Bab 2

5K 244 1
                                        

Aku sungguh bersemangat. Pagi tadi Bapak sudah memberi uang, aku mulai berkemas. Sepatu kusiapkan, baju kotor sudah kucuci. Koper baru saja selesai dibersihkan. Barang-barang yang nanti harus dibawa sudah kubuat daftarnya.

Formulir pendaftaran kegiatan itu sudah di-submit, aku tinggal menunggu jadwal  pengumuman. Rasanya tak sabar, meski ada gugup dan cemas yang terselip.

Setelah menyempatkan menyapu rumah dan cuci piring, aku masuk ke kamar. Di rumah tidak ada siapa-siapa pagi ini. Adikku yang paling kecil sekolah, Ibu pergi ke rumah kerabatnya.

Bermalas-malasan di kamar adalah pilihan tepat saat rumah sepi begini. Kuambil ponsel, saatnya berselancar di media sosial. Sebenarnya, aku bukan tipe yang senang posting foto atau membuat status. Fungsi utama media sosial bagiku hanya untuk mengintip kegiatan orang-orang yang kuanggap menarik.

Melihat-lihat akun artis misalnya. Atau mencari update terbaru dari berita yang sedang panas-panasnya. Atau seperti yang sekarang. Mengintip kegiatan si mas idola melalui apa yang ia posting.

Yugi namanya. Dari foto di akun media sosialnya, perawakannya tinggi. Kulitnya putih, pokoknya dia itu cerminan laki-laki menariklah. Belum lagi pekerjaannya yang mentereng itu. Dokter.

Mula tertarik, aku kepincut pada parasnya. Jujur saja, tampilan fisiknya itu menyegarkan mata. Namun, semakin kugali informasi tentangnya, makin kagumlah aku. Terlebih setelah aku tahu kalau dia punya komunitas yang aktif melakukan kegiatan sosial.

Sempurna sekali Yugi ini, 'kan?

Ibu jariku bergerak menggulir layar. Meski sudah kulihat hampir tiap hari, rasanya tak bosan menatapi foto-fotonya yang terpajang di media sosial. Dia ini menarik sekali dari berbagai sisi. Membuat aku terkadang lepas kendali dan mengkhayalkan yang tidak boleh.

Misal, kira-kira dia ini anak ke berapa, ya? Kebanyakan foto yang ia posting adalah kegiatan sebagai dokter, kegiatan bersama teman-teman di komunitas atau aktivitas mempromosikan produk. Belum pernah kulihat ada foto di mana ia memberi keterangan soal keluarga.

Kedua, aku penasaran. Apa dia ini masih sendiri? Bisa saja, kan, dia membuat keterangan yang memberi kesan masih lajang, padahal aslinya sudah punya pawang. Namanya media sosial, tak seharusnya kita percaya semua yang terlihat begitu saja, 'kan?

Lalu, kira-kira apa makanan kesukaannya? Atau, bagaimana dia bersikap di kehidupan nyata? Apa dia laki-laki ramah yang murah senyum? Atau pria pendiam yang cuek?

Masih menatapi layar ponsel, aku mengulum senyum. Semua hal di medsos memang tak perlu semua dipercaya begitu saja. Namun, ada satu yang pasti. Aku harus bergabung dalam kegiatan relawan bersama Yugi ini.

Siapa tahu kalau bisa bekerja dalam tim yang sama, terlibat dalam salah satu kegiatan yang ada Yugi di dalamnya, aku bisa tahu lebih banyak tentang dia. Iya, 'kan? Iya, tentu saja.



***


"Paket!"

"Serin? Paket!"

Keluar dari kamar mandi aku berlari ke depan. Kubuka pintu, seorang kurir melempar senyum ramah. Wih, baik sekali orang ini sudah bagi-bagi senyum.

"Kak Serin?" tanyanya.

Aku mengangguk. Diberikan kurir itu sebuah bungkusan. Kubaca data di sana, lalu mengangguk. Itu memang barang yang kutunggu.

"Makasih, ya, Bang," kataku.

Dia mengangguk, kemudian pamit.

Aku sudah akan masuk, saat suara tetangga sebelah terdengar. "Belanja lagi, Ser?"

Melangkah kecil hingga berdiri di teras, aku menengok dengan sorot datar padanya. Hm. Aku tahu siapa orang ini.

"Enak, ya, bisa beli paket terus," komentarnya tak menunggu responku.

Mataku berkedip tak peduli.

"Serin memang enak hidupnya, ya. Apa-apa tinggal minta Bapak. Beda sama Ayu." Dia lanjut berbicara.

Ayu itu nama anaknya.

"Ayu kalau belanja harus mikir-mikir dulu. Tunggu gajian dulu. Serin tinggal minta ke bapak, ya, 'kan?"

Kali ini alisku tak bisa tidak berkerut. Aku menunggu dia melanjutkan. Namun, yang ada dia malah menghapus senyum pura-puranya, kemudian mengangkat satu sisi bibirnya ke atas. Setelahnya, dia balik badan, masuk ke rumah.

Mampus kau, seruku dalam hati. Aku berdoa, semoga dia malu karena hinaannya tak kurespon apa-apa. Dasar tetangga julid.

Benar memang aku tak seperti anaknya yang pergi bekerja tiap hari. Aku cuma di rumah, melakukan apa yang bisa kulakukan untuk mengais rupiah dari rumah. Benar juga memang kalau aku ingin beli sesuatu, aku kadang minta pada Bapak.

