian, obat, makanan, camilan dan buku adalah pemberian darinya.
Aku bisa memberikan apa? Apa yang mau aku cari sampai pergi sejauh ini? Berbagi? Apa hatiku setulus itu? Lantas, kenapa aku mengeluh?
Pukul tiga pagi kami tiba di rumah kepala desa. Wajahku yang entah bentuknya bagaimana langsung dihiasi raut terkejut kala menemukan ada lebih dari sepuluh orang yang menyambut kami. Mereka terlihat .... antusias?
“Maaf karena jalan di sini jelek, Pak Dokter.” Kepala tersenyum sangat tulus pada bang Yugi.
“Nggak masalah, Pak. Terima kasih sudah disambut.”
Tak lama setelahnya kami dibagi ke beberapa rumah. Perasaanku campur aduk saat menaiki tangga rumah yang akan menjadi tempatku tinggal selama beberapa hari. Cemas dan gelisah makin tebal, tetapi ada semangat yang menyelip.
“Oke, jadi gue akan jadi ketua divisi pendidikan, ya. Kalau ada yang lupa, nama gue Dian.”
Aku melihat seorang perempuan berkerudung bicara di depan kami semua. Meski wajahnya lelah, tetapi sorotnya masih tegas.
“Yang tinggal bareng di sini kurang lebih ada dua puluh orang. Anak divisi kesehatan dan lingkungan ada juga yang di sini,” jelasnya hingga aku tahu mengapa bang Yugi, bang Renhard dan kak Fani ada di sini.
Kami mulai menggelar tikar. Rumah panggung ini tanpa kamar. Selesai memasang alas tidur, beberapa langsung membaringkan tubuh, sebab besok pagi kegiatan penyambutan resmi akan digelar pukul delapan.
Dengan amat terpaksa, bukan karena tidak kasihan pada kak Fani yang kelihatan sangat ingin tidur, aku membangunkan perempuan itu.
“Kak, aku mau buang air. Tolong temani,” pintaku dengan suara memelas. Entah kenapa perasaanku jadi sedih sekali. Aku merasa sangat tidak berdaya.
Biasanya, di rumah aku tak pernah minta temani siapa pun kalau ingin ke kamar mandi. Bahkan saat listrik padam di malam hari, aku berani sendirian dengan senter. Namun, kenapa sekarang aku penakut sekali?
Di depanku kak Fani tak bergerak. Agaknya dia begitu lelah. Aku mendesah berat. Kantung kemih sudah penuh, letak kamar kecil pun aku tak tahu di mana.
“Gue antar, yok, Ser?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Journey
RomanceSerin begitu mengidolakan Yugi, hingga nekat ikut dalam kegiatan sosial yang pria itu gagas, meski tanpa pengalaman. Berada jauh dari rumah, melakukan kegiatan pengabdian, bisakah Serin bertahan? Mampukah dia memetik sesuatu dari perjalanan itu?