Tidak perlu dia ingatkan, aku tahu diriku menyedihkan. Lalu, apa tujuannya bicara seperti tadi? Awal-awal aku bertanya begitu. Namun, belakangan aku paham. Dia memang senang menghina dan mengejekku.

Ini bukan yang pertama. Sebelum ini, manusia satu itu pernah memberitahu tetangga di depan gang sana kalau aku ini tidak bekerja, hanya jadi beban orang tua. Benar dia tidak membagi berita bohong. Namun, apa gunanya, sih, dia membicarakan aib orang lain pada orang lain?

Aku tidak minta dibela olehnya. Aku tidak berharap dia paham apa yang aku alami sebelum ini, sampai akhirnya memutuskan tidak bekerja di luar. Lalu, kenapa dia bisa sesuka hati membicarakan hal-hal tentangku pada orang lain?

Manusia-manusia seperti inilah yang kadang membuatku membenci bumi. Orang-orang banyak energi macam dia tadi yang kadang membuatku berdoa supaya kiamat segera datang. Sudah tidak memberi bantuan atau keuntungan apa-apa, malah menyakiti orang.

Karena entah orang lain merasakannya atau tidak, meski berita yang dia bagi tentangku bukan fitnah, tetap saja aku sakit hati dibicarakan di belakang. Anjing memang manusia-manusia ini.

Telanjur di luar rumah, aku sekalian mengangkat jemuran. Saat akan masuk, angin kencang tiba-tiba berembus. Jemuran rumah sebelah beterbangan, lalu jatuh. Dari dalam rumah ibu-ibu tadi berlarian memunguti pakaiannya.

Di depan pintu aku tersenyum tipis. Oh, karma masih ada. Dan pembayarannya bisa kontan.



***


Pagi ini aku dapat tugas dari Ibu. Disuruh membeli sayur dan ikan. Jadi, pukul setengah tujuh aku sudah di warung.

Saat masuk, beberapa ibu-ibu langsung melirik-lirik heran. Mereka pasti bingung karena aku ada di sini. Biasanya tidak pernah.

"Loh, tumben belanja, Ser," sapa seorang ibu-ibu. Kuingat dia ini teman satu gereja.

Padanya aku mengangguk. "Disuruh," jawabku singkat sembari memilih sayur.

"Iyalah. Sering-sering, Ser. Biar terbiasa."

Kembali aku mengangguk dengan senyum kecil. Jenis manusia yang begini masih bisa aku terima. Dia menyampaikan apa yang di pikirannya secara langsung. Pun, muatannya saran, bukan hinaan atau ejekan. Karena maaf-maaf saja, aku tipe manusia yang lebih suka dikritik dengan saran daripada ejekan dan hinaan.

Memangnya, sesuatu bisa bertumbuh kalau diberi hinaan, ejekan dan cemooh?

Aku beres memilih dan sedang antri untuk membayar saat kudengar dua orang ibu membicarakan anak si tetangga yang kemarin menyindir aku suka minta uang pada bapak.

"Iya. Kemarin itu aku lihat Ayu nangis di simpang gang. Cuman karena lagi buru-buru, ya, nggak sempat tanya."

"Kenapa, ya, kira-kira? Apa berantem sama cowoknya?"

"Eh, kata ibunya Ayu itu nggak ada pacarnya. Anak baik, rajin kerja."

Aku menunduk habis mendengar itu. Aku perlu menyembunyikan senyum. Ayu tidak punya pacar? Yang benar saja.

Ayu anaknya tetangga sebelah rumah itu punya pacar. Sudah sejak SMA dia punya pacar, meski kerap berganti-ganti. Memang, ibunya Ayu kerap mengaku anaknya tidak punya pacar, hanya keluar rumah untuk bekerja. Namun, kebenarannya tidak begitu.

Dari mana aku tahu? Salah satu temanku adalah sepupu pacarnya si Ayu sekarang. Dan aku tahu adegan Ayu menangis yang dibicarakan tadi. Itu saat Ayu dan pacarnya bertengkar.

Pacarnya Ayu marah karena tak diberi uang untuk membeli rokok. Mereka cekcok, Ayu ditinggalkan di simpang gang. Sepupu pacarnya Ayu yang membagi info padaku.

"Kau, kan, tetangganya Ayu, Ser."

Suara itu membuat aku mendongak seketika. Mataku berkedip pura-pura bingung.

"Betul Ayu itu nggak mau pacar-pacaran? Ada tahumu punya pacar dia?" tanya salah satu dari dua wanita yang bergosip tadi.

Tidak menjawab, aku melipat bibir. Kasih tahu tidak, ya? Bisa geger kampung ini kalau kebenaran yang kutahu soal Ayu tersiar. Biar tahu rasa juga ibunya Ayu itu. Biar sadar diri, tak selalu melihat dan membeberkan buruknya orang lain.

Lagian, ibu ini, kan, bertanya. Kalau aku tahu yang sebenarnya, harusnya aku menjawab. Sesederhana itu, 'kan?

Namun ....

"Aku enggak tahu, Buk," jawabku pada ibu tadi. Aku bergerak untuk membayar belanjaan.

Menghentak kaki, aku melangkah pergi usai membayar belanjaan. Dongkol rasanya hati meninggalkan warung itu. Ujung-ujung bibirku berkedut menahan rasa marah.

Aku ini dicap anak pemalas. Yang bisanya menumpang hidup dan jadi beban orang tua. Jadi, tak masalah harusnya semua hal buruk itu ditambah dengan menjadi manusia anjing yang suka membicarakan urusan orang lain, ‘kan?

Ah, aku menyesal.



Dream JourneyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang